Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Sosialisasi Mawapres FISIP Dipertanyakan

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Malang, PERSPEKTIF – Mahasiswa Berprestasi (Mawapres) merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Menurut buku pedoman pemilihan mawapres program sarjana dan diploma yang disusun oleh Dikti bahwa penyelenggaraan mawapres tersebut sejalan dengan visi, misi dan program kerja pemerintah yakni pengembangan kemahasiswaan diarahkan untuk mengembangkan kemandirian dan kepribadian.

Setiap tahunnya, Universitas Brawijaya turut mengadakan kegiatan ini, termasuk di tingkat fakultas. Sejak diselenggarakan mulai tahun 2004 tentunya gaung penyelenggaraan Mawapres sudah selayaknya diketahui oleh mahasiswa. Namun, faktanya tak banyak yang mengerti seperti apa konsep Mawapres. Banyak yang mempertanyakan minimnya sosialisasi kegiatan ini. Padahal, dengan sosialisasi yang baik tentu antusiasme mahasiswa untuk berpartisipasi akan meningkat. Dengan begitu panitia berkewajiban membuat sistem seleksi makin ketat dan mahasiswa yang terpilih benar-benar mumpuni untuk bersaing di tingkat universitas bahkan nasional.

Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik sendiri sosialisasi mengenai Mawapres dikeluhkan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) yang ada. Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (HIMAP) Muhammad Farhansyah mengungkapkan sosialisasi Mawapres sangat mendadak. “Kebetulan saya juga dari himpunan sangat menyayangkan sounding mawapres ini, jujur pada saat itu terlalu mendadak menurut saya padahal acara seperti ini tiap tahun ada,” ungkapnya.

Farhan menambahkan, Program Studi Ilmu Pemerintahan sendiri pun sangat menyayangkan mengenai mendadaknya hal tersebut, terlepas dari itu Ilmu Pemerintahan sendiri sangat mengapresiasi kegiatan mawapres tersebut sehingga dari Himpunan Ilmu Pemerintahan mendapatkan 5 orang untuk diseleksi lagi sebagai mawapres dari Ilmu Pemerintahan.

Senada dengan Farhan, Kepala Divisi Advokesma Himpunan Mahasiswa Sosiologi (HIMASIGI) Defan Arganis Hartas menyatakan ada yang harus digarisbawahi dari penyelenggaraan Mawapres. Terutama soal sosialisasi yang harus dilakukan dengan cermat. “Waktu seleksi di jurusan hanya sekitar satu minggu tentu terlalu mepet untuk menyiapkan Mawapres,” ujarnya.

Proses seleksi Mawapres tingkat fakultas yang usai siang tadi (4/3) memunculkan Annisa Ridhatul, mahasiswi Hubungan Internasional, sebagai Mawapres FISIP. Banyak yang berharap Mawapres kali ini berprestasi hingga tingkat nasional dan aktif berpartisipasi di bidang kemasyarakatan.

Farhan kembali mengingatkan tujuan Mawapres adalah membentuk insan akademis yang berguna bagi masyarakat sekitar bukan hanya sekedar predikat. “Ketika bicara urgensi, sebenarnya yang lebih penting lagi adalah bagaimana substansi melampaui kemasan, maksudnya adalah seberapa bergunakah ilmu mereka nantinya untuk diterapkan dimasyarakat,” pungkasnya. (lta/kmb/rip)

(Visited 337 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Beda

Iklan

E-Paper

Popular Posts