Lompat ke konten

Apa Sebenarnya Arti Kehidupan?

Ilustrator - Muthia Fakhira
Oleh: Intan Ariestianti*

Kembali lagi aku merenung duduk di lantai, bersandar pada pinggir tempat tidur di kamar kos berukuran 3×3 meter. Tak tahu sudah berapa kali aku berpikir dengan kepala kosong dan jiwa yang entah melayang ke mana. Kesekian kalinya aku menanyakan untuk apa aku hidup. Seperti apa itu hidup. Apa gunanya hidup. Apa tujuanku untuk hidup. Seberapa penting hidup. Sebenarnya definisi hidup itu apa. Hidup bagiku itu niskala. 

Hidupku selama ini hanya berulang, menjalani rutinitas. Setiap pagi aku bangun, mandi, berangkat bekerja, lantas pulang dan kembali tidur, begitu seterusnya. Tidak ada yang istimewa dalam hidupku. Jika hidupku tidak memberikan manfaat untuk diriku sendiri, apalagi untuk orang lain. Mungkin saja aku hidup untuk menjalani apa yang sudah dipersiapkan, tapi apakah aku menerima hal itu? Apakah itu memang yang aku inginkan?

Jika kalian tahu pengrajin kain rajut yang sedang menerima banyak pesanan hingga benang rajutnya bertumpuk tak karuan, saling menindih dan mengikat satu sama lain, seperti itulah pikiranku saat ini. Mengurainya menjadi benang gulung yang rapi akupun tak sanggup. Bahkan hal sekecil itu tidak becus kulakukan. Wah, ternyata aku memang tidak berguna. 

Aku tertawa, tawaku terdengar sumbang, suara kipas angin di atas meja seakan mengejekku. Menertawakan apa? Tentu saja menertawakan kebodohanku untuk memahami hal-hal kecil. Sesuatu yang seharusnya kupikirkan lantas kuwujudkan menjadi sesuatu yang abu-abu. Ini aku yang bodoh atau memang hidup yang terlalu sulit untuk dipahami?

“Begini lagi?” Tiba-tiba suara itu datang lagi, aku yang sedang duduk bertekuk lutut dan menenggelamkan wajahku mau tak mau mengangkatnya.

“Apa lagi yang kamu pikirkan?” Ah sialan, dia datang lagi, menanyaiku lagi, dan mengganggu waktu depresiku. Mungkin kalian akan menganggap berlebihan ketika aku menyebut “waktu depresi”, tapi itulah sebutan yang aku gunakan untuk kegiatan duduk berjam-jam seperti ini. Sebenarnya sebutan itu mulai kupakai karena aku tahu apa yang terjadi pada diriku. Sejak diagnosis dari psikiater muncul, aku mulai melabeli diriku dengan hasil diagnosis tersebut. Lupakan, aku tidak pernah minum obat yang diberikan karena aku tidak suka dengan efek sampingnya.

Dia masih duduk di hadapanku, menungguku memberikan jawaban. Aku benci jika ditanya, aku benci jika harus menjawab, aku benci menjelaskan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak paham. 

“Apa?” tanyaku dengan ketus.

“Loh kenapa jadi balik bertanya? Kan saya yang tanya lebih dulu ke kamu.” Suaranya terdengar lembut, seperti semilir angin di pinggir sawah waktu sore hari.

“Oh, biasalah, ya begitulah. Kamu bisa baca pikiranku kan, kenapa harus tanya?” Aku muak, aku malas, dan aku tidak ingin mengobrol.

“Tapi saya ingin dengar langsung dari kamu.” Wah, sialan batinku. Kenapa aku harus menjelaskan jika pada akhirnya tidak membantu.

“Kenapa kamu ada di sini? Aku lagi ingin sendiri, kenapa kamu selalu ganggu sih, pergi aja sana!” Secara tidak sadar aku meninggikan suaraku kepadanya. 

“Saya tahu kamu punya beribu pertanyaan, mungkin dengan membicarakannya saya bisa memberikan satu atau dua jawaban.” Dia masih menjawabku dengan lembut, menanggapiku dengan sabar. 

“Gak ada yang bisa kamu jawab, kamu gatau apa-apa.”

“Biar saya tebak.” Aku membiarkannya mengoceh, sebenarnya aku sedikit ingin tahu kelanjutan apa yang akan dia katakan.

“Menurut saya jangan.”

“Apa yang jangan?” Dahiku berkerut kebingungan. 

“Kamu sedang berpikir bagaimana caranya menghilang dari dunia ini dengan kedamaian.”

“Apa maksudnya kedamaian? Aku aja selama hidup gak pernah damai, gak adil rasanya aku mau mati damai.” Sepertinya hanya omong kosong yang akan dia bicarakan.

“Iya saya tahu, tapi saya juga tahu pikiran kamu yang ingin menghilang dari dunia ini seindah bertamasya di kebun bunga matahari, menggunakan gaun merah muda favoritmu dengan rambut digerai dan menggunakan jepitan rambut di pinggir kiri.” 

Mungkin aku memang gila. Mungkin baiknya aku mati dengan kesengsaraan, tenggorokan yang tercekat, atau mungkin dengan genangan cairan merah yang menjadi air mandi terakhirku. Aku rasa mati dengan kedamaian memang tidak cocok untukku, seseorang yang bahkan dalam kehidupan yang tak terasa hidup tidak memahami dan menemukan kedamaian.

Dia ini siapa, datang membawa ceramah yang tidak ingin kudengar, memberikan petuah yang akupun tidak peduli. Aku hanya hidup menjalani rutinitas, untuk apa aku menerima nasihat yang tidak akan pernah kulaksanakan. Omongannya hanya sekilas lewat di telingaku. Dia bagaikan orang tua yang memberi wejangan untuk anaknya yang beranjak dewasa. Sudah cukup. Aku. Tidak. Peduli. 

“Meski kamu hidup dengan kebingungan, menurut saya wajar saja jika kamu ingin kematianmu diselimuti dengan kedamaian. Hal tersebut tidak salah, tapi apakah meninggalkan dunia tanpa seizin-Nya tidak menyalahi aturan?”

Persetan dengan aturan. Manusia yang ingin mati tidak peduli dengan aturan. 

Tiba-tiba suaranya menghilang perlahan, seperti radio yang dikecilkan volumenya. Aku tidak melihatnya, aku benar-benar tidak peduli. Kutegaskan sekali lagi, aku tidak peduli. Seiring suaranya yang menghilang, tubuhku seakan melayang, mendapatkan kebebasan secara mendadak membuatku sedikit senang. Aku seperti mengapung di laut lepas tak berujung. Suaranya benar-benar hilang, sosoknya memang tidak ada sejak awal. 

Sepertinya aku sudah menemukan kedamaianku, meninggalkan lima strip bungkus antidepresan yang tercecer di lantai. 

(Visited 34 times, 1 visits today)
*) Penulis adalah mahasiswa jurusan Psikologi angkatan 2023. Sekarang sebagai Pimpinan Divisi Sastra LPM Perspektif 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?