Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Gerakan Mahasiswa Masih Sebatas Wacana

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF Mahasiswa semakin marak membuat kegiatan yang mengangkat isu maupun permasalahan sosial yang ada di masyarakat seperti dalam bentuk seminar dan forum diskusi. Hal tersebut seakan menjadi sebuah tren dikalangan mahasiswa, termasuk mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Maraknya perbincangan terkait permasalahan sosial dinilai baik oleh Robbani Amal Romis, salah seorang aktivis dalam aliansi Malabar. “Mahasiswa harusnya mulai mengikat diri dengan basis – basis permasalahan konkret di sekitarnya,” paparnya.

Namun, permasalahannya kegiatan tersebut seringkali berhenti hanya sampai pada sebuah diskusi, tidak berujung pada gerakan yang konkret. Hal ini yang mengakibatkan konten yang terlanjur panas dalam perbincangan baik dalam diskusi maupun seminar pada akhirnya menguap begitu saja.“ bolehlah diskusi – diskusi didalam kampus, tapi kemudian harus diwujudkan diluar,” tutur Mahasiswa Fakultas Teknik UB ini menambahkan.

Hal senada diungkapkan Muhammad Taher Bugis Kepala Divisi Korupsi Politik Malang Corruption Watch (MCW). “Dalam konteks mahasiswa, saya lihat mahasiswa sekarang ini lebih bergelut di dunia wacana. Dalam artian hanya sebatas wacana tetapi mereka tidak dapat untuk mempraktisikan wacana itu sendiri,” ujar pria yang akrab dipanggil Taher ini.

Lebih lanjut Taher berpendapat bahwa mahasiwa membicarakan terkait dengan penderitaan masyarakat melalui ruang-ruang (media sosial,diskusi) yang tertutup, padahal kalau bicara tentang penderitaan masyarakat kita harus turun terjun langsung ke masyarakat dan melakukan apa yang bisa dilakukan.“Mahasiswa jangan hanya mengedepankan diskusi, eman. Hasil diskusi itu harus bisa dipraktiskan sehingga apa yang dibahas tidak hanya sebatas mengembang kognitif kita, bukan hanya sebatas mimpi. Tetapi mimpi itu harus diwujudkan dalam tindakan implementasi,” terangnya.

Terlebih lagi, semakin banyak bermunculan pembahasan isu sosial yang dilakukan dalam bentuk seminar berbayar yang menawarkan sertifikat, serta diadakan di sebuah ruangan yang mewah seperti hotel. “Kalau menurut saya itu bukan sebuah gerakan, bagi saya itu sudah lari ke profit oriented. Kalau kita mau buat gerakan itu nothing to lose. Kita mau menyadarkan orang tentu kita tidak membutuhkan feedback dong.Kalau menyadarkan orang, tidak harus di ruangan yang mewah, kita bisa memanfaatkan ruang-ruang yang sudah ada untuk melakukan pola gerakan kita,” tanggap Taher saat ditemui di markas MCW yang berada di Jalan Joyosuko Metro.

“Kalau kita cuma mau menjadi seorang yang populer, gerakan tersebut (seminar di tempat mewah, red.) dirasa pas. Membuat kegiatan berdiskusi memaparkan ide-idenya dan mempublikasinya di media sosial, kalau hanya sebatas itu mending ngga usah,” tegas Taher dalam suasana gerimis sore itu.

Menurutnya, sebuah gerakan tidak bisa terlepas dari masyarakat. Jadi, jika ingin melakukan sebuah kegiatan yang mengangkat isu sosial masyarakat harus terlibat. “tidak dalam bentuk seminar, diskusi untuk dirinya atau kalangan mahasiswa sendiri,” pungkas pria asal Lombok tersebut.

Menanggapi hal tersebut Robbani Amal Romis mengaku turut menyayangkannya. “Kegiatan organisasi kampus cenderung sebagai eo (Event Organizer – red), akhirnya gerakan – gerakan sosial ini menjadi tumpul. Kader – kader diajak berproses untuk bikin acaranya, bukan berproses bersama membahas kontennya,” pungkasnya.

“Kampus ini sebenarnya adalah ruang epistemik untuk membahas berbagai permasalahan, seharusnya mahasiswa mulai turun bukan lagi sebagai penyambung lidah rakyat tetapi mendengar rakyat agar rakyat ini mampu berbicara sendiri. Mungkin yang jarang dilakukan mahasiswa ialah berproses dengan cara belajar dan terlibat bersama masyarakat seakan sebagai kawan. Bukan melaksanakan kegiatan normatif yang menekankan seakan mahasiswa itu kaum yang lebih elit dari masyarakat, semacam pengabdian masyarakat, donor darah, apalagi seminar,” papar pria yang akrab disapa Robbani tersebut.

“Mahasiwa adalah ujung tombak sebenarnya. Kalau dilihat pada saat reformasi kemarin, yang berperan paling menonjol adalah mahasiswa. Mahasiswa harus bisa lihat realitas tersebut dan bisa berimajinasi untuk menanggapi realitas. Dalam artian, imajinasi yang akan dilakukan itu untuk merebut suatu perubahan dan bisa dia (mahasiwa – red.) lakukan. Bukan hanya sebatas berimajinasi, tapi bisa dia implementasikan,” tutup Taher. (ank/ran)

(Visited 163 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts