Perempuan itu tidak pernah mengingat di tanggal berapa bunga itu mekar.
Tanpa disadari,
sudah merekah saja kelopak itu.
Dibiarkan tangannya itu meraba,
tanpa sadar mengusik,
tapi sendirinya entah tak tahu atau tak mau tahu.
Jatuh satu persatu kelopak yang baru merekah.
Bunga memang hidup untuk tak kekal.
Tapi apa kuasa sebuah tangan untuk membiarkannya mati?
Mungkin perempuan berpikir dalam “mati satu tumbuh seribu.”
Tapi tak ada seribu bunga di taman.
Hanya satu.
Di sekitar tanggal yang sama di musim selanjutnya,
hal yang sama akan terjadi lagi.
Akan ada batas di mana bunga
yang hanya satu itu, mati.
(Visited 28 times, 1 visits today)





