Malang, PERSPEKTIF — Kisah-kisah heroik sekaligus tragis seputar Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) di Malang mungkin tak akan terawat utuh bahkan terdengar di telinga banyak orang tanpa penuturan para saksi dan keturunannya yang tersisa di masa ini. Sebagian besar fragmen sejarah dalam tulisan ini mengalir dari hasil wawancara dan obrolan mendalam bersama Irawan Prajitno, putra dari salah seorang anggota TRIP yang berhasil selamat dari tragedi berdarah di jalan yang kini kita kenal sebagai Jalan Pahlawan TRIP. Pun, kisah ini semakin mendekati kata utuh ketika bagian-bagian kecil dalam cerita tersebut turut dilengkapi oleh Kelik Widigdo, salah seorang anggota Paguyuban TRIP Malang Raya yang masih aktif hingga saat ini.
Salah satu kisah paling berkesan yang dibagikan Irawan dalam kesempatan di hari Jumat sore yang mendung itu adalah kilas balik memori mengenai ‘kisah’ yang ia dapatkan dari Dukut Imam Widodo, penulis buku “Malang Tempo Dulu”. Nama yang mungkin tak asing di telinga para pegiat sejarah Kota Malang.
Pada era 1990-an, Pak Dukut, sang penulis buku “Malang Tempo Dulu”, menyaksikan sebuah pemandangan janggal yang menggugah rasa keingintahuannya di depan Monumen Pahlawan TRIP, Malang. Adalah kisah mengenai tiga orang “bule” atau turis Belanda yang dengan dua mata kepalanya sendiri ia pergoki tengah berdiri di depan gerbang monumen tersebut.
Diliputi rasa penasaran, Dukut memberanikan diri bertanya mengenai alasan kunjungan mereka ke sebuah monumen makam pahlawan, jelas bukan merupakan objek wisata yang lumrah menjadi destinasi utama para turis untuk berkunjung, apalagi di Malang.
Jawaban yang ia dapatkan sungguh mengejutkan. “Kami ke sini untuk mengenang, mengunjungi teman kami,” kata mereka.
Di kemudian hari, terkuaklah sebuah kisah tragis di balik kunjungan itu. Pada tahun 1947, identitas para “bule” itu adalah tentara Marinir Belanda, dan salah satu jenazah yang dimakamkan dalam Monumen Pahlawan TRIP tersebut adalah teman sekolah mereka, seorang tentara pelajar Indonesia.
Usut punya usut, rupanya keempat sosok tersebut berbeda kubu dalam pertempuran yang meletus di tahun itu. Berakibat dengan kalahnya tentara pelajar Indonesia dalam sebuah naungan nama divisi, TRIP. Di mana setelah pertempuran tersebut usai, rupanya ketiganya menemukan fakta bahwa teman ‘Indonesia’ mereka itu tengah sekarat. Sang teman yang telah terluka parah seolah mengetahui ajalnya tak mungkin lagi lama menghampiri hanya bisa menatap ketiga Marinir Belanda yang sebenarnya ia kenal secara dekat itu sembari berbisik lirih, “Selesaikan,” memohon agar penderitaannya diakhiri.
Setiap tahun setelahnya, hingga usia senja merenggut mereka, para veteran Belanda itu rutin kembali ke Malang. Bukan untuk berwisata, tapi untuk menziarahi makam kawan sekaligus “musuh” mereka.
Kisah ini adalah satu dari sekian banyak fragmen yang mewarnai Monumen Pahlawan TRIP—sebuah tugu yang bukan sekadar simbol, melainkan sebuah makam massal yang nyata bagi 35 pahlawan yang jiwanya terenggut dalam usia yang masih sangat belia.
Lahirnya Tentara Berbaju Sekolah
Kelahiran Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) bukanlah peristiwa yang “ujug-ujug” atau tiba-tiba. Akarnya terpatri dalam kobaran api Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya. Menurut Irawan dan Kelik sebagai generasi kedua (G2) dari Paguyuban TRIP Malang Raya, semangat perjuangan itu menjalar ke para pelajar setingkat Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), bahkan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA)hampir di seluruh wilayah Hindia Belanda pada masa itu.
“Mereka yang mau, ya angkat senjata,” jelas Kelik dalam kesempatan wawancara bersama Tim LPM Perspektif (17/10).
Awalnya, mereka hanyalah laskar-laskar pelajar tak terorganisir. Uniknya, para pelajar ini sudah memiliki bekal keterampilan militer dasar seperti baris-berbaris. Semua hal tersebut rupanya merupakan hasil latihan yang ironisnya diberikan oleh tentara Jepang dengan tujuan untuk memanfaatkan tenaga para pribumi itu dalam membantu Jepang pada Perang Pasifik. Ketika Jepang menyerah setelah bom atom memutus sendi-sendi kehidupan di Hiroshima, para pelajar ini dengan sigap melucuti senjata-senjata tentara Jepang yang sudah tak berdaya, merampasnya untuk mereka gunakan secara pribadi untuk kepentingan negara mereka yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.
Inisiatif untuk menyatukan kelompok-kelompok pelajar ini datang dari Mas Izman, yang kini namanya telah tercatat sebagai Pahlawan Nasional. Puncak dari persatuan laskar-laskar pelajar itu adalah lahirnya sebuah konferensi pelajar se-Jawa Timur yang berlangsung di Surabaya sekitar tahun 1946 atau 1947.
“Mereka sanggup dan mau berjuang dalam naungan bendera TRIP,” papar Kelik.
Yang membuat kehadiran TRIP unik adalah keteguhan para anggotanya yang menolak melepas identitas “pelajar” tersemat pada diri mereka. Oleh karena itu, ketika tentara reguler terbentuk dengan nama Tentara Republik Indonesia (TRI), mereka bersikeras agar nama “pelajar” tetap tersemat sebagai identitas mereka.
Sebuah ungkapan kebanggaan akan jati diri yang nyata adanya. Akhirnya, mereka diakui secara resmi oleh komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) saat itu, Sungkono dan dilebur dalam struktur militer resmi sebagai Brigade (suatu kesatuan dalam organisasi militer yang dipimpin oleh seorang brigadir jenderal atau kolonel dan terdiri dari dua atau lebih kesatuan bawahan, seperti resimen atau batalyon, red) 17.
Dalam naungan Brigade 17 itu, terpecahlah mereka dalam beberapa batalion/kompi. Malang sebagai salah satu daerah militer saat itu terdiri atas kompi 5100 dan 5200.
“Ini adalah satu-satunya di dunia di mana pelajar menjadi tentara dan mengangkat senjata secara resmi,” tegas Irawan (17/10). “Makanya sampai dikasih nomor brigade yang ke-17”.
Tragedi Tumpah Darah di Bulan Suci

Dokumentasi liputan LPM Perspektif (17/10) Perspektif/ Suci
Perjuangan tentara muda ini mencapai puncaknya pada Agresi Militer Belanda I tahun 1947. Didukung persenjataan yang lebih modern dibandingkan yang dimiliki oleh tentara Indonesia, Belanda mendesak mundur pasukan Indonesia dari Surabaya hingga mundur ke selatan. Lebih tepatnya adalah Malang.
“(Belanda masuk, red) dari Situbondo menyisir Pantura, Probolinggo, Pasuruan sampai Porong itu. Kemudian ke sini itu hanya dalam tempo satu bulan,” tutur Irawan.
Pada Juli 1947, Belanda sudah mencapai Lawang, Kabupaten Malang. Para pejuang di Malang mengambil keputusan pahit: Malang Bumi Hangus. Sejak 15 hingga 30 Juli 1947, masyarakat Ngalam sepakat untuk membakar gedung-gedung pemerintahan, sekolah, dan fasilitas vital termasuk Balai Kota agar tak bisa digunakan sebagai alat kontrol pemerintahan oleh penjajah. Hanya rumah ibadah yang selamat dari aksi pembakaran tersebut. Gereja, masjid, dan tempat ibadah lain berdiri kokoh sebagai saksi bisu peristiwa tersebut.
Pada 31 Juli 1947, di pagi buta bulan Ramadan yang dingin, pertempuran tak seimbang itu pecah. Kota Malang dipertahankan oleh tiga sektor: tentara reguler pimpinan Mayor Hamid Rusdi di Timur dengan wilayah cakupan membentang dari Sawojajar hingga ke arah Jalan Buring, Laskar Hizbullah di tengah dekat dengan daerah yang sekarang dikenal sebagai Alun-Alun Malang, serta TRIP di sektor Barat, di sekitar pacuan kuda. Sebuah area yang kini lebih akrab dikenal masyarakat sebagai Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Malang, tepat berada di seberang Monumen Simpang Balapan. Satuan TRIP itu masih terbagi lagi dalam beberapa posisi.
“Satu, yang di depan makam (Monumen Pahlawan TRIP, red) posisinya sekarang jadi rumah makan (Payakumbuh, red) dan dulunya pos polisi, di situ ada 38 orang. Kemudian yang kedua, sekarang di Museum Brawijaya, dulu belum ada bangunan museumnya. Satu lagi di ujungnya Bareng sana,” jelas Irawan sembari membentangkan peta Kota Malang pada tahun tersebut di hadapan Tim LPM Perspektif.
Lahirnya asumsi bahwa Belanda akan datang dari arah Singosari, lalu menyisir ke Arjosari hingga area Dinoyo membuat 38 anggota TRIP yang bermarkas di bekas pos polisi itu bertahan di sebuah parit irigasi dekat pacuan kuda tersebut, sebuah tempat yang mereka anggap sebagai posisi strategis untuk mempertahankan area tersebut.
Namun, mereka salah perhitungan.
“Mereka di sini berpikir bahwa Belanda akan datang dari sini (utara, red),” ungkap Irawan. “Yang tidak diduga, datangnya dari samping gereja, dari belakang mereka”.
Pasukan Marinir Belanda datang dengan tank amfibi AM-Track. Tak hanya satu, namun beberapa sekaligus datang bergerombol seolah siap meluluhlantakkan segala halangan yang ada di depan mereka. Para anggota TRIP yang berada di area Jalan Salak (sekarang Jalan Pahlawan TRIP, red) terkepung panik. Dengan senjata “ala kadar”, mereka melawan tank dan senapan mesin semi-otomatis. Sebuah perlawanan yang sebenarnya tak banyak mendatangkan perubahan berarti. Suara baku tembak memenuhi gendang telinga dan udara pada pagi hari itu.
Di tengah kekacauan itu, Komandan Batalyon 5000, Susanto seorang pelajar Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) yang usianya belum genap 20 tahun melakukan aksi heroik. Dengan membawa granat, ia nekat melompat ke arah tank, berusaha meledakkan benda baja tersebut dari atas. Naasnya, aksi heroik tersebut rupanya malah membuatnya meregang nyawa dalam kedipan mata.
“Ternyata, di belakang itu ada tank yang lain. Dia diberondong dari belakang,” tutur Irawan dengan nada tercekat dan bergetar. “Tank-nya kemudian mundur menggilas dia. Jadi, ya tragis”.
Dari 38 pelajar, 35 gugur di tempat. Hanya tiga orang yang lolos dari maut. Salah satunya adalah ayah dari Irawan, sang narator. Mereka selamat semata-mata karena tertimbun di bawah jenazah rekan-rekan mereka. Ketiganya bersembunyi ketakutan di tumpukan mayat itu, tak berani bergerak hingga sore hari.
Perjuangan Melawan Lupa

Wawancara LPM Perspektif bersama Paguyuban TRIP Malang Raya (17/10) Perspektif/ Suci
Tutur cerita perjuangan TRIP tersebut tak akan pernah sampai di telinga Tim LPM Perspektif apabila ketiga orang dari 38 pasukan yang selamat tersebut tak melarikan diri dan bersembunyi hingga ke Wlingi, Blitar. Sebuah markas cadangan untuk perlindungan diri yang rupanya telah disiapkan jauh-jauh hari oleh pemimpin TRIP Malang Raya dalam menghimpun kekuatan dan keselamatan anggotanya.
Namun, jenazah ke-35 pahlawan muda itu naasnya tergeletak seharian di tempat baku tembak tak sepadan itu terjadi. Penduduk kampung sekitar tak berani mendekat. Bayang-bayang akan suara baku tembak yang terjadi di pagi hari itu masih menghantui sanubari mereka. Setelah keberanian untuk menghampiri lokasi kejadian tersebut, keputusan besar diambil oleh warga perkampungan sekitar bahwa mereka tak mungkin memakamkan 35 jenazah tersebut di tempat lain.
“Satu-satunya cara adalah dimakamkan di tempat mereka meninggal,” tutur Irawan.
Monumen Pahlawan TRIP yang berdiri di Jalan Pahlawan TRIP (dulu Jalan Salak, red) adalah pusara peristirahatan terakhir mereka. Tiga puluh lima nama anggota mereka yang gugur dalam peristiwa itu terukir pada dinding monumen tersebut. Pengingat terakhir akan jerih payah mereka dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan tanah air yang amat mereka cintai itu.
Kini, Paguyuban TRIP yang diisi oleh generasi kedua (G2) dan generasi ketiga (G3) berjuang untuk memastikan kisah ini tidak tenggelam ditelan zaman.
“Cerita ini harus turun, harus terus,” pesan Irawan.
Sebuah pesan agar generasi sekarang tak pernah lupa bahwa kemerdekaan yang mereka nikmati hari ini, pernah dibayar mahal dengan tumpahan darah anak-anak dari bangku SMP dan SMA di sebuah simpang jalan di Kota Malang. (rnz/red)




