Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Bahkan Ketikan di Status Mampu Melegakan Sesaknya Kehilangan

Ilustrator: Nabila Nur Fauzia D.
Oleh: Mustofa*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Punya kawan segelintir, atau status puitis terprivasi di WhatsApp, mampu melegakan sesak kehilangan. Ketika ditinggal pergi sang kekasih, apalagi bermukim dalam gundukan pusara. Namun goresan pena, ketikan di laptop, ketukan jempol pada gawai mampu menguatkan hidup dalam kemandirian. Meski wadah tulisan puitisnya itu hanya status. Singkat, padat, menyayat. Bisa ambigu bila ditangkap pembacanya, atau terlalu belebihan dalam bermain sendu. Namun hal itu menguatkan iman, bahwa semua akan bersua di keabadian nanti. Begitulah yang dialami oleh Ibu Anita Ekayanti, salah seorang penyintas kehilangan suami tercintanya beberapa bulan lalu. Beliau mengungkapkan bahwa beliau tak gemar menceritakan kepiluannya kepada orang lain. Beruntungnya saya dapat menanyakan banyak hal, dan beliau punya tujuan mulia. Apabila tulisan ini dimuat, maka akan menjadi ladang pahala baginya. Menginspirasi wanita munib sepertinya untuk bisa trauma healing mandiri, bila tak mampu bercerita langsung kepada orang lain yang riskan diumbar. Melalui puisi, beliau merasakan sensasi plong di relung hati. Tanpa mengunjungi psikolog, saat sang munib lainnya tak memiliki cadangan finansial yang lebih maka sastra bisa jadi tempat pelarian.

Pertanyaan yang saya ajukan kepada ibu Anita banyak yang cukup sensitif. Tentang kematian suami dan apa yang beliau rasakan ketika membuat puisi. Ibu Anita sempat mengikuti sayembara menulis dan lulus, lalu karyanya turut dibukukan. “Itu sangat lega. Puas, apa yang di hati sudah keluar. Jadi tahu bagaimana rasanya menulis itu.” ungkapnya. Saya sempat menggiring opini, agar pernyataannya lebih spesifik, “Apalagi ketika perasaan kita yang tertuang dibaca oleh juri. Apakah ini bisa mengurangi sedikit rasa kehilangan?”

“Saya merasa lega. Plong yang dirasakan buat suami. Sastra bisa mewakili saya, mengungkapkan apa yang ada di hati saya. Tanpa harus ngomong ke orang lain apa yang saya rasakan. Jika sudah mengantuk, tiba-tiba ingat suami, ambil laptop dan menulis. Sebagian saya posting di status WA dan sebagian lagi saya fotokan dari layar laptop yang baru saja rampung saya ketik puisinya.” ungkap beliau lebih jauh.

Berdasarkan wawancara kualitatif tersebut, dapat disimpulkan tentang indikasi kesepian, kehilangan, dan kemandirian. Kesepian yang ada, meski beliau memiliki anak, nyatanya tak bisa menggantikan sosok kekasihnya. Kehilangan yang ada membuat kebingungan dan terganggunya aktivitas sehari-hari yang biasanya dibantu atau dikerjakan bersama suami. Kesepian, kehilangan dan konsep kemandirian baru yang dimilikinya perlu dilampiaskan dengan tulisan. Mengikat kenangan bersama suami dalam bentuk puisi adalah solusi yang cukup adil. Tampak dari statusnya beliau mampu menunjukkan kepada semua orang bahwa dirinya bukan wanita munib yang terpuruk oleh keadaan, melainkan telah mampu melangkah. Tulisan yang puitis, menyamarkan perasaan yang sebenarnya lebih panjang bila diketik dalam bentuk curhatan. Bahkan sejak pertengahan Mei 2021, Bu Anita telah memproduksi beberapa puisi yang tak diikutkan sayembara. Total puisinya yang berbobot dan bertema suaminya sampai 10 judul puisi, tangkap layar statusnya sendiri sekitar 30 status, dan kini masih berlanjut melegakan sesak kehilangan dengan mengikat kenangannya via tulisan.

Konsep melepas kehilangan dengan sastra ini juga saya terapkan dalam bentuk puisi, cerpen, novel, bahkan artikel. Meski niatan utamanya agar laku keras, menang ajang atau dapat cuan dari sebuah situs, tujuannya tak lain adalah mengembalikan kesehatan mental pribadi saya pada titik keikhlasan. Seperti ketika saya sering memimpikan mantan yang telah pergi–belasan tahun mimpi mantan–lalu mengirim ke sebuah situs, berharap orang yang pernah merasakan hal sama tahu apa penyebab saya dulu sering memimpikannya padahal si mantan sudah jadi istri orang dan saya pribadi sudah menjadi suami orang lain. Dalam artikel tersebut saya menyatakan bahwa cara saya terapi diri adalah dengan menuliskan rasa syukur dan merelakan mantan bahagia. Sebab saya sudah bahagia selama lima tahun terakhir ini dengan keluarga kecil saya. Dalam novel yang tak laku–tapi ada kawan yang mengatakan ia merasakan apa yang saya rasa–membuat saya lega dari sesaknya tak memiliki ketika ada yang memahami pesan prosa. Begitu pula di dalam cerpen dan puisi yang pernah saya ikutkan sayembara, tak jauh beda hanya untuk meningkatkan aktualisasi diri alih-alih mereduksi kehilangan. Bahkan saya juga sering membuat status puitis itu, dan dikomentari oleh kawan yang sempat membacanya. Itu saja telah membuat lega. Namun nasib nahas saya tak terlalu parah ketimbang responden–Anita Ekayanti–dan kisah Bapak B.J. Habibie.

Mantan presiden negeri ini baru mengetahui istrinya, Ibu Ainun, terkena kanker ovarium dua bulan sebelum istrinya meninggal. Hal itu membuatnya terpukul. “Saya tenggelam dalam kesedihan,” kata beliau. Oleh karena merasa kehilangan yang mendalam, B.J. Habibie terkena gangguan pada kondisi psikologisnya, biasa dikenal psikosomatis malignant. Bila sang penemu teori keretakan ini tak melakukan apapun, beliau akan segera menyusul sang istri di keabadian. Menurut beliau, terapi yang tepat bagi dirinya adalah dengan menulis. “Saya pilih menulis, saya
pilih yang keempat,” ujarnya ketika dokter langganan keluarganya memberi empat opsi demi kesembuhan psikisnya. Tulisan mampu membawa kembali ketenangan jiwa dalam diri B.J. Habibie. Tak sekadar ingin menyampaikan luapan rasa kepada segelintir orang, B.J. Habibie mampu menginspirasi khalayak tentang apa itu cinta sejati. Apa itu makna bertahan hidup, menjadi penyintas seorang duda. Mengikat kenangan dalam pena adalah jawabannya, menghidupkan kembali realita suka duka, sekadar untuk diikhlaskan. Bukan pujian yang diinginkan oleh orang yang terkena psikosomatis malignant melainkan manifestasi rasa ikhlas ditinggal. Sebuah aktualisasi diri saat berada di titik terendah. Bisa saja seseorang seperti Ibu Anita Ekayanti–responden kualitatif saya–, B.J. Habibie dan saya pribadi menceritakan kehilangannya kepada kawan, sosok kerabat dan pendengar yang baik. Namun terkadang, akan menjadi bosan bagi mereka bila kisah ditinggal kekasih diceritakan berulang. Lagi dan lagi hanya berkutat kekecewaan dan harapan perandaian.

Trauma healing menggunakan sastra sebetulnya perlu disosialisasikan secara masif terutama kepada kaula muda masa kini. Apalagi sastra, bisa diangkat ke dalam wahana video puitis dan unggahan sejenis lain di media sosial. Mengingat orang-orang yang kehilangan, mendapatkan apresiasi dari kawan daring untuk semangat, itu sudah cukup. Jumlah orang yang menarik diri dari lingkungannya akan dimampatkan bila sastra dijadikan alternatifnya. Bahkan pemuda yang tak punya dasar sastra, atau tak pernah mengasah potensinya bisa menjadi mahir lantaran kehilangan. Sebagaimana yang pernah dialami oleh adik sepupu saya sendiri ketika kekasihnya harus meninggalkannya. Adik saya mampu menulis novel sehari semalam, dan ia ingin menjadi orang yang diakui dengan novelnya itu. Saya tahu novelnya terlalu kacau dan dia tak pernah mengeyam pendidikan melainkan hanya sampai tamat SMP. Saya akhirnya memiliki kenalan, dan orang itu membeli novelnya seharga 150 ribu rupiah. Betapa leganya dirinya, ketika novelnya terbeli. Ia merasa diakui, dan ingin sukses dengan karyanya itu. Meski pada akhirnya hanya “terjual” dengan harga itu. Semisal tak saya apresiasi dengan menghubungi sahabat, maka mungkin dirinya merasa menjadi lelaki yang gagal. Lelaki yang tak bisa menata hidupnya, atau bahkan tak akan sukses ke depannya. Sastra mengembalikan kepercayaan dirinya, mengembalikan dirinya pada titik ikhlas akan takdir yang telah ditentukan. Kini, adik saya sudah menikah dan dia tak pernah lagi menyentuh sastra, akan tetapi sastra terbukti melegakan sesaknya kehilangan.

(Visited 79 times, 1 visits today)
*) Artikel ini memperoleh Juara Ketiga pada Sayembara Opini Malam Sastra LPM Perspektif 2021.

5 tanggapan pada “Bahkan Ketikan di Status Mampu Melegakan Sesaknya Kehilangan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts