Malang, PERSPEKTIF – Jalan Veteran yang dikenal sebagai titik ramai mahasiswa Universitas Brawijaya, tetap menjadi lokasi utama pedagang kopi keliling. Meski penjualan dikarenakan musim hujan, serta jumlah pedagang yang semakin bertambah, aktivitas jual beli tetap berlangsung karena para pedagang yang bekerja sebagai mitra usaha bergantung pada komisi harian dari setiap cup yang mereka jual.
Meski menjual produk serupa di lokasi yang sama, cara pandang para pedagang terhadap persaingan berbeda-beda. Arif, yang merupakan pedagang Kopi Keliling Lombok mengaku tidak mempermasalahkan banyaknya pedagang kopi keliling di area tersebut.
“Soalnya tiap brand punya ciri khas rasa sendiri-sendiri. Kita juga pede dengan brand kita kalau rasanya nggak kalah,” jelas Arif (10/11).
Berbeda dengan Jati (bukan nama sebenarnya), pedagang dari Akan Ngopi yang telah beroperasi selama tiga bulan. Ia memilih untuk mendukung dagangan dari penjual kopi keliling lain yang sedang sepi.
“Ya lebih saling support aja sih. Kayak seumpama ada yang kurang laku, pasti kan disuruh beli di situ,” jelas Jati (12/11).
Para pedagang menyebut musim hujan membuat penjualan menurun. Arif mengaku menerima komisi dari penjualan harian dengan jam kerja pukul 09.00 –17.00.
“Misal sehari cuma bisa jual 50, ya 500 perak kali 50. Nggak ada target khusus,” ujarnya (10/11).
Jati mengatakan berpindah lokasi menjadi strategi untuk mengejar penjualan, termasuk berjualan di area Universitas Negeri Malang pada malam hari. Ia menambahkan bahwa lapangan pekerjaan saat ini sulit dicari.
Arif turut menyatakan bahwa ijazah juga tidak lagi menjamin seseorang mendapat pekerjaan tetap.
“Mungkin ijazah sekarang juga nggak sepenting dulu. Sekarang kalau ada orang dalam baru bisa masuk kerja,” ujarnya.
Dengan keadaan pendapatan naik turun dan cuaca yang kerap menghambat, para pedagang kopi keliling tetap bertahan. Bagi mereka, komisi harian menjadi pilihan pekerjaan yang tersedia di tengah terbatasnya peluang kerja tetap.
(gz/zn/hr/nat)





