Bagaimanapun. Suka atau tidak suka. Mengakui atau tidak mengakuinya. Sastra mencatat bertumbuhmu. Bukan. Bukan lewat garis tinggi badan yang disematkan di tembok ketika Mama memintamu berdiri tegap. Bukan pula lewat timbangan yang menyuruhmu lepas sepatu ketika kamu menginjak mukanya. Sastra mencatat tumbuhmu, lewat kata dan frasa yang kamu sampaikan, lewat kalimat yang berubah menjadi paragraf, pula lewat alur yang berkembang menjadi akhir cerita. Sastra mencatat kamu sejak pertama kali menggoreskan pensil dan pulpenmu ke atas kertas. Ia mencatat dan merekam kehadiranmu, perasaanmu, kehancuranmu, dan pengumpulan dirimu. Sastra mencatat namamu dan karya yang kamu abadikan di atas tubuhnya itu.
Pernahkah kamu mencoba mengingat karya pertama yang kamu tulis? Entah pada kertas lusuh yang selanjutnya kamu sobek, atau pada catatan harian digital yang kamu sematkan di wajah ponsel pintarmu, atau bahkan pada media sosial yang kamu sebut rumah keduamu. Sekarang, aku menyuruhmu mengingat kembali semua itu. Semua tulisan pertama yang pernah dihasilkan jari-jari dan tanganmu. Ingat mereka selayaknya kamu mengingat masa kecil yang pernah kamu jalani dengan penuh gembira. Ingat mereka selayaknya memori tentang mereka tak pernah bisa kamu lupa.
Kamu bertumbuh, itu sudah pasti. Kamu pasti ingat pertama kali dirimu menapaki kelas yang masih kosong karena kamu disuruh Mama buru-buru berangkat pada hari pertama sekolah lagi semenjak lulus dari Sekolah Dasar. Kamu pikir, “Ah, Mama ada-ada saja.” Lalu kamu tergerak untuk berbicara, bercerita kepada teman-temanmu ketika mereka sampai. Serupa denganmu, diantar oleh mama-mama mereka ke sekolah. Atau tidak. Kamu sendirian, ternyata. Sekolah menengah yang kamu tempati sekarang ini bukan menjadi habitat teman-teman kenalanmu sebelumnya selama tiga tahun nanti. Kamu bingung, maka, kamu menulis. Atau menangis? Atau berpegang erat pada tangan Mama yang sejak lima menit lalu sudah ingin sekali melepasmu karena Ibu Guru sudah masuk kelas. Yang pasti, kamu bertumbuh. Kamu bertumbuh, dan kamu mengingat itu. Sekarang, apa pernah kamu menulis semua cerita itu?
Bertumbuh Lewat Sastra?
Sastra adalah medium ekspresi yang luar biasa. Ia tidak bergerak, tidak bersuara, tidak juga berteriak. Namun, ia bercerita dan memiliki muka yang bisa kamu baca. Maka, kamu bersastra karena ia bercerita, untukmu. Maka, kamu bertumbuh, lewat sastra. Ketika kamu menulis surat, entah untuk tugas sekolah atau sekadar iseng saja, kamu berhasil bersastra. Sastra bukan cuma tentang majas meledak-ledak dan frasa yang baru lahir ulah pikirmu. Ia juga tentang caramu menulis dan niatmu menulis sesuatu. Yang jelas, ketika suatu tulisan punya nilai estetika dan jiwa di dalamnya, maka ia sastra. Surat cinta yang kamu tulis kepada calon kekasihmu ketika ia memilih pisah bangku darimu di kelas? Itu sastra. Kamu berhasil bersastra. Maka, jika kamu bertumbuh lewat sastra, lantas, yang bagaimana?
Bertumbuh, Lewat Sastra
Sastra tentang mencatat dan mengekspresikan catatan. Ia hadir kala kamu bingung mencari orang untuk diajak bercerita. Lantas, bertumbuh lewat sastra, sebetulnya bagaimana? Aku sejak tadi menyuruhmu mengingat karya sastra pertama yang kamu pernah tulis. Di sekolah dasar, sekolah menengah, atau bahkan bangku kuliah. Sudah ingat? Jika sudah, ingat juga perasaan, keadaan, dan kondisi diri yang sedang kamu alami pada kala kamu menulis karya tersebut. Sekarang, bandingkan dirimu pada masa kini dengan masa lalu, ketika kamu pertama kali menulis cerita atau karya sastra apa pun itu. Menemukan perbedaannya? Selamat, kamu telah bertumbuh. Bertumbuh, lewat sastra yang mencatat perjalanan hidupmu dengan abadi. Atau, setidaknya, nyaris abadi.
Bertumbuh, yang Nyaris Abadi
Sastra masih selalu tentang mencatat dan bercerita. Kamu menuangkan segala yang kamu rasakan dan ingin ceritakan lewat pulpen atau jari-jarimu, mengukir atau mengetik kata-kata hingga muncul alur cerita atau ekspresi abstrak untuk puisi. Kamu juga menulis surat kepada orang yang bahkan tak pernah kamu bisa miliki atau tak pernah bisa menjadi nyata. Ketika karya tersebut lahir, pertama kalinya, sepanjang yang kamu ingat, sedang apa dirimu? Sedang di tahap kehidupan yang mana? Sedang bergelut dengan apa waktu itu? Sedang merenungi apa pada masa itu? Tentang apa pun itu, kamu menyerahkan duniamu kepada sastra. Ia membuka diri untuk tulisan dan ketikanmu, sepenuh hati, sepenuh jiwa dan raganya. Maka, karya yang kamu buat waktu itu, apakah masih hadir jiwanya? Masih bisa ingatkah kamu tentang ia yang pernah hidup di kepala, di kertas, dan di layar ponselmu? Ia membuatmu bertumbuh. Bertumbuh yang nyaris abadi, karena kamu dan aku, kita manusia, tidak pernah abadi. Namun, sastra, ia nyaris abadi. Apalagi, ketika dunia dibombardir dengan bentang jaringan internet yang tak terbatas dan tak pernah bisa hilang saat ini. Semoga pusat data tidak terendam banjir sehingga karyamu tidak pernah lenyap, jiwanya dan figurnya.
Tentang kamu yang bertumbuh, setelah aku menyuruhmu membandingkan keadaan dirimu ketika pertama kali kamu menulis dengan masa kini, mungkin kamu akan tersadar sudah sejauh apa kamu melangkah. Itulah bertumbuh lewat sastra. Karya-karyamu mengalami peningkatan, mungkin. Karya-karyamu makin banyak, mungkin. Karya-karyamu makin berubah, mungkin. Semua itu kemungkinan. Namun, apa yang pasti? Kamu yang bertumbuh, itu yang pasti. Sastra mencatat itu. Lewat suara yang tak bisa kamu keluarkan, kata yang tak bisa kamu ucapkan, dan ide yang tak pernah bisa kamu nyatakan. Sastra mencatat semua itu di tubuhnya yang tak pernah padam. Setelah membandingkan keadaan dirimu sendiri, sekarang, bandingkan karyamu. Pada masa lalu dan masa kini. Jika pertama kali kamu menulis karya sastra adalah ketika kakimu melangkah di lorong sekolah menengah pertama, maka, terakhir kamu menulis yang kamu ingat itu ada pada masa apa? Sudah punya anak cucu, kah? Sudah berpenghasilan besar, kah? Sudah hilang pendengaranmu, kah? Sudah bergelut dengan skripsi, kah? Atau, sudah mengunjungi benua ke limamu, kah? Sudah sampai sejauh mana sastra mengantarmu?
Tentang bertumbuh lewat sastra, hampir pasti tidak bisa dilepaskan lewat andil sastra dalam hidupmu. Alasannya, karena kamu hampir pasti selalu bercerita. Lewat puisi empat baris yang kamu sempat tulis mengenai keluh kesah Mama yang memarahimu ketika kamu pulang telat sehabis jadi petugas paskibra. Lewat bagian pertama novel fiksi yang kamu tulis karena artis idolamu baru saja mengumumkan hiatus dari bermain peran. Lewat cerita pendek tentang dirimu yang menjelajah angkasa dan menghancurkan lubang hitam. Sudah sejauh mana sastra merengkuh dan memelukmu? Yang pasti, ia mencatatmu bertumbuh. Lewat karyamu yang selalu kamu lahirkan tiap harinya, atau karya yang mengendap di catatan ponsel dan tak pernah kamu tunjukkan ke dunia, atau karya yang belum sempat kamu selesaikan karena menghasilkan kata-kata rasanya sangat sulit bagimu saat itu. Entah, apa pun, di mana pun, dan kapan pun itu, sastra mencatatmu bertumbuh. Pencapaianmu, tangismu, depresimu, kehilanganmu, kembalinyamu, dan kekosonganmu itu. Sastra mencatatmu. Hanya satu syarat, agar ia benar-benar bisa mencatatmu bertumbuh. Maukah kamu menulis, untukmu dan untuknya? Maka, jika kamu mau, bertumbuhmu akan nyaris abadi. Semoga, semoga, dan selalu semoga. Maukah kamu menulis, sekarang juga?



