Jika gadget Blackberry yang dianggap modern pada tahun 2012 sudah benar-benar kuno beberapa tahun kemudian, apakah AI juga begitu? Maksudnya, okelah kalau memang AI belum mencapai perwujudan mutakhirnya. Akan tetapi, jika gadget bisa berkembang secepat itu dalam beberapa tahun saja, apakah AI juga akan begitu? Kalau memang tempo perkembangan AI akan secepat gadget, maka akan menjadi seperti apa AI ini dalam beberapa tahun ke depan? Akankah AI makin sedominan itu dalam hidup manusia? Lantas, bagaimana eksistensi guru jika, ketika kesusahan dalam menulis dan berhitung, siswa bisa bertanya ke AI? Bagaimana kalau AI lebih kompeten daripada guru dalam segala hal? Masih dibutuhkankah guru?
Hakikat Guru
Pada dasarnya, manusia adalah makhluk pedagogis. Artinya, manusia bisa mengajari dan diajari. Belajar-mengajar sifatnya krusial dalam peradaban manusia. Maka demikian juga guru. Definisi guru adalah seseorang yang mengajarkan ilmu kepada orang lain. Orang yang disebut guru dianggap lebih berpengetahuan sehingga dijadikan tempat belajar. Hadirnya AI, menurut hemat saya, sedikit mendistorsi fakta ini. Jika dibandingkan, AI tentunya lebih berpengetahuan daripada guru mana pun. Ya, namanya saja kecerdasan buatan. Kemutakhiran pengetahuan yang dimiliki guru tidak sebanding dengan database AI. Itulah mengapa orang-orang berpaling ke AI untuk bertanya-tanya.
Lantas, apakah AI bisa disebut guru? Ya, bisa saja kalau Anda merujuk kepada sesuatu yang bersifat mengajari, tanpa memasukkan kriteria lain. Akan tetapi, menurut hemat saya, AI tidak bisa disebut guru. Rasionalisasi di balik pendapat saya sederhana, yakni AI tidak bisa digugu dan ditiru. Dalam proses belajar mengajar, ada hubungan guru-murid. Manusia itu sifatnya macam-macam sehingga interaksi guru dan murid mustilah melibatkan emosi, bukan hanya sekadar transfer pengetahuan. Murid perlu dipahami, didengar, dan dihargai. Begitu pun juga guru. Akankah hubungan semacam ini terjadi antara murid dengan AI? Tidak. Sekali lagi, menurut hemat saya, tidak. Selain sebagai sumber pengetahuan baru, saya mendefinisikan guru sebagai orang yang diteladani karena perilaku dan moralnya. Bagaimana bisa AI diteladani? Berwujud saja tidak.
Posisi Guru di Tengah Hiruk-Pikuk AI?
Faktanya, tidak ada yang bisa menghentikan perkembangan teknologi. Manusia yang baik adalah manusia yang beradaptasi dengan hal baru, termasuk perkembangan teknologi. Saya melihat ada kesempatan di sini. Guru bukan digantikan oleh AI, tetapi, di masa depan, guru bisa berkolaborasi dengan AI. Kekurangan-kekurangan guru bisa dilengkapi oleh AI. Dalam hal brainstorming informasi, guru bisa menggunakan bantuan AI sebab tidak bisa dipungkiri kemampuan manusia amat terbatas serta ada kerja-kerja administratif yang menunggu.
Dalam hal evaluasi pembelajaran, guru bisa menggunakan bantuan AI: Kinerja siswa dapat dievaluasi dengan melihat data hasil belajar siswa pada periode tertentu untuk mengidentifikasi siswa mana yang membutuhkan bimbingan lebih dan mengalami kesulitan belajar. Lewat kolaborasi dengan AI, siswa tetap bisa merasakan “kemanusiaan” dari guru sehingga pendidikan yang terbaik dan berkualitas bukan lagi keniscayaan.
Menghargai Guru: Belajar dari Kisah Orang Besar
Oleh sebab pernah membaca dua penggal kisah mengenai Paul Steve Jobs, mantan CEO Apple dan Pixar, serta Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta Periode 1966-1971, saya ingin membahasnya. Jobs, begitu sapaan akrabnya, sangat nakal semasa sekolah dasar (SD) (Isaacson, 2011). Ia gemar berbuat onar dan enggan belajar. Imogene Hill, gurunya, menyadari kejeniusan Jobs, tapi menyayangkan sikapnya yang menjengkelkan.
Daripada memarahi dan menyumpahi Jobs, Hill menggunakan cara lain untuk membuatnya patuh dan fokus belajar. Ia menantang Jobs untuk mengerjakan soal matematika—salah satu pelajaran favorit Jobs—dan, jika sebagian besar soal dijawab benar, lollipop besar dan 5 dolar akan menjadi milik Jobs (Isaacson, 2011). Hal ini berhasil menundukkan Jobs sehingga berperilaku lebih baik dan terkontrol.
“I learned more from her than any other teacher, and if it hadn’t been for her I’m sure I would have gone to jail,” ucap Jobs.
Beralih, Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta periode 1966-1971, juga punya kisah menarik dengan guru. Ketika masa jabatannya, ada seorang guru SMA yang cidera akibat dipukuli muridnya sendiri, yang dibantu oleh preman (Sitompul, 2016). Murid tersebut tidak lulus sekolah dan memang problematik. Mendengar kabar memilukan ini, Ali murka, “Tak ada pilihan lain selain daripada menegakkan kembali wibawa guru. Saya tak ada kompromi lagi.” Lantas, Ali melaporkan murid tersebut ke Kapolda Metro Jaya saat itu, Brigjen Widodo, agar hukum ditegakkan (Sitompul, 2016). Setelahnya, kasus kekerasan terhadap guru di bawah kepemimpinannya berkurang.
Poin saya di sini adalah menghargai guru. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, guru itu digugu dan ditiru. Jobs dan Ali memiliki rasa hormat sebegitunya dengan guru sebab menyadari betul hakikat guru. Kembali lagi, AI memang lebih pintar daripada guru mana pun, tapi tak bisa menggantikan posisi guru mana pun. Bisakah AI memahami karakter dan memahami emosi?
Akhir kata, perkembangan AI tidak serta merta dapat menggantikan posisi guru. Guru itu digugu dan ditiru. AI luput dalam aspek ini. Seiring dengan perkembangan kedepannya, merupakan kebijaksanaan apabila kolaborasi AI-guru dilakukan. Hal ini dikarenakan AI akan melengkapi kurang-kurangnya guru sehingga pendidikan berkualitas didapatkan.




