Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Belajar Filsafat dari Novel Dunia Sophie

Oleh: Natasya Viresta Putri*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul : Dunia Shopie (Sebuah Novel Filsafat)
Penulis : Jostein Gaarder
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Terbit : 2019
Cetakan : Ke-10, Mei 2019

Resensi Oleh : Natasya Viresta Putri

Bahasa-bahasa yang rumit dalam filsafat seringkali membuat orang awam memandang bahwa filsafat adalah sebuah ilmu yang sulit untuk dicerna. Itulah mengapa sebagian besar dari mereka tidak terlalu tertarik dengan filsafat yang terlihat seperti suatu hal menarik, tetapi sebatas untuk dilihat saja. Padahal, sebenarnya filsafat dapat membantu mengatasi berbagai permasalahan yang terjadi di dunia melalui sebuah proses yang disebut abstraksi. Penalaran sebagai kegiatan dasar dalam berfilsafat mengajak manusia untuk terus mencari tahu agar tidak terpacu pada bentuk mutlak yang sudah ada sehingga bisa memudahkan dalam memecahkan suatu permasalahan. Hal inilah yang menyebabkan filsafat menjadi begitu penting dipelajari oleh masyarakat di zaman sekarang.

Berkaca dari begitu besarnya manfaat yang didapat saat mendalami ilmu filsafat,  Jostein Gaarder selaku penulis dari novel Dunia Sophie tertarik untuk membuat sebuah tulisan yang membahas filsafat dari sisi yang berbeda. Ia mengemasnya secara naratif dalam bentuk novel dengan harapan lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas. Bahasa yang digunakan pun termasuk sederhana dan cukup mudah diserap oleh orang awam. Awalnya, novel Dunia Sophie pertama kali terbit dengan judul Sofie’s Verden menggunakan bahasa Norwegia pada tahun 1991 silam. Namun, keunikan buku Jostein yang “mengupas” filsafat melalui kisah perjalanan gadis bernama Sophie ini, membuat banyak orang di seluruh dunia tertarik untuk membacanya. Kini, novel Sofie’s Verden telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa di negara lain, termasuk dalam bahasa Indonesia. 

Novel ini bercerita tentang perjalanan seorang gadis berusia empat belas tahun bernama Sophie yang berusaha mencari tahu jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam surat misterius yang ditujukan padanya. Pertanyaan-pertanyaan, seperti “siapa kamu?” atau “Dari mana datangnya dunia?” membuat Sophie memutar otak untuk mengetahui jawabannya. Bagaimana ia hidup sebagai manusia sementara dirinya tidak pernah memutuskan ingin hidup sebagai makhluk apa? Dari mana asalnya kedatangan langit dan bumi itu? Bukankah selalu terdapat permulaan pada segala sesuatu yang ada? Ia terus merasa penasaran karena pertanyaan dalam surat itu tergolong sederhana tetapi tidak memiliki jawaban yang pasti. 

Hari demi hari berlalu dan surat misterius itu terus muncul pada Sophie. Namun, kali ini tidak semua surat berisi pertanyaan. Ada kalanya sang penulis misterius mengirimkan sebuah amplop coklat besar yang berisi lembaran-lembaran kertas bertuliskan petunjuk untuk memecahkan pertanyaan-pertanyaan dari surat yang sudah dikirimkan kepada Sophie sebelumnya. Tentu saja kehadiran amplop besar berwarna coklat itu membantu Sophie saat ia benar-benar kesulitan menjawab pertanyaan-pertanyaan kiriman orang misterius itu. Hingga pada suatu ketika Sophie berhasil mengungkap siapakah yang selama ini setia mengirimkan surat itu padanya. Dia adalah seorang pria tua bernama Alberto Knox yang tinggal di sebuah gubuk kecil di seberang danau dekat rumahnya. Selama ini, pria itu tak henti-hentinya mengirim surat pada Sophie agar kelak dirinya tidak tumbuh menjadi pribadi yang acuh tak acuh dan sebatas menganggap dunia memang begini adanya karena sesungguhnya masih banyak hal yang perlu ditelusuri di luar sana. 

Namun, sebuah fakta yang sulit untuk dipercaya pun terungkap. Ternyata selama ini eksistensi Sophie dan Alberto di dunia hanyalah sebagai bagian dari imajinasi seorang ayah yang menulis sebuah buku untuk hadiah ulang tahun anaknya yang bernama Hilde. Sang ayah ingin membuat Hilde lebih mendalami dunia filsafat dengan membuat cerita sedemikian rupa yang kemudian melahirkan tokoh bernama Sophie dan Alberto. Keyakinan Sophie tentang dirinya yang merupakan bagian dari imajinasi seseorang semakin membesar ketika ia berjumpa langsung dengan Hilde. Gadis itu duduk dan berusaha memperkenalkan dirinya pada Hilde, tetapi sayangnya tidak dihiraukan oleh gadis itu karena memang dirinya tidak nampak pada penglihatan Hilde. 

Secara keseluruhan, novel karya penulis asal Norwegia ini cukup menarik untuk dibaca dan memiliki keunikan tersendiri. Meskipun bagian awalnya bisa dibilang cukup membosankan, pembawaan penulis yang cukup dinamis membuat pembaca semakin tertarik ketika sudah memasuki bab pertengahan. Di samping itu, terdapat banyak makna yang dapat dipetik dari tiap pengajaran filsafat yang disampaikan melalui surat misterius ini. Pembaca juga diajak menggunakan penalarannya saat muncul pertanyaan-pertanyaan filosofis di dalam surat-surat tersebut. Novel berjudul Dunia Sophie ini menggunakan sisi rasional dan irrasional dalam menceritakan isinya sehingga membuat pembaca lebih mengembangkan imajinasi dalam otak mereka. Tidak berhenti sampai disitu, kelebihan dari novel ini adalah mampu mencantumkan dan menjelaskan dengan jelas tentang pemikiran para filsuf baik dari zaman klasik dan kontemporer. 

Setelah membaca buku ini, tentunya pandangan pembaca akan beberapa hal akan menjadi berbeda. Kita diajak untuk tidak hanya melihat apapun yang berada di sekitar kita berdasarkan takaran rasionalitas saja, tetapi juga melihat dari sisi yang lain. Pemikiran kita pada nantinya juga akan lebih terbuka karena tidak memandang segala sesuatu dari satu sisi saja. Buku yang laris manis dalam penjualannya ini layak dibaca khususnya bagi kalangan remaja yang ingin memahami filsafat dengan bahasa yang ringan dan dapat dengan mudah dicerna, karena tidak hanya belajar filsafat saja, kita juga diajak untuk merenungi kehidupan sehari-hari kita yang masih lekat dengan hal remeh-temeh dan belum dipahami betul hakikatnya. 

========

Tulisan ini pertama kali diterbitkan dalam Buletin Redaksi Edisi 2 Tahun 2021 dengan judul “Dinamika Kuliah Daring Universitas Brawijaya” pada 1 Oktober 2021.

(Visited 53 times, 2 visits today)
*) Peresensi bernama Natasya Viresta Putri, mahasiswa Ilmu Pemerintahan 2020. Saat ini aktif sebagai anggota Divisi PSDM LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts