Di belahan bumi yang tak disebut peta, di sebuah pondok kecil di ujung aliran sungai tempat kabut turun pengantar doa dan embun bertengger di dedaunan, hiduplah seorang gadis bernama Seruni.
Ia tinggal di tepi sungai yang beningnya memantulkan langit, langit yang sering ia pandangi dengan sepasang mata yang tak tahu cara mengeluh. Rumahnya dari anyaman bambu, berdiri di antara semak bunga liar dan nyanyian kodok malam. Atapnya dari pelepah pisang, hujan sering menyapanya dikala malam. Angin mengenal namanya, begitu pula cahaya pagi yang sabar menunggu ia membuka jendela reyot dan menatap dunia dengan sorot yang dalam.
Seruni adalah anak sulung dari lima dara kecil yang tumbuh bersama. Ibunya atau yang biasa ia panggil Mak’e menjual kue di pasar, berjuang mencari nasi demi putri-putrinya. Sedang Pak’e hilang di antara kabut pagi, entah dimana ia sekarang, hanya menyisakan pedih dan lara.
Setiap pagi sebelum ayam jantan berkokok, Seruni sudah berdiri di pinggir sungai, membasuh pakaian dan kapas. Tangan kecilnya menggendong beban lebih dari umurnya, tapi langkahnya tetap ringan seperti tak ingin membangunkan duka dalam dadanya.
Ia ingin sekolah.
Ingin memeluk buku.
Ingin duduk di bangku kayu dan melafalkan angka, seperti anak-anak lain yang pulang dengan seragam dan cerita. Tapi hidup kadang memang tak adil. Seruni hanya bisa berdiri di luar pagar. Kegiatan yang hanya bisa dia lakukan adalah memelototi kata-kata dari kejauhan lalu merangkainya dalam kepala.
“Nggak papa,” kata Seruni suatu pagi setelah mencuci kapas. “Kalau aku memang nggak bisa belajar dari papan tulis, aku bisa belajar dari batu, dari Mak’e, dari sabar.”
Kata orang ia menawan. Orang pasar selalu memanggilnya dengan sebutan cah ayu, artinya anak cantik, tapi Seruni tak terlalu memedulikan wajahnya. Ia lebih tertarik mengapa putri malu bisa tertunduk jika disentuh, kenapa gedhebog pisang gosong biasa Mak’e jadikan minyak rambut, atau cerita yang bisa dilihat di garis-garis tangan Mak’e. Kata orang ia bijak, tapi Seruni hanya merasa ia terbiasa. Terbiasa kekurangan. Terbiasa memahami. Terbiasa memeluk dunia meski tak dipeluk balik.
Malam itu, saat bulan merangkul jiwa yang kesepian dengan cahayanya, Seruni menulis di balik kertas bungkus nasi:
“Bulan, misal ternyata saat itu Pak’e nggak ninggalin kita, kira-kira, apa kakiku bisa merasakan rok biru itu.”
“Bulan, gimana rasanya jadi mereka. Kadang aku bermimpi memeluk buku, berenang diantara abjad, aku ingin seperti mereka yang ada di dalam pagar.”
“Duhai bulan, aku memang bukan anak sekolah. Tapi aku murid dari luka. Dari air, dari hidup yang kadang sakit ini. Tapi bulan… ini semua cukup untukku, kalau keindahan tak selalu datang dari yang mudah.”




