BERBENAH: FISIP terus menggenjot kualitas akademiknya. (PERSPEKTIF/Chandra)

Malang, PERSPEKTIF – Publikasi ilmiah internasional menjadi salah satu indikator penting dalam akreditasi program studi. Dilansir dari laman resmi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) per Oktober 2018, baru tercatat 13 dari jumlah target 20 publikasi internasional.

Wakil Dekan Bidang Akademik (WD I) FISIP UB, Siti Kholifah angkat bicara mengenai masalah ini. Menurut dia jumlah tersebut hanya sampai bulan September, belum diakumulasi sampai bulan Desember.

”Publikasi internasional beberapa dosen sudah ada, terutama dosen psikologi itu lumayan banyak. Publikasi internasional itu merupakan kontrak kinerja antara dekan dengan rektor, jadi target setiap tahunnya selalu berubah-ubah” ujarnya saat ditemui awak Perspektif (5/11).

Disinggung tentang capaian tahun 2019, Ifa sapaan akrabnya, menuturkan bahwa jumlah publikasi ilmiah sudah melampaui target. Menurut dia sampai bulan September jumlah publikasi sudah mencapai 69.

”Ada kemungkinan bertambah. Karena HKI (Hak Kekayaan Intelektual, Red) pun juga bertambah. Jumlah HKI ditarget 3, sampai saat ini sudah ada 20 HKI,” tutur Ifa.

Ifa juga menjelaskan bahwa jumlah publikasi internasional berhubungan dengan akreditasi. Menurut dia selain publikasi internasional masih ada elemen lain untuk akreditasi, seperti lulusan mahasiswa  dan Indeks Prestasi (IP) mahasiswa,

”Jadi saya harap mahasiswa sudah mulai menulis jurnal. Skripsi mahasiswa bisa dijadikan jurnal karena sekarang standarnya seperti itu,” jelasnya

Menanggapi hal ini, Langlang Bayu Andhika Subagja, mahasiswa Hubungan Internasional 2018 lebih menyoroti kualitas dosen FISIP. Menurut dia publikasi ilmiah internasional merupakan parameter kampus unggul, secara tidak langsung berarti dosen FISIP mengabaikan hal tersebut.

”Mungkin faktor eksternal juga menjadi penghambat, seperti minimnya sarana penelitian ataupun dana publikasi yang mahal. Kedepan FISIP harus meningkatkan kualitas publikasinya, dengan cara memberikan pelatihan tentang penulisan jurnal atau menyediakan sarana yang menunjang untuk penelitian,” ujar Langlang.

Nathania Yavita, mahasiswi Psikologi 2018 mengatakan bahwa FISIP harus lebih gencar lagi dalam hal publikasi ilmiah. Menurut dia pihak FISIP bisa melibatkan mahasiswa agar target publikasi ilmiah bisa tercapai.

”Seharusnya mahasiswa dilibatkan dalam penambahan jurnal internasional. Jadi jangan hanya bergantung pada dosen saja,” ujar Nathania. (rff/jab/dic)

(Visited 31 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here