Malang, PERSPEKTIF – Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Siar UM menggelar Diskusi Nusantara (DINAR) bertajuk “Tantangan Pers Mahasiswa di Era AI” di Kedai Rupa Duta, Kota Malang, pada Selasa (10/03). Kegiatan ini menghadirkan M. Prasetyo Lanang, jurnalis Jatim Times sekaligus anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang, sebagai pemateri dan dimoderatori oleh Clarisa.
Acara dibuka dengan pembacaan Curriculum Vitae (CV) pemateri, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi yang mencakup keberadaan AI (Artificial Intelligence) menjadi tantangan baru bagi pers mahasiswa dalam menjalankan praktik jurnalistik.
Kehadiran teknologi AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi kerja redaksi sekaligus menuntut sikap skeptis dalam penggunaannya agar jurnalis tidak menerima begitu saja informasi yang dihasilkan mesin.
AI sebenarnya bukan fenomena baru, namun maraknya video buatan AI yang menyebar akhir-akhir ini patut dijadikan sorotan.
Tyo menjelaskan bahwa AI dapat mempengaruhi beberapa kinerja pers. Salah satunya fenomena “Jurnalisme Meja”, alias mahasiswa malas turun lapangan karena merasa AI bisa menjawab segalanya. Hal tersebut kemudian berpengaruh pada krisis double check, yaitu kepercayaan buta pada hasil generate AI tanpa memverifikasi fakta hasil. Selanjutnya kesalahan lainnya adalah menggunakan AI untuk membuat opini atau analisis yang seharusnya lahir dari diskusi redaksi dan pemikiran kritis. Maka, pr bagi seorang jurnalis untuk melakukan cross check, atau verifikasi data.
Penyalahgunaan AI seringkali menyebabkan gangguan informasi, baik itu misinformasi (informasi yang keliru, red), disinformasi (pembuatan narasi palsu), dan malinformasi (penyebaran data pribadi narasumber secara tidak etis).
Penggunaan AI dalam lingkup jurnalistik harus mengikuti panduan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Beberapa prinsip yang dijelaskan Tyo berupa tanggung jawab manusia, wartawan dan pimpinan redaksi bertanggung jawab atas informasi yang diberikan. Begitu juga kewajiban memberi tahu pembaca jika konten menggunakan bantuan AI.
“Masih banyak fungsi manusia yg tidak bisa digantikan AI,” ujar Tyo (10/03).
AI memiliki fungsi utama yang kuat dalam meringkas dan menyusun struktur sebuah tulisan, tetapi AI hanya berperan sebagai “alat”. Tanpa pengawasan manusia, AI dapat menjadi “pendongeng” yang sering menghasilkan informasi keliru. (Pa/nat)





