Temaram liar saat aku melihat
wajah-wajah penuh tinta merah
berjajar dalam lamunan liang lahat
Angin pun enggan menyebut nama mereka
Takut tertusuk pedang-pedang ingatan
yang berkarat dalam puing pidato kekuasaan
Mereka tak lagi berteriak
hanya tubuh-tubuh bisu yang menggigil
di antara patah doa dan sekarat jiwa
Mata mereka masih terbuka menatap
Langit yang pura-pura bisu,
sementara bumi terlalu sibuk
menelan kebisuan yang menjelma dosa
Sedangkan aku berdiri—
dengan dada yang kempes oleh sejarah
menghitung batu nisan layaknya
menghafal ayat tanpa kitab
(Visited 18 times, 1 visits today)




