Illustrator: Naura Thabina

Oleh: Mitha*

Derap-derap langkah berlari ke perhentian

Menemani datangnya Sang Mentari

Alarm hingga deru kendaraan sudah tak asing terdengar

Seakan sudah menjadi makanan keseharian

 

Bukan hanya aku dan kamu

Tapi dia, kita juga mereka

Tak pernah sepi dengan kesibukan masing-masing

Layaknya sebuah pusaran, berulang tak ada henti

 

Bergelut dengan target dan waktu

Semua serba tergesa-gesa

Memburu segala yang bisa diburu

Menumpuk hingga menjadi sandungan

 

Hingga pada suatu hari

Langkah saja yang pergi tanpa ditemani hati

Tak tahu lagi apa yang sedang dicari

Berjuang sekerasnya tanpa didampingi empati

 

Bagaimana bisa ini dikatakan hidup

Ketika orang berlomba memuaskan hidup itu sendiri

Ketika orang tidak lagi bisa bercermin

Ketika orang bahkan dapat memuaskan diri dengan mengorbankan yang lain

 

Tak jarang hasrat dipupuk dengan membenci

Demi memuaskan sebuah ambisi

Atau hanya mencari sesuap nasi

Padahal membenci butuh banyak energi

 

Hingga pada puncak tertinggi

Malah sepi yang dirasa

Lelah akan bermain peran

Hampa, seperti ada yang hilang

 

Dan seandainya saat itu datang

Yang dibutuhkan hanya kembali

Kembali melihat titik awal

Kembali merasakan kehangatan yang selama ini diabaikan

Kembali kepada Yang Mengembalikan Kehidupan

 

*)Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2017 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya.

(Visited 18 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here