Oh, punggung tegap yang lama kupandangi dari kejauhan,
telah lenyap dari jangkauan mataku yang redup.
Wajah yang dahulu menjemputku pulang
kini hanyut, terlarai dalam arus kerumunan yang tak mengenal.
Mereka bilang, ia pergi dengan tenang,
dibalut senyap yang bahkan angin pun tak sempat menyentuh.
Aku hanya ingin ia bangkit,
menyambut tubuhku yang rapuh,
membungkusku dengan pelukan yang dulu kurasa kekal.
Berkali-kali aku memohon, pada angin, pada waktu,
namun seolah Tuhan mengukir takdir sebagai cambuk,
mencabut satu-satunya tempat teduh
yang sejak kecil jadi langit perlindunganku.
Kini bayangnya memudar,
luruh dari tiap percakapan,
lenyap dari aroma pagi dan bisik malam.
Dan aku mulai tersesat,
berandai ia masih bernafas
di antara tanah merah yang lembab dan bisu itu.
Semoga ragamu lapang di peraduan terakhir,
tak sesak oleh akar atau hujan yang jatuh diam-diam.
Semoga liangmu tenang,
dan tidur panjangmu diiringi cahaya yang lembut.
Maafkan aku jika langkahku tak selalu sampai ke pusaramu.
Doakan aku segera ikhlas,
seperti sungai yang perlahan melepaskan mata airnya ke laut.




