Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Sambut Semester Genap, FISIP Siapkan Teknis Perkuliahan Luring

FISIP UB siap menyambut perkuliahan luring semester genap TA 2021/2022. (PERSPEKTIF/Aurel)
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIFMulai meredanya pandemi COVID-19 mendorong Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) untuk menyiapkan teknis perkuliahan semester genap 2021/2022 secara luring/pembelajaran tatap muka (PTM) bertahap. Hal tersebut didasarkan pada Surat Edaran Rektor Nomor 12245/UN10/TU/2021, sebagaimana disampaikan Wakil Dekan (WD) I FISIP UB, Muhammad Faishal Aminuddin.

“FISIP akan membuat perkuliahan dengan model hybrid learning (luring dan daring), yang tentunya akan memperhatikan protokol kesehatan. Hal ini dilakukan demi tercapainya tujuan belajar mengajar secara efektif,” paparnya dalam acara Hello Dean x Direktorat Vol. II (24/11).

Menurut Faishal, perkuliahan dilakukan berdasarkan syarat yang akan ditentukan, juga dengan mempertimbangkan kesediaan dosen dan mahasiswa.

“Dekanat nanti akan menentukan syarat untuk semua prodi, tetapi dikembalikan pada dosen pengampu, apakah mau daring atau luring. Untuk mahasiswa, kalau tidak memungkinkan (luring), silakan mengikuti perkuliahan secara daring. Tidak ada keharusan atau paksaan,” katanya.

Faishal mengungkapkan bahwa ketentuan lebih lanjut akan disampaikan melalui surat edaran fakultas. Melihat masih adanya kemungkinan lonjakan kasus COVID-19, saat ini teknis PTM masih dalam tahap pematangan. Termasuk kemungkinan penyesuaian ulang kebijakan di masa mendatang.

Berbagai tanggapan muncul dari mahasiswa FISIP, salah satunya Betshy Elenasari, mahasiswi Ilmu Pemerintahan 2020. Ia mendukung PTM agar dapat terealisasikan dengan baik.

“Kasus (COVID-19) yang turun sudah memungkinkan untuk dilakukan PTM. Mahasiswa angkatan 2020 dan 2021 perlu PTM supaya mengenal kampus,” ujar Betshy.

Tanggapan berbeda disampaikan Dwi Retno, mahasiswi Ilmu Politik 2019. Menurutnya, perlu pertimbangan kembali terhadap rencana ini, karena munculnya varian baru virus korona dari Afrika Selatan yang bermutasi lebih cepat.

“Persiapan yang sangat matang begitu diperlukan, mengingat mahasiswa UB berasal dari seluruh provinsi Indonesia,” katanya. (ads/lia/rff)

(Visited 106 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts