Lompat ke konten

Epilog: Penutup dari Bilal

Desain Grafis - Ahmad Fazlur
Oleh: Elvada Putri Awaliah*

Wiranto Tower berdiri di kejauhan seperti penjaga kota yang terlalu tahu banyak rahasia. Lampu-lampunya menyala tidak serempak, sebagian mati, sebagian berkedip, seolah gedung itu bernapas dengan ritme sendiri. Dari lantai paling atasnya, kota terlihat kecil dan manusia apalagi—lebih kecil.

Aku selalu percaya, tempat tinggi adalah tempat terbaik untuk menyembunyikan kebusukan.

Malam itu, aku meninggalkan Wiranto Tower dengan perasaan ganjil. Bukan takut. Bukan cemas. Melainkan perasaan bahwa sesuatu yang selama ini kuanggap latar, pelan-pelan maju ke panggung utama.

Bilal.

Rumahnya masih sama. Dinding kusam. Lampu ruang tamu redup. Bau macam bawang yang selalu tertinggal di udara. Ia duduk di kursi kayu, menungguku seperti biasa, dengan senyum canggung yang selalu membuatku aman.

“Kau terlihat lelah,” katanya.

“Aku selalu lelah,” jawabku.

Kami diam lama. Keheningan itu terlalu rapi, seperti adegan yang sudah dihafal. Aku baru sadar, Bilal jarang bertanya. Ia tidak ingin tahu. Ia hanya ingin mendengar.

Dan aku… terlalu senang untuk berbicara.

___________

Keesokan harinya aku bangun seperti biasa. Tidak ada mimpi aneh atau firasat apa pun. Pagi itu berjalan normal. Aku keluar kamar karena lapar. Di rumah itu, aku jarang berhenti untuk hal-hal kecil seperti sarapan. Tapi pagi itu berbeda. Aku ke dapur.

Di dapur, ibu Bilal berdiri menghadap wajan. Minyak mendesis pelan. Tempe goreng mengapung kecokelatan, di sampingnya seutas weci yang hampir matang. Aroma sederhana itu memenuhi ruangan, hangat, akrab, dan terlalu normal untuk hidup yang kujalani. Aku berdiri di ambang pintu, memperhatikannya beberapa detik sebelum akhirnya duduk.

“Coba ini,” katanya sambil menyodorkan sepiring kecil.

Aku mengambil sepotong tempe goreng. Renyah kurasa saat digigit. Rasanya membuatku terdiam lebih lama dari seharusnya.

“Mau sekalian kopi?” tanyanya lagi. “Biar bareng sama Bilal.”

Aku hampir tersenyum. Anak secupu itu? Kuat ngopi juga? Dalam kepalaku, Bilal selalu hadir sebagai sosok yang sama, senyum tolol tiap pagi, menyapaku sambil menyeret sandal, lalu mengajakku ke pasar. Aku jarang benar-benar melihatnya di pagi hari. Setiap kali ia pergi ke pasar, aku juga sudah lebih dulu pergi. Mungkin karena itu aku tak pernah tahu kebiasaan-kebiasaan kecilnya—kebiasaan yang barangkali jauh lebih “manly” dari yang kubayangkan.

Aku mengunyah pelan, pikiran melayang. Andai saja aku tahu sejak lama. Mungkin kami akan duduk di teras tiap malam, nyebat sampai subuh, berdebat soal teori bumi datar atau hal bodoh lain. Pikiran itu lewat begitu saja, cepat, dan anehnya terasa sayang.

Tak lama kemudian aku pamit. Pekerjaan, kataku singkat. Ibu Bilal hanya mengangguk, seperti selalu. Tanpa pertanyaan. 

Aku keluar rumah dan langsung menuju Wiranto Tower.

___________

Aku berdiri di area kosong di sekitar Wiranto Tower sambil membersihkan pisau lipatku. Gerakanku berhenti di tengah jalan. Ada sesuatu yang terasa ganjil. Bukan ancaman langsung, bukan pula rasa takut. Lebih seperti perasaan sedang diperhatikan. Aku menoleh ke arah gedung tinggi itu tanpa alasan yang jelas.

Lampu di salah satu lantainya berkedip tiga kali. Polanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan. Aku memperhatikan dengan saksama dan memastikan tidak ada gangguan listrik di sekitarnya. Saat itulah aku sadar. Seseorang sedang memberi tanda, dan aku tahu siapa orangnya.

Aku menarik napas pelan dan menyelipkan kembali pisau itu. Dalam kepalaku, bayangan Rafael muncul tanpa diminta. Ia bukan lagi anak yang kehilangan ayah. Ia sudah berubah menjadi masalah yang sengaja mencari arah. Aku tidak merasa terancam, tetapi rasa ingin tahu mulai mengganggu. Aku ingin melihat reaksinya. Aku ingin tahu sejauh mana ia akan mendorong dirinya sendiri.

Aku merapikan jaket dan memasukkan Glock ke belakang pinggang. Tidak ada kata yang perlu diucapkan. Isyarat itu sudah cukup. Jika Rafael ingin permainan ini berlanjut, aku siap mengikutinya. Dari arah Wiranto Tower, lampu itu kembali berkedip. Kali ini hanya sekali. Seolah memastikan bahwa pesannya sudah diterima.

Di bawah Wiranto Tower.

Ia berdiri di sana, Rafael, tepat di titik bayangan gedung memotong cahaya lampu jalan. Wajahnya tirus, matanya merah. Ada kesedihan yang belum selesai di tubuhnya, dan aku tahu kesedihan semacam itu tidak pernah benar-benar ingin sembuh.

“Ayahku mati dengan mata terbuka,” katanya tanpa basa-basi.
“Seperti ingin memastikan kau melihatnya.”

Aku menyalakan rokok. Asapnya naik, menyentuh bayangan Wiranto Tower di udara.
“Dan kau ingin apa dariku?”

Ia tersenyum. Senyum orang yang sudah membuang rasa takut.
“Kau.”

Kami tidak bertarung malam itu. Kami hanya saling menimbang. Dua pisau yang sama-sama tajam, saling menunggu siapa yang lebih dulu goyah.

Aku pergi dengan satu kesimpulan,
Rafael berbahaya.
Tapi masih bisa ditebak.

Kesimpulan itu… kesalahan terbesarku.

Gudang dekat pelabuhan itu berada tepat di jalur bayangan Wiranto Tower. Dari celah atapnya, lampu gedung tinggi itu terlihat seperti mata raksasa yang mengintip. Aku masuk lebih dulu. Selalu begitu. Kebiasaan lama.

Rafael datang kemudian.

Tanpa kata, ia menyerang. Tangannya di leherku. Dunia menyempit. Bau laut, karat, dan amarah bercampur jadi satu. Aku mulai takut pada kematian. Namun malaikat maut tidak pernah membenci makhluk sepertiku. Aku tersenyum di tengah cekikannya karena yakin ada seseorang di belakang Rafael.

Bilal.

Aku tidak tahu ia mengikutiku. Wajahnya pucat, tubuhnya kaku, seolah belum memutuskan apakah ia harus lari atau tinggal.

Dalam perkelahian tadi, pistolku terlepas. Senjata itu meluncur di lantai dan tepat di depan kaki Bilal saat ini berpijak..

“Bilal,” kataku terengah. “Lempar.”

Ia menatap pistol itu lama sekali. Terlalu lama. Tangannya gemetar. Ia tidak bergerak.

Rafael menoleh, tersenyum tipis.
“Cepat,” kataku. “Atau sahabatmu akan mati.”

Aku tahu Bilal. Ia tidak akan menembak. Bahkan untuk menyelamatkanku. Karena itulah aku hanya meminta satu hal yang masih mungkin.

Tembakan terdengar.

Dor.

Bukan Rafael yang tertembak.

Tubuhku ambruk ke lantai. Hangat menjalar di dada, menyebar pelan seperti tinta di kertas basah. Dari bawah, aku melihat Bilal menatapku.

Dan untuk pertama kalinya… ia tidak tampak cupu dan tolol.

Ia berlutut di sampingku. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru menembak temannya sendiri.

“Aku sudah lama mengamatimu, Belial,” katanya.
“Sejak Ibnu mati.”

Potongan-potongan waktu yang selama ini tercerai mulai menyatu. Tatapan orang-orang di gang. Pintu yang selalu terbuka tepat waktu. Keheningan yang terlalu rapi.

Aku tersenyum lemah.

“Jadi… ini rumahmu sejak awal.”

Bilal mengangguk. “Dan kau tamu yang terlalu lama tinggal.”

Tatapan orang-orang di pasar. Cara mereka terlalu cepat mengalihkan mata. Transaksi kecil yang selalu terjadi di sudut yang sama. Pasar dekat pelabuhan itu bukan sekadar tempat jual beli ikan dan sayur. Ia adalah pusat peredaran sabu dan pil ekstasi. Jalur masuk. Jalur keluar. Semua orang yang terlihat biasa di sana sebenarnya sedang bekerja untuk ……. Bilal.

Baru saat itu semuanya benar-benar jelas. Ibnu bukan korban acak. Ia adalah bagian dari jaringan. Antek Bilal. Dan Udin, orang yang memintanya dibunuh—sudah lebih dulu dibungkam oleh Bilal sendiri. Setiap mata rantai yang putus selalu diganti dengan kematian.

“Ah, untuk takaran pembunuh keji di Eropa memang tidak layak untukmu, Belial.” Ucap bangga si Tolol itu.

“Dan kau, Rafael. Seharusnya bisa menunggu,” lanjut Bilal. “Aku sudah menyiapkan cara yang lebih bersih menyingkirkan bedebah gila ini. Tapi kau sendiri tidak sabaran.” Setelah kalimat itu, terucap suara tembakan kedua terdengar.

Dor.

Kali ini Rafael yang ambruk ke lantai.

Bilal berdiri diam di depan tubuh Rafael. Punggungnya menghadapku. Bahunya naik turun pelan, seperti orang yang baru selesai melakukan pekerjaan panjang. Darah memercik di pipinya, tipis. Ia tidak menghapusnya.

Bilal berdiri, menatap tubuh Rafael tanpa emosi. “Rekan kerja yang buruk.”

“Seharusnya kau sabar,” kata Bilal akhirnya, tanpa menoleh. Suaranya datar. “Kalau kau mau belajar, kau bisa hidup lebih lama di negara ini.”

Bilal berbalik setengah badan, sekilas menatapku. Matanya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membunuh dua orang dalam satu malam. Lalu ia pergi menjauh, meninggalkanku dengan tubuh Rafael.

Dalam pandanganku yang mulai kabur, satu hal menjadi jelas.

Bilal tidak perlu berdiri di puncak Wiranto Tower untuk berkuasa.
Seluruh kota ini sudah lama berdiri di bawah kakinya.

(Visited 123 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2023. Saat ini, penulis menjabat sebagai Pimpinan Umum LPM Perspektif tahun 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?