Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Patronus

Oleh: Zahira Asmara Shinta Rama Diva*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Kututup mataku. Dengan keringat dingin mengalir di pelipisku, tak kusangka Dementor akan semengerikan itu. Aku masuk ke ruangan yang sangat familier, sampai-sampai, retakan dan cat dinding yang kuingat dulu masih cerah, sekarang nampak sudah pudar dimakan waktu.

Fucking life!” gerutuku dalam hati setiap kali masuk ruangan itu.

Aku tak mengerti kenapa mereka menunjukku. Hanya karena mendengar ramalan bodoh dari bola kuning itu, mereka mempercayaiku dan memberiku batu kristal yang bahkan aku sendiri tak tahu gunanya. Kupertanyakan berualang kali, kenapa ramalan itu menunjuk aku? Orang yang tak memiliki kebahagiaan sedikit pun dalam hidupnya. Ya, aku benci hidupku. Hal yang paling kubenci di dunia ini adalah hidupku sendiri.

Ah, tidak. Tidak hanya itu. Dementor-dementor itu, mereka juga sangat menyerikan, kurasa. Jumlahnya sangat banyak dan kurasa mereka tidak memiliki wajah, tetapi memikirkan bentuknya saja membuatu ngeri. Kalangan penyihir menceritakan rupanya dengan sangat berlebihan, apa tidak bisa berupa seseorang dengan topi hitam menjulang keatas saja, seperti layaknya penyihir hitam lainnya? Pada kenyataannya, tidak. Akupun tidak pernah melihatnya. Dementor dalam dunia sihir adalah terbatas pada imajinasi dan omongan penyihir-penyihir tua.

“Kau harus fokus dan keluarkan patronus-mu segera, Rully. Mereka akan datang, dan saat itu kau harus siap.”

Patronus, ya! Mantra itu adalah satu satunya matra yang bisa mengalahkan Dementoritu. Namun mantra itu sangatlah sulit dikeluarkan. Hanya ada beberapa penyihir hebat saja yang bisa menggunakan mantra itu. Termasuk ibuku, seorang ahli sihir kuno terkenal di Wizard.

Kupejamkan mataku lebih dalam lagi, hingga suara bising saat mantra-mantra dikeluarkan untuk menghadapi ribuan Dementor itu tak lagi kudengar. Aku menunduk, dan tiba tiba muncul suara dengan dialog yang tak asing lagi bagiku.

“Tidak, ini bukan masalah fokus! Ini hanyalah aku, mereka tidak tahu aku! Ramalan itu omong kosong! Aku tidak akan pernah bisa mengeluarkan patronus. Kenapa mereka memilih orang yang dalam hidupnya tak memiliki memori bahagia?!”

“Setiap orang memiliki memori bahagia, Rully.”

Lagi-lagi, ucapan yang sama. Untuk apa orang mengatakan hal yang sama berulang kali? Sungguh membuatku muak. Dialog itu lagi-lagi memenuhi kepalaku. Aku akan tetap menyangkal dan menolak ramalan itu, karena kutahu, aku tidak akan bisa mengeluarkan patronus. Salah satu mantra terkuat untuk menghadapi sihir hitam dan untuk menciptakannya diperlukan memori bahagia. Tidak heran jika aku tidak bisa menggunakannya, karena memang tidak pernah ada memori bahagia dalam hidupku.

Ramalan bodoh itu yang sering membuatku adu mulut dengan ibuku.  Sebuah ramalan yang tidak pernah bisa kuterima. Ya, setidaknya hingga saat ini, saat ramalan itu ada di depan mataku. Hari ini, ramalan itu terjadi.

Aku membuka mataku, kugenggam erat tongkat sihir. Ibuku, Margold sedang bersama Roland, ayahku. Tidak kusangka, mereka bisa berkerjasama mengeluarkan patronus dan menghadapi Dementor-dementor yang berterbangan di atas mereka. Namun, tetap saja patronus mereka tidak mampu mengalahkan Dementor itu. 

“Cukup sudah! Aku muak dengan semua ini! Para Dementor, akan kubunuh kalian!” kataku sambari berlari menuju mereka.

Kami melingkar membelakangi satu sama lain dengan segala jenis mantra yang tidak henti-hentinya mereka ucapkan—makhluk itu terlalu banyak. Bahkan mantra patronus yang mereka keluarkan pun tidak bisa mengalahkan seluruh Dementor. Mereka terus berdatangan tanpa henti.

“Kita tidak boleh menyerah dan memberikan batu itu pada mereka begitu saja. Kalaupun aku harus mati, aku tidak akan mati dengan kekalahan!” kata ayahku.

“Mengerikan, Dementor bodoh! Enyahlah kaliannn!!!” sahutku sambil mengeluarkan salah satu mantra penyerangan.

“Tidak, Rully. Kau harus fokus! Cepat keluarkan patronus-mu. Kami akan menahan para Dementor.”

“Apa kamu tidak lihat? Kalian pun berulang kali mengeluarkan patronus tetapi tidak mampu mengalahkan Dementor sama sekali.”

“Kekuatan Patronus bisa berbeda-beda tiap orang Rully. Percayalah pada dirimu, kau ditunjuk untuk sebuah alasan! Temukan alasan itu sekarang juga!”

Aku terdiam menunduk, membenaran ucapan Ayahku itu. Tetapi, bagaimana? Bagiamana aku bisa mengeluarkannya? Kumendongak melihat Ibuku dan Ayahku yang mulutnya tak henti hentinya mengucapkan mantra. Tangannya tak lepas satu sama lain dan selalu bersama-sama mengeluarkan Patronus mereka masing-masing. Aku menangis bukan atas kesedihan. Entah sejak kapan senyum ini mengembang di wajahku.

“Apakah ini? Apakah ini yang disebut bahagia?” kataku sambari terisak.

Aku berdiri dengan lantang sambil menggenggam kuat tongkatku dan kuayunkan seluas yang mungkin bisa kucapai sambil lantang kuteriakkan, “Expecti Patronum!”

Cahaya terang muncul seketika dan mewujud burung Phoenix yang sangat besar. Burung itu terbang atas perintah tongkat yang aku kendalikan. Ia terbang dan menyapu habis para Dementor. Orang tuaku terdiam takjub dan begitu pula dengan aku. Phoenix itu kembali, terbang diatas kami bertiga hingga cahayanya redup, mengisyaratkan bahwa tugasnya telah selesai.

“Phoenix! Tidak kusangka patronus-ku adalah Phoenix!” kataku pada kedua orang tuaku. Mereka tersenyum padaku sembari saling merangkul.

Semesta, terima kasih karena telah kutemukan memori bahagiaku.

(Visited 94 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi 2020 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Brawijaya. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi Redaksi LPM Perspektif.

1 tanggapan pada “Patronus”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts