Illustrator: Karrencia Lasmian

Malang, PERSPEKTIF – Penanganan masalah kesehatan mental di lingkup Universitas Brawijaya (UB) tidak hanya jadi tugas Badan Konseling Mahasiswa (BKM). Aktor-aktor lain seperti Dosen Pembimbing Akademik (PA), konseling sebaya oleh komunitas, termasuk layanan konseling bagi mahasiswa difabel juga bisa ikut andil mengawal isu kesehatan mental.

Salah satu konseling yang bisa dilakukan oleh mahasiswa adalah melalui Dosen PA. Adanya relasi di bawah kepentingan akademik juga menjadikan dosen PA sebagai rujukan dan tempat bertukar pikiran saat mahasiswa menemui masalah dalam dirinya. Dosen PA juga bisa berperan dalam mencari solusi atas permasalahan dari mahasiswa.

Dyan Rahmiati, Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB sekaligus salah satu Dosen PA, menuturkan bahwa kedekatan lebih antara dosen PA dengan mahasiswa bimbingan akademiknya bisa membantu untuk mengetahui lebih awal beberapa permasalahan yang dialami oleh mahasiswa, termasuk permasalahan yang menyinggung kesehatan mental. “Dosen PA memiliki kesempatan lebih awal untuk mengidentifikasi permasalahan yang dialami mahasiswa. Semisal menurunnya tracking nilai akademik,” ungkapnya (13/03).

Terkait konseling kesehatan mental, tidak semua dosen PA memiliki kemampuan untuk menangani hal serupa. Namun, dosen PA bisa menjadi mediator yang bisa dipilih oleh mahasiswa.“Kalau permasalahan mental mungkin tidak semua (dosen PA, red) punya kemampuan itu, kan ada ilmunya. Tetapi mungkin dosen PA bisa menjadi orang yang lebih dulu mengetahui permasalahan mental mahasiswanya, untuk kemudian membantu mahasiswa tersebut diarahkan ke orang yang lebih tahu ilmunya,” tutur Dyan.

Dosen PA berperan mendampingi mahasiswa dalam mengadapi permasalahan akademik ataupun non-akademik, terkait dengan peran dosen PA itu sendiri sebagai tenaga pendidik. “Pendidik itu tugasnya tidak hanya transferring knowledge, melainkan juga value. Jadi tugas kami untuk menganggap mereka (mahasiswa, red) bagian dari kami, termasuk membantu apabila ada permasalahan yang sekiranya kami bisa dan boleh membantu,” jelasnya.

Selain melalui Dosen PA, mahasiswa sendiri bisa menjadi rekan untuk melakukan konseling sebaya. Salah satu komunitas konseling sebaya di UB adalah Ruangteras yang bergerak di bidang kesehatan mental. Dengan mengadakan pendidikan psikologi, kampanye, diskusi dan konseling gratis untuk anak muda usia 17-25 tahun, Ruangteras berupaya mengajak masyarakat –khususnya anak muda untuk meningkatkan kesadaran akan kesehatan mental.

Pendiri komunitas Ruang Teras, Yulinda Puji Lestari, mengatakan bahwa konseling sebaya mampu memberikan wadah konsultasi yang lebih leluasa tanpa jarak saat mahasiswa menemukan adanya jarak generasi dengan konselor dari lembaga formal.

“Aku melihat sebenarnya di UB sendiri itu ada layanan psikologi, cuma mahasiswa terkadang malas mengakses layanan itu karena adanya jarak dengan konselornya –yang biasanya dosen. Akhirnya mereka memendam masalahnya. Dari situ kami bentuk seperti konseling sebaya agar antara konselor dengan kliennya ini seperti tidak ada jarak, jadi bisa leluasa bercerita,” ungkap mahasiswa Psikologi FISIP UB 2017 tersebut (24/2).

Yulinda juga menuturkan bahwa ia melihat masih banyak orang yang menderita sakit mental distigmakan negatif, seperti dikatakan sebagai orang yang mencari perhatian.  Maka melalui Ruang Teras, ia berupaya memberi kesempatan pada orang yang melakukan konseling agar bisa menemukan solusi tanpa khawatir distigmakan.

Kesadaran mengenai kesehatan mental menjadi penting dan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang disepakati oleh Christwin Endeisa, mahasiswa Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) 2019. “Penting banget. Kalau keadaan dia stress, saat dia bicara mungkin langsung jadi marah dan jadi berpengaruh ke orang-orang di sekitarnya,” jelasnya.

Mahasiswa Ilmu Politik 2019, Isda Magfirah, juga menyetujui pentingnya kesadaran mengenai kesehatan mental. “Menurut aku kesadaran akan kesehatan mental itu sangat penting. Yang berhubungan dengan suasana hati bisa mempengaruhi aktivitas fisik. Seperti saat suasana hati sedang tidak enak, mau melakukan aktivitas fisik seperti apa saja juga tidak enak. Dan menurutku, peran teman sebaya juga penting (dalam membantu menangani, red),” ungkap Isda.

Selain penanganan masalah mental secara umum, terdapat juga bentuk penanganan yang lebih spesifik bagi mahasiswa difabel melalui Pusat Studi dan Layanan Disabilitas (PSLD) UB. Ziadatul Hikmiah, salah satu konselor di layanan konseling PSLD mengatakan bahwa dibentuknya layanan konseling ini bertujuan untuk memfasilitasi mahasiswa dengan kebutuhan khusus dalam bentuk pendampingan terhadap masalah yang dihadapi, baik dalam hal akademik maupun non-akademik.

“Kami turut mendampingi mahasiswa untuk menghadapi permasalahan yang spesifik di jurusannya masing-masing. Misal ada yang terkendala dengan dosen pembimbing, di situ kami upayakan untuk mediasi. Kami ikut hadir sebagai penengah semisal ada kendala komunikasi, misalnya dengan yang tuli,” tutur Zia (4/3).

Terkait penyelesaian masalah mental, dinamika penyandang disabilitas menuntut adanya penyesuaian terhadap pendekatan konseling yang dilakukan oleh tenaga konselor. Zia menambahkan, “Prinsip konselingnya sama (dengan non-difabel, red), harus menghargai dan mendengarkan. Cuma yang membedakan itu karena kondisi yang khusus, maka kita harus lebih sensitif dan peka tentang isu disabilitas.”

Penerimaan dan keterbukaan seorang penyandang disabilitas terhadap kondisinya juga memengaruhi kesehatan mentalnya. “Terkadang ada yang belum selesai dengan disabilitasnya, artinya masih denial, sehingga jadi terhambat studinya. Oleh karena itu sebagai konselor mahasiswa difabel, kita juga harus memahami dinamika anak difabel dalam menghadapi kedisabilitasannya dan masalahnya,” ungkap Zia. (ais/alf/rns)

(Visited 40 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here