Kami tak pernah membencimu.
Bagaimana mungkin?
Darah kami keluar dari nadi tanahmu,
nafas kami dititipkan pada paru-paru pohonmu,
jantung kami berdegup seirama dengan hutanmu.
Yang kami benci hanyalah mereka
yang menelanjangimu di alun-alun,
yang mencabuti nyawamu seperti mencabuti rumput liar,
yang duduk di kursi batu,
diam, dingin, namun terus menghakimi usia tubuhmu.
Kehidupanmu telah lama dicacah,
dihancurkan perlahan seperti jam yang diputar mundur
oleh tangan yang pura-pura adil.
Kami—
hanya bisikan doa yang bergema di lorong sunyi,
menggantung pada langit yang tidak lagi tahu
kepada siapa ia harus berpihak.
Berjuta kaki menapaki tanahmu,
berjuta pula yang menyerbu dengan teriakan,
seolah cinta dapat menjadi benteng,
padahal mereka yang berkuasa
menjadikan cinta itu sebagai alasan
untuk menyalakan api pengadilan.
Kami mencintaimu, negeri merah putih,
meski tubuhmu koyak,
meski demokrasi di perutmu membusuk
dan bau busuknya menyesakkan dada kami.
Dan ketika giliran kami tiba,
kami akan diseret ke ruang sidang
yang tak mengenal pintu keluar.
Di sana, di bawah bendera yang kami ciumi,
kami akan diadili,
dihukum mati oleh tangan yang mengaku suci.
Seperti kami menulis nasib yang tak bisa dihindari,
kami akan mati di negeri sendiri.



