Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

No Time To Die: Wujud Transformasi Alur Cerita Film Legendaris 007

Sumber foto: 21cineplex.com
Oleh: M. Iqbal Maulana*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul Film: No Time To Die

Durasi: 163 menit

Distributor: Universal Pictures (Internasional)

Tanggal Rilis: 30 September 2021 (Bioskop)

Sutradara: Cary J. Fukunaga

Produser: Daniel Craig, Barbara Broccoli, Michael G. Wilson

Pemeran: Daniel Craig, Lea Seydoux, Rami Malek, Ana de Armas, Lashana Lynch, Jeffrey Wright, Naomie Harris, Ben Wishaw, Ralph Fiennes (Sebagai M)

Resensi oleh: M. Iqbal Maulana 

Senang rasanya ketika cita-cita saya tercapai untuk menonton pertama kali serial film legendaris 007 ke-25, ‘No Time To Die’, pada 30 September 2021. Film tersebut seharusnya dijadwalkan rilis pada April 2020, namun tertunda karena pandemi Covid-19. No Time To Die bercerita tentang kisah agen rahasia Inggris, James Bond (Daniel Craig) dalam menjalankan tugasnya sebagai agen 007 MI-6 (Badan Intelijen Inggris). Film ini terinspirasi dari serial novel karya sastrawan Inggris, Ian Fleming. Pada seri ini, masa pensiun Bond kembali tertunda setelah ia harus menumpas aktivitas organisasi terorisme yang mencoba membuat virus untuk memusnahkan seluruh populasi di bumi. 

Namun jika kita membandingkan dengan serial film pertama 007, dari Dr. No (1962) hingga Spectre (2015), terdapat beberapa transformasi dalam alur cerita dalam film No Time To Die. Impresi pertama ketika kita mendengar karakter James Bond adalah agen rahasia Inggris nyentrik yang suka minum vodka, melakukan aksi berbahaya, gemar berjudi, hingga bergonta-ganti pasangan. Dua impresi terakhir tersebut nampaknya telah berubah dalam diri James Bond pada film ini. Selain itu, perubahan tradisi film yang cenderung meletakkan pria sebagai aktor utama, kini berubah dengan munculnya agen-agen wanita yang menjadi mitra operasi Bond. Pun dengan Bond yang menjadi ‘pria normal’ dalam ceritanya.  

Feminisme

Hal yang saya lihat pertama adalah kehadiran Nomi (Lashana Lynch), sebagai kandidat agen 007 baru. Menariknya, wanita asal Inggris tersebut merupakan agen 007 wanita pertama yang berkulit hitam. Lazimnya, aktor pria yang memerankan James Bond sejak film perdananya. Namun, Fukunaga cenderung menampilkan perempuan yang seyogyanya juga memiliki potensi menjadi agen rahasia. Dalam film tersebut, Nomi, agen 007 baru juga memiliki watak yang sistematis dan disiplin dalam melakukan operasi. Artinya, kemampuan Nomi sebagai wanita juga layak disandingkan dengan James Bond. Hal itu pun juga terlihat ketika mereka berdua melakukan infiltrasi bersama ke markas Safin (Rami Malek) di akhir cerita. Kemampuan bertarung dan operasi intelijen Nomi juga mengimbangi kapasitas Bond sebagai aktor utama dalam operasi tersebut. 

Selain Nomi, Paloma (Ana De Armas) juga menjadi ‘Bond girl’ dalam seri No Time To Die. Perannya bukan sebagai figuran semata, namun ia membantu Bond untuk melakukan operasi di Kuba. Representasi Paloma juga dapat memperlihatkan kekuatan wanita Amerika Latin dalam melakukan pekerjaan berbahaya, sejenis operasi intelijen. Hal ini menandakan adanya representasi wanita Amerika Latin yang memiliki peran penting dalam kehidupan sosial di sana, terutama untuk melakukan gerakan sosial yang menjadi tradisi masyarakat di kawasan tersebut. 

Fukunaga mencoba untuk merefleksikan nilai feminisme dan ‘Black Lives Matter’ yang menjadi fokus gerakan masyarakat global. Dengan menempatkan Nomi sebagai wanita kulit hitam pertama yang memerankan 007 baru, ada bentuk adaptasi yang dilakukan oleh film 007 untuk merefleksikan isu global yang berpengaruh di seluruh negara. Adaptasi ini juga dapat diartikan sebagai transformasi. Mengingat, film James Bond yang umumnya menempatkan pria sebagai aktor utama, serta perempuan yang hanya menjadi figuran dalam film legendaris tersebut. Mungkin, ini adalah adaptasi yang dapat meningkatkan daya tarik film 007 yang sesuai dengan perkembangan zaman, terutama untuk mengampanyekan pentingnya solidaritas bersama terhadap masyarakat kulit hitam yang rentan mengalami diskriminasi.

‘Mengingkari Tradisi’

Sebelum Daniel Craig memerankan James Bond, serial film 007 sering menampilkan alur cerita tunggal pada setiap serinya. Jarang ditemui keterkaitan cerita antara satu film dengan seri selanjutnya pada masa Sean Connery hingga Pierce Brosnan. Namun pada era peran Daniel Craig, semua film 007 memiliki keterkaitan alur dan tokoh. Dimulai dari Casino Royale hingga No Time To Die -mungkin, hanya Skyfall yang menjadi kilas balik kehidupan Bond, sekaligus untuk ‘memensiunkan’ peran M lama, Judi Dench. Salah satu pacar lama Bond yang tewas saat seri Casino Royale, Vesper Lynd (Eva Green), juga ditampilkan pada No Time To Die. Runtutan cerita ini dapat merefleksikan sepak terjang Craig sebagai pemeran Bond. Bagi saya, akan sulit untuk memahami alur dan makna cerita No Time To Die jika belum melihat serial Bond yang diperankan Daniel Craig sebelumnya. 

Pengingkaran tradisi yang menjadi perhatian saya ketika Bond telah menjadi ‘pria normal’. Hubungan asmara Bond dengan Swann yang terjalin sejak film ‘Spectre’ menunjukkan Bond bukanlah agen Inggris yang berhidung belang lagi. Bahkan pada seri No Time To Die, untuk pertama kalinya Bond memiliki keluarga kecil dengan Swann -sebuah alur yang belum pernah terjadi pada serial-serial sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya dan untuk menghormati Daniel Craig yang akan menggantungkan tuxedonya, ia dipensiunkan dengan seremoni yang serupa dengan Judi Dench pada seri Skyfall. Sebuah tradisi yang belum pernah dilakukan untuk mengakhiri pemeran utama James Bond. Hal tersebut juga menjadi kejutan dari serial No Time To Die ini. 

Jika harus memberikan penilaian, No Time To Die memiliki nilai 100 dan sangat direkomendasikan untuk ditonton. Adanya transformasi baru dan ‘kejutan’ yang hadir pada film tersebut menjadi hal yang wajib ditonton. Ketertarikan tersebut juga didukung dengan adaptasi film 007 yang merefleksikan isu-isu global pada setiap zamannya. Hal tersebut yang dipandang oleh Fukunaga dan Barbara Broccoli sebagai resep seri 007 dapat langgeng selama hampir 60 tahun. Namun dengan pensiunnya Daniel Craig, siapakah yang akan menjadi James Bond selanjutnya? Ataukah Lashana Lynch akan menjadi agen 007 wanita untuk pertama kalinya? 007 will be back!

(Visited 43 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Hubungan Internasional 2018 yang saat ini aktif di LPM Perspektif Divisi Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

TAM

Iklan

E-Paper

Popular Posts