Ketika kata mencekik dan membungkam ujung lidah
Nafas yang terus-menerus terengah
Diburu oleh ketakutan akan tangan-tangan penjamah
Terbungkam oleh sesaknya asap-asap bekas negeri terjajah
Lidah keki kaki mati suri tak bernyawa seperti itulah
Aku tak memikirkan bagaimana rongga mulut tercekik sampah
Sampah dari janji-janji memabukkan penuh tuah
Tak adakah selama ini celah untuk berikilah?

Kami terkungkung oleh permainan mereka
Kami terbelenggu oleh rayuan-rayuan mereka
Kami tertipu oleh manisnya lisan mereka
Kami terhanyut oleh dayu-dayu janji mereka
Kini kami tak dapat menggerakkan lidah
Kini kami tak dapat menyuarakan suara kami
Kini kami tak dapat melihat ujung dunia sebenarnya
Kini kami tak punya ruang untuk bercerita

Mereka membungkam kami seakan kami teroris
Mereka menjagal kami seolah-olah kami adalah mimpi buruk
Mereka membakar lidah kami seakan memiliki racun
Mereka memotong tangan kami seolah kami berkuasa
Mereka menyiksa setiap senti kulit kami seolah itu pantas
Mereka menyiram kami dengan dusta untuk memusnahkan kami
Mereka mencabik-cabik kehidupan kami demi terjaganya kebohongan
Mereka membuat kami seperti nyamuk-nyamuk ganas di hutan tak tertembus

Tentang Penulis:
*Kumba P. Dewa
Penulis adalah mahasiswa jurusan Psikologi Fakulras Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini aktif sebagai anggota LPM Perspektif.

(Visited 42 times, 1 visits today)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here