Lompat ke konten

Tuhan Menghukumku

Ilustrator - Anggi Eka
Oleh: Salwa Azhira*

Oh, punggung tegap yang lama kupandangi dari kejauhan,
telah lenyap dari jangkauan mataku yang redup.
Wajah yang dahulu menjemputku pulang
kini hanyut, terlarai dalam arus kerumunan yang tak mengenal.

Mereka bilang, ia pergi dengan tenang,
dibalut senyap yang bahkan angin pun tak sempat menyentuh.

Aku hanya ingin ia bangkit,
menyambut tubuhku yang rapuh,
membungkusku dengan pelukan yang dulu kurasa kekal.
Berkali-kali aku memohon, pada angin, pada waktu,
namun seolah Tuhan mengukir takdir sebagai cambuk,
mencabut satu-satunya tempat teduh
yang sejak kecil jadi langit perlindunganku.

Kini bayangnya memudar,
luruh dari tiap percakapan,
lenyap dari aroma pagi dan bisik malam.
Dan aku mulai tersesat,
berandai ia masih bernafas
di antara tanah merah yang lembab dan bisu itu.

Semoga ragamu lapang di peraduan terakhir,
tak sesak oleh akar atau hujan yang jatuh diam-diam.
Semoga liangmu tenang,
dan tidur panjangmu diiringi cahaya yang lembut.
Maafkan aku jika langkahku tak selalu sampai ke pusaramu.
Doakan aku segera ikhlas,
seperti sungai yang perlahan melepaskan mata airnya ke laut.

(Visited 44 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Sosiologi angkatan 2023. Saat ini, penulis merupakan staf tetap divisi Redaksi LPM Perspektif 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?