Lompat ke konten

Debat Publik: Kedua Paslon EM Adu Visi, Misi, hingga Program Unggulan di Panggung Pemira 2025

Foto/Khansa

Malang, PERSPEKTIF – Telah berlangsung debat publik calon Presiden Eksekutif Mahasiswa (EM) Universitas Brawijaya (UB) dalam rangkaian acara PEMIRA (Pemilihan Mahasiswa Raya) pada Senin, 17 November 2025. Acara berlangsung di Samantha Krida, Universitas Brawijaya. Terdapat dua pasangan calon (paslon) yang maju tahun ini. Proses debat berlangsung bagi kedua calon untuk menyampaikan visi, misi, hingga beberapa pernyataannya terhadap mosi.  

Azhar Zidane, bakal calon Presiden EM UB 2025 nomor urut 01 menyatakan gagasan besarnya dalam Pemira tahun ini ingin mengembalikan kembali bahwa Universitas Brawijaya adalah kampus pergerakan.

“Kita punya empat bidang, soshum, saintek, agrokompleks serta juga medical kompleks. Bagaimana bisa mengaktivasi hal-hal tersebut. Lalu yang kedua, status quo-nya saat ini eksekutif mahasiswa gagal sebagai menjadi sinergitas, menjadi wadah komponen untuk konektivitas keseluruhan elemen,” ujarnya dalam wawancara yang dilakukan pers (17/10). 

Berkaca dari evaluasi kepengurusan EM tahun ini, Zidane mengatakan jika EM gagal sebagai konektivitas. Ini dilihat dari tidak adanya komunikasi yang clear antara EM dengan BEM-BEM fakultas, UKM-UKM, maupun unit-unit keseluruhan.

“Hal tersebut bisa dilakukan dengan optimal ketika kita tuntas pada internalisasinya. Kita berproses internalisasi, sekarang memang pada akhirnya bisa dilihat bahasan eksekutif mahasiswa per hari ini seperti apa. Namun yang kita coba untuk bawakan adalah kita coba untuk ciptakan orang-orang non-formal dari internal maupun eksternal,” tambah Kafitan, bakal calon Wakil Presiden EM nomor urut 01 (17/10). 

Untuk tantangan tersendiri, dari paslon 01 adalah untuk mengelaborasi. Mereka berharap kedepannya untuk dapat menjadikan gagasan-gagasan besar yang lebih inklusif dan lebih merata.

Menanggapi isu inklusivitas yang selalu menjadi prioritas Universitas, bakal calon Wakil Presiden EM, Yusuf Hafidzun A. menekankan pentingnya isu ini.

“Ini adalah program kerja yang diinisiasi untuk memberikan kesempatan yang sama kepada teman-teman disabilitas, karena kita ga pengen inklusif ini jadi hanya sebagai slogan kampanye, kita ingin memberikan kuota 30% ini kepada teman-teman disabilitas,” pungkasnya (17/10).

(nat/nka)

(Visited 40 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?