Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Jembatan Darurat Gladak Mudahkan Aktifitas Warga dan Mahasiswa

Bupati Lumajang hendak meresmikan Jembatan Darurat Gladak (lumajangkab.go.id)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Lumajang, PERSPEKTIF Jembatan darurat Gladak Perak yang berlokasi di Kabupaten Lumajang telah resmi beroperasi usai diresmikan pada Sabtu, 23 April 2022 lalu. Pembangunan jembatan yang menjadi jalan alternatif bagi warga sekitar sekaligus mahasiswa ini dianggap sangat membantu bagi mereka yang hendak melakukan perjalanan dari Lumajang menuju Malang. Meski begitu, sayangnya jembatan gantung yang menjadi penghubung antar daerah ini hanya bisa dilalui oleh kendaraan tertentu saja.

Jembatan Gladak Perak disebut sebagai akses terdekat bagi warga dan juga mahasiswa Lumajang menuju Malang yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua, roda tiga, serta akses darurat untuk ambulan. Sebagaimana disampaikan Amanda Bela seorang mahasiswa jurusan Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya.

“Kalau dibilang akses utama sih enggak, tapi jalan ini merupakan akses terdekat dari Lumajang ke Malang. Sebenarnya ada jalur lain, cuma di jalur Curah Kobokan itu cukup berbahaya untuk dilewati karena jalan itu bukan jalan utama (merupakan jalur dari aliran lahar semeru, red) yang dibuat jalan, sehingga cukup berbahaya apabila dilewati. Lalu ada jalur lain, yaitu lewat Ranu Pane (Bromo), tapi kalau dari daerah itu aku terlalu jauh. Lalu bisa juga lewat Probolinggo (lewat jalan Tol, red), tapi jalur itu malah lebih jauh lagi,” ujar Amanda (1/5).

Sebenarnya, sebelum jembatan darurat ini dibangun terdapat jalur alternatif lain yang biasa diakses oleh warga. Hal ini disampaikan oleh Risky Elok, mahasiswa jurusan Biologi Universitas Brawijaya yang bertempat tinggal di Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, Kabupaten Lumajang.

“Ada, kalau dari daerahku bisa lewat Alas Godeg nanti menuju Gondoruso. Bisa juga lewat jalan Curah Kobokan, tetapi dua akses ini jalannya masih agak terjal,” ujar Elok pada wawancara melalui Whatsapp (2/5).

Selanjutnya, Meisya Sabrinna, seorang warga desa Tempurejo, Kecamatan Tempursari mengatakan bahwa pembangunan jembatan darurat ini sangat membantu warga sekitar. Meski begitu, ia mengungkapkan bahwa jembatan tersebut kurang nyaman dilalui.

“Bagi saya sebagai masyarakat Lumajang yang tinggal di wilayah barat jembatan Gladak Perak sendiri, merasa sangat terbantu dengan adanya jembatan gantung darurat ini, karena dapat mempermudah akses ke kota dan ke tempat-tempat lain. Tapi sedikit susah karena jembatannya agak goyang-goyang,” ujarnya (6/5).

Terkait dengan informasi mengenai peresmian jembatan darurat ini, mereka mengaku mengetahui informasi tersebut dari aparatur desa. Hal ini disampaikan oleh Alda Laila, warga Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Pronojiwo.

“Masyarakat mengetahui adanya jembatan gantung ini dari aparat desa sekitar yang memberikan informasi kepada warga terkait dibangunkannya jembatan gantung darurat untuk akses jalan Malang ke Lumajang,” tukas Alda (6/5).

Terakhir, terkait harapan mengenai akses jalan dan juga pembangunan jembatan utama, warga dan mahasiswa berharap jembatan utama segera dibangun untuk memudahkan akses masyarakat dalam beraktifitas.”Harapan saya terkait akses ini adalah segera dibangunkannya jembatan utama. Jembatan gantung darurat memang membantu untuk keadaan saat ini, tapi saya harap pemerintah dapat segera mengalokasikan waktu untuk pembangunan jembatan utama demi kenyamanan dan keselamatan masyarakat,” ujarnya. (zni/ads)

(Visited 32 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts