Terkadang rambutmu menjelma ombak
Yang diam-diam pecah di dasar laut,
Bergelombang lembut, namun menyimpan
Deru yang tak pernah sampai ke pantai.
Sering pula warnanya pekat,
Seperti langit malam tanpa bulan,
Tempat bintang-bintang enggan bernaung
Karena terlalu sunyi untuk bersinar.
Jiwamu terlalu dalam untuk dilukis dengan warna selain biru
Terlalu luas, terlalu sunyi,
Untuk dimengerti oleh dunia yang serba terburu.
Lingkar di bawah mata itu bukan sekadar lelah,
Melainkan jejak dari malam-malam
Yang tak kunjung menemukan pagi,
Namun masih bersinar dengan biru yang pilu.
Kau dan rambut birumu
Seindah laut di senja yang mendung
Menyimpan kesedihan yang tak banyak mata bisa pahami,
Karena tak semua tahu cara membaca warna yang sedang terluka.
Dan aku,
Hanya bisa diam menyaksikanmu
Memotong rambut birumu yang cantik,
Seolah mengakhiri kisah
Yang dunia terlalu lambat untuk mengerti.




