Malang, PERSPEKTIF — Pemilihan Mahasiswa (Pemilwa) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) yang berlangsung pada Rabu (19/11/2025) menghadirkan fenomena calon tunggal. Pasangan Difa Nafchan Shofa Al-Khowarizmi dan Anna Davina Gustafia maju sebagai satu-satunya calon Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP, berhadapan dengan kotak kosong.
Kondisi ini memicu pertanyaan di kalangan mahasiswa mengenai mekanisme pemilihan, terutama jika kotak kosong memenangkan suara terbanyak. Menanggapi hal tersebut, salah satu panitia Pemilwa FISIP UB berinisial M (tidak berkenan disebutkan namanya, red) menjelaskan mekanisme yang berlaku. Jika perolehan suara kotak kosong mengungguli pasangan calon, keputusan akhir akan dibawa ke sidang Kongres Mahasiswa (KM).
“Di forum KM tersebut akan ditentukan apakah pasangan calon tetap disahkan sebagai presiden dan wakil presiden, atau akan dilakukan pemilihan ulang. Keputusan bergantung pada kesepakatan forum,” jelas M.
Panitia juga menambahkan, jika opsi penetapan calon diambil tanpa pemilihan ulang, syaratnya mutlak. “Kesepakatan tersebut harus disetujui oleh 50 persen plus satu dari anggota tetap KM,” paparnya.
Terkait fenomena calon tunggal ini, Panitia menegaskan posisi panitia yang netral. M menyebut panitia tidak memiliki wewenang untuk mengintervensi jumlah pendaftar.
“Kami menyediakan ruang berpolitik. Panitia tidak bisa menduga dinamika politik di FISIP. Jika ada anggapan Pemilwa tidak legitimate, silakan cek undang-undang yang berlaku,” tegasnya.
Di sisi lain, Galang (bukan nama sebenrnya, red) seorang mahasiswa FISIP UB, menilai fenomena calon tunggal bukan hal baru. Ia mengingat kejadian serupa terjadi dua tahun lalu. “Mungkin memang tidak ada yang mau mencalonkan diri, bukan semata karena pendaftaran tidak diperpanjang,” ujarnya saat diwawancarai di hari pemilihan.
Meski menganggap calon tunggal sah secara demokrasi kampus, Galang menyoroti isu lain yang lebih krusial, yaitu mengenai netralitas penyelenggara dan intervensi eksternal. Beberapa mahasiswa mengaku skeptis terhadap integritas pelaksanaan Pemilwa tahun ini.
“Ketidakpercayaan saya bukan karena calon tunggalnya, tapi karena beredarnya tangkapan layar percakapan dari salah satu organisasi eksternal yang seolah mendapat info internal panitia. Ini membuat kepercayaan terhadap legitimasi Pemilwa menurun,” ungkap Galang.
Galang juga menekankan bahwa tingginya angka golput atau memilih kotak kosong adalah bentuk aspirasi yang sah. Menurutnya, tidak memilih adalah bentuk ketidakpercayaan terhadap sistem atau kandidat yang diajukan.
“Saya berharap ada perubahan struktural. Jangan sampai kepentingan di luar mahasiswa mengganggu dan memecah belah lewat polarisasi. Panitia Pengawas (Panwas) harus tegas menindaklanjuti laporan yang ada agar legitimasi Pemilwa terjaga,” pungkasnya.
(nk, ksz, ga, rnz)




