Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Broker: Sebuah Refleksi akan Makna Kelahiran

Sumber: imdb..com
Oleh: Gratio Ignatius Sani Beribe*
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on telegram
Share on whatsapp

Judul Film: Broker

Durasi: 2 Jam 9 Menit

Distributor: CJ Entertainment 

Tanggal Rilis: 8 Juni 2022

Sutradara: Hirokazu Kore-eda

Penulis Skenario: Hirokazu Kore-eda

Pemeran: Song Kang-ho, Gang Dong-won, Lee Ji-eun, Bae Doona, Joo-young Lee

…terima kasih sudah dilahirkan – Moon So-young

Pada mulanya saya tertarik untuk menonton Broker hanya karena film ini diperankan oleh salah satu musisi Korea Selatan favorit saya yaitu Lee Ji-eun atau lebih dikenal sebagai IU, tanpa pernah mencari tahu terlebih dahulu tentang kiprah sang sutradara, Hirokazu Kore-eda, yang ternyata karirnya telah lama mentereng dalam jagad sinema dunia. Hal ini bisa dilihat dari keberhasilannya menyabet Palme d’Or di Cannes Film Festival dengan karyanya yaitu Shoplifters yang dirilis pada tahun 2018 lalu. 

Sama seperti beberapa film karya Kore-eda sebelumnya, Broker hadir dengan tema konflik keluarga yang berkutat pada hubungan orang tua dan anak. Dikisahkan seorang ibu muda, Moon So-young (Lee Ji-eun) tengah mengantarkan anaknya yang bernama Woo Sung pada sebuah kotak adopsi bayi milik Gereja. Namun, anak tersebut nyatanya diculik oleh Sang-hyeon (Song Kang-ho), seorang tukang laundry yang bekerjasama dengan temannya yaitu Dong-soo (Gang Dong-won), yang merupakan ‘orang dalam’ di layanan adopsi Gereja tersebut untuk melaksanakan bisnis gelap mereka yaitu menjual anak-anak kepada pasangan suami-istri yang membutuhkan. 

Namun tak lama kemudian, So-young mendapati bahwa Woo Sung tidak berada di layanan adopsi Gereja, tapi diculik oleh Sang-hyeon dan Dong-soo. Bukannya marah-marah atau mengambil anaknya kembali, So-young malah ikut bersama kedua orang tersebut untuk menjual anaknya demi mengetahui siapa keluarga yang akan mengadopsi Woo Sung. Di sisi lain, terdapat dua polisi wanita, Soo-jin (Bae Doona) dan Detektif Lee (Joo-young Lee) yang sedang memantau bisnis gelap itu dan siap untuk menangkap mereka.  

Potret kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah Korea Selatan dan munculnya Song Kang-ho sebagai salah satu pemerannya, membuat Broker membawa ingatan saya untuk bernostalgia dengan Parasite yang mengangkat hal yang sama. Alur film ini awalnya sempat membuat saya menjadi hilang fokus karena berjalan dengan lambat, namun lama-kelamaan mulai bergairah lagi setelah salah satu anak dari panti asuhan tiba-tiba ikut dalam perjalanan Sang-hyeon, Dong-soo, dan So-young. Sifat polos dan jujur anak tersebut nyatanya bisa membawa suasana baru untuk mendukung alur film yang sedang mengisahkan usaha mereka dalam menjual Woo Sung. Tak hanya itu, chemistry antar tokoh juga mulai terbangun dengan sangat baik sehingga membuat saya dapat bersimpati dan memahami setiap pola pikir serta tindakan mereka yang ternyata dipengaruhi oleh latar belakangnya masing-masing. 

Performa akting dari masing-masing pemeran juga patut untuk diacungkan jempol. Soal Kang-ho tidak usah kita pertanyakan lagi kapasitasnya setelah sukses dengan Parasite, tapi yang cukup mengejutkan adalah performa dari IU yang di luar ekspektasi. Dituntut untuk berperan sebagai seorang ibu muda yang judes dan serba ketus – tentu jauh dari persona yang selama ini melekat pada dirinya – dapat dieksekusi dengan baik. Beberapa adegan yang mengharuskannya menyampaikan sebuah rasa dan sikap tanpa kata-kata, bisa dilakukan dengan sangat mulus. Hal ini juga tak bisa lepas dari kemahiran sinematografi Kore-eda yang dapat menampilkan gambar-gambar magis serba metaforik dan sarat akan makna.

Refleksi terhadap Makna Kelahiran (Awas Spoiler!)

Satu scene di film ini yang dapat membuat saya merinding adalah ketika para tokoh – So-young, Sang-hyeon, Dong-soo, dan anak kecil dari panti asuhan – menginap di sebuah motel pada malam hari. Di sana, So-young dibujuk untuk memberikan sepatah pesan kepada anaknya karena malam itu merupakan terakhir kalinya dia akan bersama Woo Sung sebelum diserahkan kepada pembeli. So-young yang begitu gugup kemudian mematikan lampu kamar dan meminta semua orang untuk menutup mata. Lalu mulai keluar untaian kata-kata dari So-young, “Woo Sung, terima kasih sudah dilahirkan..” kemudian dilanjutkan dengan nama orang-orang yang ada di kamar tersebut dengan ucapan yang sama “…terima kasih sudah dilahirkan”. Seketika suasana dalam kamar tersebut menjadi penuh sendu.

Penonton pasti beranggapan bahwa So-young menyesalkan kelahiran Woo Sung sehingga ingin membuang anak tersebut agar jauh dari kehidupannya. Nyatanya, ungkapan ‘terima kasih’ tersebut merupakan kata syukur terhadap kelahiran Woo sung karena telah menggoreskan sedikit cerita dan cinta yang begitu berarti dalam hidupnya yang pahit. Syukur yang sama juga disebutkannya kepada orang-orang di dalam kamar yang mempunyai latar belakan sama, yaitu sama-sama terbuang oleh keluarganya masing-masing. Meski merasa terbuang, kelahiran dan kehadiran mereka ternyata mampu menghadirkan bahagia bagi orang lain. 

Film ini menunjukan bahwa tiada manusia yang lahir dengan sia-sia. Kehidupan memang banyak getirnya, tapi lebih banyak bahagia yang begitu sederhana muncul sehingga tak dapat kita sadari dan syukuri. Tak seperti paham nihilisme yang memandang kehidupan adalah nir-arti, tapi kehadiran diri kita sendirilah secara alamiah akan memberikan arti bagi orang-orang disekitar. 

Begitu juga dengan So-young yang ingin membuang anaknya bukan karena merasa benci, tapi karena alasan cinta kepada Woo Sung, ia membiarkan anaknya mendapat kehidupan yang lebih baik daripada bersama dirinya. Oleh karena itu, tindakan So-young tidak bisa dihakimi salah sepenuhnya, tapi ada latar belakang yang membuatnya masuk akal. Hal ini juga menunjukan bahwa kehidupan tidak hanya terbatas pada hitam dan putih, indah dan buruk, jahat dan baik, cebong dan kampret, tapi jauh lebih berwarna dan kompleks daripada itu. Sehingga sekat-sekat di antara hal-hal tersebut sangat tipis adanya. 

Akhir kata, film-film yang menawarkan perspektif baru dalam memandang kehidupan seperti Broker ini patut untuk ditonton lebih dari sekedar hiburan, tapi terdapat pesan-pesan yang memperlihatkan kita pada realitas dunia yang ada. Meskipun ada kekurangan pada alur film di awal yang terkesan lambat, namun Broker masih sangat layak untuk diapresiasi setinggi-tingginya. Buat kalian yang emosional, saya sarankan untuk menyiapkan tisu sebelum menonton film ini karena akan penuh dengan adegan yang mengharu biru.

(Visited 152 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahaiswa Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya tahun 2020. Kini aktif sebagai Pimpinan Redaksi LPM Perspektif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts