Lawan — Aksi Peringatan 16HAKTP 2019 melawan kekerasan seksual terhadap perempuan. (PERSPEKTIF/Patricia)

Malang, PERSPEKTIF Bertepatan dengan 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16HAKTP) yang jatuh pada tanggal 25 November, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Resister Indonesia menggelar aksi pada Selasa (26/11) kemarin. Aksi ini digelar di depan Balai Kota Malang.

Tema yang diangkat dalam aksi ini mengikuti tema 16HAKTP yang diangkat oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini, yaitu “Orange the World: Generation Equality Stands Againts Rape. Warna oranye bermakna masa depan cerah dan bebas kekerasan. Penggunaan warna oranye juga dimaksudkan untuk menunjukkan solidaritas penghapusan kekerasan terhadap perempuan.

Reni Eka Mardiana selaku Koordinator Lapangan aksi mengungkapkan tema yang diusung turut menggambarkan kondisi Indonesia. “Tema itu menggambarkan suatu kondisi Indonesia yang masih marak terjadinya pemerkosaan dan pelecehan, benar-benar menggambarkan apa yang terjadi di Indonesia sekarang,” terangnya.

Selain untuk memperingati 16HAKTP, aksi ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat Malang tentang adanya gerakan-gerakan perempuan. “Tujuan aksi ini untuk memperingati HAKTP, semoga membawa kesadaran kepada masyarakat bahwa gerakan perempuan masih ada, terkhusus di Malang. Sebab, masih banyak kasus-kasus yang harusnya kita selesaikan,” kata Reni Eka Mardiana selaku Koordinator Lapangan aksi.

“Perlu upaya yang keras untuk menyatukan gerakan perempuan,” tambah Reni kepada awak Perspektif.

Selain menyoroti persoalan kekerasan seksual yang dialami perempuan, aksi gerakan perempuan ini diharapkan mampu mengubah stigma streotip kepada perempuan yang menempatkannya sebagai kaum tertindas. “Perempuan bukan second sex, perempuan bukan kaum inferior. Saya berharap seluruh elemen masyarakat bisa sadar gerakan perempuan dan itu (gerakan perempuan, red.) bisa terus berkembang secara entitas, kuantitas, dan kualitas,” kata Reni.

Hal ini dibenarkan oleh Ema Sarila, anggota LSM Resister Indonesia. “Banyak stigma untuk perempuan, seperti perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, harus kurus, perempuan kodratnya di bawah laki-laki; harus nurut. Menurut saya, itu pemikiran kolot,” keluh Ema Sarila, anggota LSM Resister Indonesia.

Tidak hanya diikuti oleh anggota LSM Resister Indonesia. Aksi juga mendapat dukungan simpatisan dari kalangan laki-laki. Reva, salah satu peserta laki-laki dalam aksi ini, menyatakan dukungannya terhadap gerakan perempuan, “Tidak hanya perempuan yang perlu mendukung perempuan, laki-laki juga harus memiliki kesadaran untuk mendorong perempuan mampu berbicara terhadap ketidakadilan yang mereka rasakan,” pungkas Reva. (sar/pch)

(Visited 25 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here