Ilustrator Nur Chandra

Malang, PERSPEKTIFUniversitas Brawijaya (UB) mulai menaruh perhatian lebih terhadap isu kesehatan mental. Wujud perhatian ini terlihat dari didirikannya Badan Konseling Mahasiswa (BKM) tingkat universitas maupun fakultas. BKM Universitas merupakan salah satu layanan konseling yang menjadi bagian dari Pusat Pengembangan Pendidikan Akademik dan Profesional (P3AP).

Tujuannya adalah untuk membantu mahasiswa dalam menghadapi permasalahan sehari-hari yang mungkin mengganggu aktivitas sehari-hari dan berdampak pada performa akademis mahasiswa. Ari Pratiwi, Ketua BKM Universitas menjelaskan bahwa BKM berdiri karena butuhnya penanganan lebih lanjut mengenai permasalahan mahasiswa yang dirasa berat dan tidak mampu diselesaikan melalui konseling bersama dosen pembimbing akademik. Saat pertama kali beroperasi, BKM menerapkan sistem konseling secara online. Namun tanpa disangka rata-rata mahasiswa menginginkan konseling secara tatap muka.

“Alhamdulillah respon pihak rektorat cepat, kami akhirnya diberikan dua ruangan. Sehingga kami bisa melaksanakan konseling secara tatap muka. Jadi kami buka secara online itu Oktober 2018, namun untuk operasional secara tatap muka baru dimulai 2019,” jelas Ari ketika diwawancari tim Perspektif pada (21/2).

BKM Universitas mengkoordinasi Badan Konseling Fakultas (BKF), namun secara teknis BKF berjalan secara mandiri. Ari menuturkan bahwa saat ini terdapat lima BKF yang aktif, yaitu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Kedokteran (FK), Fakultas Teknik (FT), Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), dan Fakultas Teknologi Pertanian (FTP).

”Setelah kami mengadakan survei di seluruh fakultas, memang rata-rata mebutuhkan BKF tapi tidak tahu harus bagaimana. Jadi program kerja kami tahun ini adalah pendampingan fakultas, kami menargetkan setahun dua fakultas nanti yang akan didampingi,” ujarnya.

Lebih lanjut Ari mengatakan bahwa program kerja tersebut merupakan program jangka panjang. Proses pendampingan dimulai dari proses pembentukan, pelatihan dosen, hingga bentuk monitoring dan evaluasi. Harapan kedepannya seluruh fakultas di UB memiliki BKF. ”Nanti sistemnya pakai sistem rujukan melalui website. Jadi prosesnya apabila permasalahannya terlalu berat dan BKF kesulitan untuk menangani, bisa dirujuk langsung ke BKM Universitas,” ungkapnya.

Hadirnya badan konseling disambut baik oleh mahasiswa, salah satunya diungkapkan oleh Putri Salma Salsabilah, mahasiswi Jurusan Psikologi. Menurut dia keberadaan layanan konseling di lingkungan kampus penting sebab mahasiswa merupakan fase paling rentan untuk mengalami stres. Misal stres karena tugas kuliah, organisasi, ataupun karena keluarga.

”Mahasiswa merupakan fase transisi dari remaja akhir menuju dewasa, jadi indikasi buat stres itu lebih tinggi. Itulah kenapa layanan konseling di kampus itu sangat penting. Dengan adanya layanan ini dapat membantu mahasiswa untuk mempunyai wadah bercerita tentang masalah yang dia alami,” terang Putri ketika ditemui pada (4/3).

Tanggapan positif mengenai hadirnya badan konseling juga diungkapkan oleh Esther Guardiola, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) 2017. Esther pernah menggunakan layanan konseling BKF di FISIP. Menurut dia layanan konseling cukup efektif, namun ada beberapa hal yang harus ditingkatkan.

”Dengan adanya layanan konseling ini dapat membantu mahasiswa untuk menyampaikan keluhannya. Dari segi respon sudah cukup cepat, akan tetapi dari segi konseling saya masih merasa kurang. Saya merasa tindakan yang mereka lakukan kayak bisa dilakukan oleh semua orang gitu, jadi perlu ada yang ditingkatkan dari segi pelayanan konseling,” kata Esther.

Selain memberikan pelayan konseling kepada mahasiswa, Ari menuturkan bahwa BKM juga mengadakan pelatihan konseling bagi dosen PA yang dilaksanakan sebanyak dua kali dalam setahun. Pelatihan tersebut sudah terlaksana sejak 2011. Dalam satu kali kesempatan, hanya ada 40 dosen PA yang bisa mengikuti karena pelatihan dilakukan secara intensif.

 ”Mulai tahun ini kami juga buat pelatihan untuk mahasiswa, bukan hanya sekedar edukasi tapi juga latihan mendengarkan. Intinya kami ingin menyebarkan mental health awareness pada mahasiswa. Mahasiswa, harus sadar seperti apa tanda-tanda seseorang mengalami gangguan mental,” ungkapnya.

Menanggapi hadirnya BKM, Cleoputri Al Yusainy Ketua Jurusan Psikologi UB memberikan saran tentang idealnya suatu lembaga konselor universitas. Menurut dia lembaga konselor yang ideal seharusnya ada konselor yang sifatnya itu permanen dalam artian memang konselor yang profesional. Jadi psikolog-psikolog yang memang direkrut khusus untuk menangani masalah konseling.

”Sehingga kemudian kalau ada masalah yang belum terlalu membutuhkan penanganan pada level psikolog, itu bisa ke anak-anak lulusan S1 yang memang sudah mendapatkan training khusus di bidang konseling. Terus kemudian jika persoalannya berat, itu nanti bisa ke level selanjutnya yaitu psikolog. Psikolog seharusnya ada yang profesional, yang memang di hire khusus untuk bekerja disitu, bisa juga psikolog dosen. Jadi penanganannya bisa lebih optimal,” kata Cleo.

Cleo menambahkan bahwa persoalan kesehatan mental seharusnya tidak hanya menjadi urusan individu per individu. Misal ada komunitas yang bisa membantu mengawal permasalahan ini justru lebih baik. Sebab tidak semua persoalan memerlukan konseling secara one on one, seperti yang dilakukan ketika konseling di BKM.

”Konseling bisa juga dilakukan dengan cara membentuk grup atau kelompok kecil. Konseling sifatnya tidak harus dengan tatap muka, bisa jadi konsultasi melalui chat juga efektif. Metode alternatif seperti itu yang seharusnya juga dikembangkan. Tidak hanya berpaku pada metode klasik tradisional, klasik tradisional maksudnya konseling secara one on one atau tatap muka karena di sisi lain tenaga konselornya juga masih kurang,” pungkasnya. (sal/dat/dic)

(Visited 80 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here