Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Ruai

Fotografer: Hardi Fitra
Oleh: Sara Salim*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Bertanya sejatinya kemampuan manusia paling andal. Lebih mudah menulis 203 baris “saya tidak akan mengulangi perbuatan saya” dalam sebuah hukuman daripada menjawab pertanyaan, apa hubungannya kenakalan dan hukuman seperti itu. Sama dengan tak ada hubungannya rambut gondrong dan kemampuan akademis, tapi selalunya dilarang dengan alasan kerapian.

Seorang guru dari sekolah pulau pernah mengatakan, “Manusia ini memang ada-ada saja. Mengada-ngadakan yang tidak ada. Habis itu mengeluh karena perbuatannya sendiri. Kalian tahu, kenapa Michael Jackson sekaya raya dan seterkenal itu tetap menderita di dalam hidup? Ya, karena sebenarnya dunia yang dia punya itu dibangun di dalam sekat bernama ketenaran dan kekayaan. Ah, kalian belum paham, ya? Maksud saya, dunia Michael Jackson itu adalah dunia yang diinginkan semua orang, sebuah dunia yang diciptakan secara sengaja, orang-orang mengikuti dia, menuhankan dia padahal dia sendiri menderita. Dia pernah bilang, tak ingin hidup anak-anaknya seperti dia, dia menyebut hidupnya bagai ikan kecil dalam akuarium,” katanya kepada para murid di tahun ketiga itu.

Anak-anak itu ternganga, sebagian murid yang duduk di bangku paling belakang bahkan sudah berlayar ke pulau kapuk, dan barisan paling depan pura-pura mendengarkan sambil manggut-manggut.

“Saya juga bingung menjelaskan esensi seberat ini kepada kalian. Tapi setelah kalian menamatkan masa SMA, dunia yang sesungguhnya sudah menanti. Dunia tidak baik-baik saja yang ditopeng apik oleh orang-orang dewasa. Saya hanya ingin pesan, ikuti antena kalian masing-masing.”

Dia suka sekali bercerita. Tidak peduli murid-muridnya bosan dan gumoh dengan ucapannya. Namun, tak jarang ia juga jadi guru yang menyenangkan. Soalnya ia hanya memberikan tugas sebulan sekali, ulangan dua kali dalam satu semester, dan sisanya dia membebaskan para siswa mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan menggambar. Ia tak menghiraukan sejelek apa gambaran siswanya, nilai mereka selalu A.

“Sangat subjektif memberikan nilai lain daripada A. Saya sendiri tidak tahu apakah bisa mencapai ide dan kemampuan kalian dalam menciptakan sebuah gambar,” ujarnya memberikan alasan pada suatu waktu.

Laki-laki dengan rambut klimis itu mengakhiri pelajaran Seni Budaya-nya. Seperti biasa, ia tetap jadi manusia misterius. Tidak ada yang bisa menjelaskan dia suka hidupnya atau tidak. Dengan pembawaan setenang itu, ia membangun sekat paling halus.

Berbanding terbalik dengan rupanya yang tidak pernah dikenali orang-orang. Dia selalu mengulangi perkatannya tiap bertemu para murid, “Kalian tidak butuh topeng, pakai muka kalian sendiri!”

Rupanya cerita tentang Michael Jackson pada hari itu menjadi cerita terakhir. Ia dipindahtugaskan ke tempat lain. Tidak ada yang tahu pasti.

Di majalah dinding di dekat kantin yang sudah berdebu karena tak pernah diurusi, ia meninggalkan jejak tulisannya. Menulis sebuah cerita pendek yang lebih mirip nasihat.

Untuk Semua yang Sedang Berada Di Ujung

Semua ujung sama saja, yang beda hanya wujudnya. Namun, gelisahnya tetap sama. Baik ujung masa SMA, ujung semester, ujung drop out, ujung usia 20-an, dan ujung nyawa.

Banyak manusia yang bertumbuh dari untaian kalimat yang kata orang menguatkan. Ada yang bertumbuh menjadi setinggi 155 atau 180 cm setelah dipupuk oleh maki dan siraman rohani tak habis-habisnya. Pada suatu titik, manusia-manusia akhirnya tenggelam karena disirami terus, bingung harus mati atau lantas jadi besar.

Di tempat manusia dilahirkan, di rumah yang katanya memberi rasa tenang, ada sekelumit resah yang sungkan buat disampaikan. Mereka yang menyebut diri orang tua sering mengilhami tuntutan-tuntutan tersebut wajar dibebankan bahkan sebelum anaknya dilahirkan. Lahir sebagai siapapun dan tuntutan itu melekat jadi kodrat.

Hari berganti hari dan musim membawa harapan di diri bersanding dengan tuntutan yang rumit. Tidak akan pernah ada lagi titik nol meski manusia menangis darah karena menyesali kelahirannya.

Manusia mungkin mempertanyakan mengapa harus menyembunyikan tangis dan riuh perasaan hanya karena berjenis yang seperti orang sebut, laki-laki. Beberapa mempertanyakan mengapa harus tunduk pada keindahan sendiri hanya karena berjenis yang seperti orang sebut, perempuan.

Mari menemukan sebuah harap kembali. Semua orang hidup untuk pertama kalinya dan tidak ada yang tahu pasti seperti apa medan yang menanti. Jadi, perihal tuntutan ini dan itu hanyalah konstruksi sosial yang memang bangsat.

Jangan baik-baik saja!

(Visited 104 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2018 Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya. Saat ini aktif sebagai pimpinan divisi sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts