Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

24 Jam dalam Semesta Gaspar

Oleh: Christanti Yosefa*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul Buku : 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif
Penulis : Sabda Armandio
Tahun Terbit : 2017
Penerbit : Mojok


Novel kedua Dio (panggilan akrab Sabda Armandio) ini kebetulan juga merupakan novel kedua yang saya baca diantara deretan novelnya yang lain. Novel pertamanya yang saya baca adalah Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya, salah satu novel favorit saya karena berkesan dan terasa “saya” banget. Sejak membaca novel pertamanya, saya langsung menangkap kesan tersendiri dari gaya penceritaan Dio, yang menurut saya memiliki banyak sekali elemen yang rumit dan membingungkan, tapi justru membuat novelnya sedap untuk disantap. Perihal kerumitan ini adalah kekuatan karya Dio di mata saya, yang, alih-alih membuat bingung, justru membuat kita terkejut dengan bagaimana Dio menjalin elemen-elemen tersebut. Hal ini nampak dengan kuat di novel 24 Jam Bersama Gaspar.

24 Jam Bersama Gaspar bercerita tentang sekelompok orang yang akan merampok toko emas demi sebuah kotak hitam misterius. Sekelompok orang ini adalah Gaspar, Agnes/Afif, Bu Tati/Pingi, Yadi/Pongo, Kik, dan Njet. Tidak ketinggalan tokoh lain yang berwujud sepeda motor yakni Cortazar. Hal ini bermula dari Gaspar yang terobsesi pada kotak hitam misterius di toko emas Wan Ali. Ia kemudian menyusun rencana untuk merampok toko emas itu bersama dengan orang-orang yang diajaknya tersebut.

Gaya penceritaan Dio dalam novel ini sangat unik. Terdapat dua gaya penceritaan, yakni narasi dan transkrip wawancara. Keduanya menceritakan kisah ini dengan sudut pandang dan latar waktu yang berbeda. Pada bagian narasi, Gaspar sendiri yang menceritakan kisahnya secara langsung dengan latar waktu yang sesuai dengan kejadian. Sementara itu, transkrip wawancara berisi tentang wawancara seorang dokter yang berhubungan dengan kejadian tersebut. Latar waktunya adalah setelah kejadian
perampokan.

Selain rumit, dua ciri lain yang khas pada novel Dio adalah keabsurdan dan twist yang tak pernah gagal membuat saya kagum. Saya tak menyangka bahwa tokoh-tokoh yang seolah hanya sekilas saja bisa memiliki arti besar pada cerita. Twist yang disajikan juga tidak satu, namun berlapis-lapis dan membuat kisahnya jadi semakin kaya. Sebagaimana yang sering saya bilang saat mengulas karya Dio, twist di ceritanya itu adalah bagian tak terelakkan dan hampir selalu mengisi ruang dalam cerita, alih-alih hanya sebagai ending saja seperti umumnya cerita lain.

Perihal keabsurdan, yang satu ini selalu kental dalam karya-karya Dio. Hampir setiap dialognya selalu mengandung nuansa absurd yang membuat kita tenggelam saat membacanya. Dialog-dialog dalam Gaspar terkesan padat, absurd, punya banyak detail, dan yang paling aneh dari semua itu adalah kombinasinya betul-betul menawan. Saya temukan juga kesan yang hampir serupa di novel Kamu. Kedua buku ini membuat saya tidak bisa berhenti

membaca.

Kekuatan yang lain adalah mengenai penokohan. Dio mampu menciptakan tokoh-tokoh unik dan (lagi-lagi) absurd, punya ciri, dengan karakter yang sangat menarik. Gaspar contohnya. Bagi saya Gaspar itu sengak banget. Sudah dua kali saya menemui tokoh semacam ini di karya Dio. Satunya lagi adalah Kamu. Selain sengak, kedua tokoh ini memiliki pemikiran yang menarik dengan pengalaman-pengalaman absurd. Dio bahkan juga menyisipkan tokoh aneh lain macam Cortazar, robot UN 4F1F, Jin Citah, dll. Ia bahkan dapat menggambarkan mereka semua dengan detail yang utuh. Tidak lupa karakter unik lain seperti Budi Alazon dan Arthur Harahap. Arthur Harahap ini adalah penulis yang juga muncul di semesta novel Kamu. Misteri tentang Arthur Harahap pernah Dio jelaskan di wawancaranya dengan VICE.

Banyak hal menarik yang bisa dibedah dari novel ini sebenarnya. Dio membungkus pertanyaan-pertanyaan filosofis tentang apa itu baik dan jahat dalam kisahnya, pengaruh sastrawan-sastrawan besar seperti Julio Cortazar dan Jorge Luis Borges, sampai perwujudan lain kisah detektif yang merubuhkan seluruh citra cerita-cerita detektif selama ini. Dio sendiri yang menjelaskan hal ini di wawancaranya dengan media. Selain itu, banyak juga ulasan-ulasan yang membahas terkhusus mengenai dobrakan Dio terhadap cerita detektif yang selalu dibebankan tanggung jawab moral. Anda bisa membaca berbagai ulasan tersebut di internet.

Satu hal yang tak terlupakan bagi saya justru bagaimana Dio memandang cerita Gaspar ini selain hal-hal yang sudah saya tuliskan di paragraf sebelumnya. Dalam salah satu takarir Instagram-nya, ia menjelaskan novel Gaspar dalam sudut pandang yang saya sadari saat membacanya, tapi gagal saya temukan kata yang tepat untuk menjelaskannya. Cerita Gaspar adalah keping ingatan tokohnya. Seperti kata Dio, “kumbang dalam kotak miliknya, sudut yang nggak pernah terkena sinar matahari.”

Omong-omong, selamat untuk Dio karena buku ini akan segera difilmkan dan diterjemahkan secara internasional!

(Visited 291 times, 2 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Tahun 2018.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts