Aku tak lagi menutupnya
Yang dulu ku sematkan karena harap dan takut
Yang dulu ku sematkan, terpatri oleh anyaman konstruksi sosial
Dan yang dulu ku sematkan, kala dunia membisikkan bahwa iman harus tampak oleh mata
Aku tak sekalipun berpaling dari-Nya
Masih kusebut nama-Nya dalam sunyi
Masih berbisik lembut, ketika dunia terus menghakimi
Namun apa yang ku percayai tak tampak, sehingga tak didengar dan tak dimengerti
Terlebih pada mereka yang lebih suka menilai daripada memahami
Selubung yang tak lagi membungkus, seolah menjadi penghapus
Menjadi bisikan-bisikan di balik lisan
Menjadi luka di tengah khutbah
Dan menjadi keris di tengah doa panjang
Aku tahu Ia Maha Melihat,
Bahkan saat kutangisi keputusan ini
Di antara sajadah dan langit-langit sepi
Dan kutahu, iman tak selamanya tampak,
Sebagaimana dosa tak selalu terang.
Kupandangi mereka yang tak sudi menampakkan sehelai surai,
namun enggan menyapa sajadah
dan aku tak menghakimi,
karena aku pun bukan suci
Namun mengapa hanya diri yang jadi cercaan?
Hanya diri yang dipanggil sesat oleh mulut yang bahkan tak berkenalan?
Bukankah setiap jiwa menapaki jalannya masing-masing menuju khilaf?
Bagaimana dengan mereka yang dosanya tersembunyi dalam bayang?
Dan bagaimana pula mereka yang salahnya terhampar di hadapan?
Bukankah keduanya tetap bermakna cela?
Namun hanya yang tampak yang terus diadili,
Yang dipelototi, dihakimi, dan dilabeli.
Kutitipkan air mata pada senyap yang setia,
Sebab nyatanya dunia tak sudi mendengar luka.
Kutitipkan iman pada Nurani yang bersahaja
Sebab nyatanya, kasih-Nya tak se-sempit tafsir manusia
Hari Buruh, 2025




