Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Amin: “Keluhan Rasis itu Bukan ke Saya”

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp


Malang,PERSPEKTIF – Mahasiswa yang tergabung dalam organisasi ekstra kampus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) melakukan aksi pada Rabu sore (28/10) menuntut tentang adanya perlakuan diskriminatif yang mereka anggap rasis kepada salah satu mahasiswa. Perlakuan rasis tersebut dilakukan oleh seorang dosen jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB).
“Aksi kemarin sebenarnya adalah aksi dimana kita sebagai mahasiswa menegakkan bagaimana seharusnya contoh yang diberikan oleh dosen, yang seharusnya menjadi teladan bagi mahasiswanya,” jelas Choirul Furqon wakil ketua rayon PMII.
Aksi ini dilakukan berawal dari adanya sharing yang dilakukan antar mahasiswa-mahasiswa di FISIP dari berbagai jurusan, yang menimbulkan inisiatif dari PMII untuk melakukan aksi terkait isu diskriminatif dan rasis yang dilakukan oleh dosen FISIP.
Dari sharing, saya kan sering berkumpul dengan mahasiswa Ilmu Politik, Ilmu Pemerintahan, Sosiologi, dan yang lain-lain. Nah, ternyata dari mahasiswa Ilmu Politik saat itu ada yang mengadvokasi tindakan diskriminasi Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) tersebut,” tutur mahasiswa Hubungan Internasional tersebut.

Nah di situ yang menjadi korban sedang melakukan sharing. saat itu juga saya mendengarkan cerita yang sama dari beberapa mahasiswa lain yang ada di kelas tersebut,” tambah Choirul.
“Maaf sebelumnya, saya meminta maaf terhadap dosen yang bersangkutan. Ini ada salah satu dosen yang dari Program Studi Politik sendiri, di sana jelas-jelas melakukan sebuah tindakan yang tidak patut dicontoh oleh mahasiswa atau kaum terpelajar kita. Beliau(dosen Ilmu Politik, red.) telah melakukan diskriminasi ras, lebih spesifiknya adalah dalam bidang agama. Padahal kita tahu bahwa agama adalah isu yang sensitif untuk di sentil sedikit,” tutur Choirul.
“Dalam sebuah perkuliahan mata kuliah, beliau itu mengkritik menggunakan bahasa satir. Seperti contoh maaf “Sampeyan agama Kristen, bau anda kok seperti kambing”. Nah, dari pertanyaan agama itu dan disangkutkan dengan kepribadian mahasiswa tersebut diibaratkan seperti kambing,” ungkap Choirul ketika ditanya bagaimana kejadian perlakuan diskriminatif yang terjadi.
Mengenai isu ini, ketika awak Perspektif menemui dosen Ilmu Politik yang yang dimaksudkan dalam aksi yang dilakukan PMII. Amin, dosen Ilmu Politik tersebut menganggap aksi hari Rabu tersebut salah alamat jika ditujukkan kepada nya.
Saya rasa mereka bukan menuntut kepada saya begitu. Sumber mereka demo itu bukan karena saya sebetulnya. Anggapan mereka itu ada satu, dua orang. Keluhan tentang rasis itu bukan ke saya,sangkal Amin, dosen Ilmu Politik yang dimaksudkan dalam aksi tentang tindakan diskriminatif dan SARA kepada mahasiswanya.
Amin mengungkapkan bahwa tuduhan yang mengarah kepadanya tentang diskriminasi dan tindakan SARA sebenarnya bukan yang pertama kalinya. Amin mengakui sebelumnya juga pernah dianggap melakukan tindakandiskriminatif dan SARA.
“Mungkin saya juga pernah dikatakan diskriminatif. Sebelumnya ada beberapa mahasiswa Kristen yang mungkin mereka merasa kurang suka kepada saya. Mereka sebenarnya menuntut porsi,” ungkap dosen yang mengajar Teori Politik tersebut.
Menurut Amin aksi tersebut muncul karena ada salah persepsi saja. “Jadi, kesalahan mereka itu adalah dalam mereka menanggapi, memahami itu keliru, Sebenarnya mereka mencoba mengungkapkan rasa ketidakpuasan. Mereka itu ingin semau-mau mereka. Setahu saya, saya masih under control,” tutup Amin. (ank/anw)
(Visited 178 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts