Lompat ke konten

Episode

Ilustrasi oleh Puri
Oleh: Azizah Novi*

Otot jariku terasa kaku manakala tangan membuat gestur tinju, seakan-akan ada samsak yang perlu ditaklukkan. Mungkin ada, tapi kali ini tidak materialistik. Adalah pikiran-pikiran yang ada di kepala saat ini; destruktif, negatif, penuh dengan kebencian yang targetnya cuma diri sendiri. Reaksi fisik yang ditimbulkan tidak hanya memengaruhi tangan yang mengepal kuat dan gemetaran, tetapi juga paru-paru yang dipompa dua kali lebih keras. Oksigen rasanya terbatas, sesak, gelisah karena lama-lama jadi kewalahan bernapas. Aku harus melakukan sesuatu.

“Melakukan apa?” Suaranya menginterupsi.

“Kamu nggak berdaya!”

“Kamu ini nggak bisa apa-apa. Siapa yang akan peduli dengan drama mu? Orang-orang sibuk.” Napasku tercekat ketika beberapa nama mampir di kepalaku, harap-harap untuk bersedia diajak mengobrol.

“Kamu nggak pantas minta tolong. Kamu pantas melalui ini sendirian.”

Kemudian detik selanjutnya yang aku tau adalah rasa sakit yang menjalar ke dua sisi kepala bagian atas, kanan dan kiri. Tidak parah, tapi mengganggu sebab rasanya seperti ditusuk dan berdengung. Air mata semakin bercucuran deras dibarengi dengan lendir hidung, memperparah pusing. Setelah ditusuk, berdengung, kemudian dihantam sesuatu yang tidak terlihat. Sakit. Penuh. Sesak. Tolong berhenti.

“Enggak bisa berhenti begitu saja, kamu pantas menerima ini semua.”

“Kamu pemalas—kata Mama kamu pemalas. Kamu anak nggak tahu diri, beliau kerjaanmu mengacau. Nggak becus! Suka bikin kesalahan, dramatis, jorok. Perempuan kok jorok. Amburadul! Kamu nggak berharga.”

Sebuah napas lemah nan panjang meluruh lewat bibirku yang terbuka, berusaha mengatur paru-paru.

“Kamu nggak pantas dicintai.”

Tarik nafas.

“Kamu akan lebih baik kalau tergeletak di rumah sakit.”

Buang. Panik mulai menyusuri tubuh yang ditemani rasa gusar, gelisah, dan cemas.

“Kamu sebaiknya mati.”

Gagal. Percobaan atur nafas itu gagal. Tangisan ini tak bersuara, tapi semakin kencang. 

Tiba-tiba atmosfer yang awalnya gelap dan mencekam sedikit tercerahkan dari sosok yang tandang di ujung, diselimuti cahaya redup yang cerah. Suasana yang ia bawa menjadi lebih nyaman, meskipun masih tercekat. Seperti embun di pagi hari, seperti alas kaki yang menghangatkan telapak bawah ketika menembus hujan sepulang sekolah, seperti cahaya matahari di pojok langit mendung yang membawa harapan bahwa hujan tidak jadi datang di penjuru sana. 

Aku ingin tetap bergerak dan pergi dari sini. Mungkinkah bantuan itu? 

Semakin dekat keberadaannya, semakin longgar kebebasanku untuk bernapas dan rehat dari negasi diri. Aku terisak sambil membuang udara, rasanya seperti ada yang membawaku kembali ke bumi.

“Bisakah sedikit lebih lembut?” Suaranya seperti sutra yang berhembus angin, berbanding terbalik dengan Suara Hitam.

“Buat apa aku lembut untuk sampah? Tidak pant-”

“Siapa yang kamu sebut sampah?” Ia meraih tanganku, mengusapnya dengan kelembutan ekstra. Kedua mata yang sekarang menatap netra ketakutanku memancarkan sesuatu yang hangat.

“Dengarkan aku, ya? Dengarkan aku, ya, Lastri.” Aku mengangguk, tersedak ludah sendiri hingga batuk berkali-kali. Entah kenapa rasanya peristiwa yang terasa seperti bencana ini terlalu mustahil untuk berakhir begitu cepat. Firasatku berkata yang lain.

“Kamu mau bicara apa dengan dia? Biarkan dia, tinggalkan dia. Dia pantas membusuk!” Kupingku berdengung namun ucapan sosok gelap itu jelas menusuk gendang telinga.

“Yang pantas membusuk adalah kamu! Anak ini sudah berusaha sekuat mungkin, sebaik mungkin. Kalau kamu tidak tahu caranya mengapresiasi, biarkan aku saja! Lastri, Lastri, kamu berharga. Kamu punya banyak cinta dari orang-orang terdekat.”

“Mama?” tanyaku serak. Kemudian seluruh makian Mama yang pernah dilayangkan untukku seakan diputer kembali, tidak lupa dengan nadanya.

Suara tawa memecah kesunyian sementara itu, milik Suara Hitam.

“Mama? Punya cinta? Setelah menyuruh dia pergi dari rumah cuma karena tidak melakukan pekerjaan rumah?” tukas Hitam.

Angin diam. Alih-alih menatap lawan bicaranya, sosok lembut itu memperhatikanku lamat-lamat. Aku yang tergeletak dan meringkuk.

“Setelah beliau mengancamnya untuk berhenti sekolah hanya karena hal-hal sepele?” Kedua tanganku berusaha menutup kuping, enggan mendengar kilahan Hitam meskipun terdengar seperti belaan.

“Setelah dia dipermalukan di depan teman-teman karena cuciannya menumpuk? Apakah dengan menunjukkan baju-baju kotor seperti pameran di depan anak kelas 6 SD bisa disebut cinta?”

“Mama punya cinta untuk aku?” Tawa Hitam berubah jadi gelakan sarkas, memenuhi ruangan kosong yang tiba-tiba terasa penuh. Penuh dengan kemarahan, kesedihan, kenelangsaan. Mungkin aku hanya ingin cinta. Mataku sempat melirik bibir Angin yang bergerak, lagi-lagi suaranya terdengar kontras dengan sosok satunya.

“Ingatkah saat Mama memasak makanan favoritmu? Menyuapimu nasi karena tugas-tugas kuliah menyita hampir setengah hari waktumu? Manakala Mama mencium pipimu setiap pagi setelah di depan sekolah setelah diantar?” tanyanya padaku. 

Tentu saja tidak untuk kujawab, melainkan untuk direnungkan. Belum sempat kata-katanya kuproses, Hitam menyahut.

“Tapi Mama juga berhenti menciumnya saat marah. Mama sengaja mempercepat laju motor bahkan di jalan yang tidak rata untuk melampiaskan amarah ke Lastri. Tidak bisakah berkomunikasi yang baik layaknya manusia dewasa yang sehat?” bantahnya dengan mata memicing. 

Lagi-lagi tidak diperhatikan oleh Angin, mata sejuknya memandangku.

“Lastri, Mama memang menyakitkan saat marah. Tapi itu tidak ada hubungannya dengan seberapa berharga kamu. Memangnya yang punya cinta untuk kamu hanya Mama?” Tangisku mengalir seperti sungai. Seluruh opini oposisi dari Si Hitam tidak membantu apapun kecuali sakit di kepala yang semakin terasa.

Suaraku hampir macet di tenggorokan, tenagaku habis untuk bersuara lagi. “Bisakah kalian berdua berhenti berdebat?”

“Aku lelah….” Suaraku terseret, hampir tidak jelas karena diredam oleh tangis.  

Tidak lupa juga dengan ego masing-masing sosok untuk menerobos argumen masing-masing, satunya rasional, satunya emosional. Aku memohon berkali-kali, tampaknya tidak digubris karena aku sendiri sudah terlalu lelah untuk melihat. 

Kedua mataku terkunci erat-erat, seperti enggan untuk dibuka lagi. Kedua tangan masih memegangi kuping, berusaha untuk sedikit lebih tuli meskipun tidak ada gunanya. Ketegangan yang terjadi antara mereka berdua di ruangan ini terlalu nyata untuk mati rasa. Terlalu perih untuk dikebaskan. Setidaknya aku tidak melukai diri sendiri, meskipun Hitam benar, mungkin aku lebih baik mati.

Suara Hitam dan Angin yang awalnya bersahut-sahutan tiba-tiba sedikit merendah, sampai akhirnya berhenti. Berhenti, namun tidak hilang. Mereka tetap disana, sama-sama mengernyit akibat suara decitan pintu di ruangan hampa ini. Pembatas yang terbuat dari kayu tua itu terbuka perlahan. 

Kami bertiga tercengang karena melihat sesuatu dengan rupa familiar, pelan-pelan muncul dari balik pintu. Terlihat seperti surai yang menjuntai, rambut yang dikuncir dua? Seorang anak kecil tengah ketahuan mengintip. Tatapan itu penuh dengan binar keingintahuan, kami menemukan bahwa ia tengah memeluk malas boneka kecil di tangan kiri setelah seluruh badannya masuk ke ruangan. Netra kami bertemu dan atmosfer di ruangan berganti dengan kebingungan. Kami punya pertanyaan yang sama,

“Siapa dia?”

(Visited 88 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya tahun 2021. Saat ini aktif di Divisi Sastra LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?