Malang, PERSPEKTIF – Di balik tembok Universitas Brawijaya (UB), dosen seperti Dewi dan Bona memikul Tridarma sekaligus beban struktural yang kian menumpuk. Mereka mengajar di kelas, meneliti di balik tumpukan data, mengabdi di tengah masyarakat, lalu masih terjebak dalam rapat dan laporan administrasi yang tak pernah usai. Jasa mereka mengalir tanpa henti, namun lelahnya kerap hilang di balik wibawa profesi yang dipandang mulia (30/09).
Tugas seorang dosen tak pernah berhenti di ruang kelas. Di balik papan tulis dan deret kursi mahasiswa, ada Tridarma yang melekat: mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Tiga pilar itu semestinya menjadi pedoman, namun di lapangan sering kali berlipat dengan pekerjaan tambahan yang tak kalah menuntut. Di atas tanggung jawab akademik, dosen juga harus memikul jabatan struktural, menghadiri rapat, menyusun laporan, hingga mengurus berlapis administrasi yang terus datang silih berganti.
Beban ganda inilah yang jarang terlihat dari luar. Profesi yang tampak penuh wibawa sejatinya menyimpan cerita kelelahan yang tak pernah selesai. Waktu untuk mahasiswa kerap terpangkas, penelitian tertunda, dan ruang pribadi makin menyempit. Di titik ini, Tridarma bukan lagi sekadar panggilan intelektual, melainkan rangkaian kewajiban yang menekan tubuh dan pikiran untuk terus bertahan, bahkan ketika lelah tak lagi bisa disembunyikan.
Beban yang Menyempit di Dinding Sosiologi
Dewi Puspita Rahayu, salah seorang dosen prodi (program studi) sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya, menjadi contoh nyata dari ironi itu. Ia tidak hanya mengajar di kelas, membimbing mahasiswa, dan meneliti, tetapi juga menanggung jabatan struktural sebagai ketua program studi sarjana Sosiologi sekaligus sekretaris Departemen Sosiologi. Dua peran yang menuntut waktu, energi, dan pikiran jauh melebihi kewajiban akademik biasa.
“Tugas dosen itu memang Tridarma, mengajar, meneliti, dan mengabdi. Tapi karena saya juga menghandle program studi dan departemen, bebannya jadi lebih besar. Posisi sekretaris departemen kan jabatan struktural,” ucap Dewi (22/08).
Tulang siapa yang tak remuk, badan siapa yang tak penat, jika harus menanggung beban yang berbulat-bulat besarnya. Metafora itu serupa gambaran keseharian Dewi yang berpindah dari ruang kuliah ke ruang rapat, dari lembar tugas mahasiswa ke laporan administrasi yang menumpuk. Di antara tumpukan kertas dan agenda, ruang untuk bernapas terasa semakin sempit. Di titik inilah, sosok dosen tak lagi hanya simbol intelektual di podium. Ia adalah manusia dengan tubuh yang bisa sakit, dengan pikiran yang bisa lelah. Lebih dari itu, pekerjaan tak usai disini saja, tapi kian berlanjut dari berbagai lapisan tanggung jawab lainnya.
“Memang cukup berat gitu, meskipun porsi pendidikan dikurangi, tapi tetap ada target kinerja tahunan yang harus dicapai dalam setiap tahun dan lumayan ya target kinerjanya itu menurut saya,” ungkap Dewi (22/08).
Di titik inilah dosen tak lagi sekadar simbol intelektual di podium. Mereka adalah manusia yang bisa lelah, namun tetap harus menunaikan tanggung jawab. Bagi Dewi, beban itu bukan hanya tentang karier pribadinya, melainkan juga masa depan mahasiswa, reputasi program studi, dan roda birokrasi yang harus terus bergerak.
Untuk meredam tumpukan kewajiban, Dewi kerap melibatkan mahasiswa sebagai student employee (SE) di bulan-bulan krusial. “Kalau sendirian saya enggak mampu, jadi biasanya saya minta bantuan mahasiswa untuk membantu penelitian atau kerja administrasi,” jelasnya (22/08). Meski begitu, peran ganda tetap berlipat, meninggalkan tubuh dan pikiran yang terus dipaksa bertahan.
Kewajiban yang Berlapis di Psikologi
Kisah Dewi bukan satu-satunya, menjajaki sudut pandang lain, ada konsekuensi yang sejak awal sudah disadari. Elmy Bonafita Zahro, dosen Psikologi FISIP UB, tahu betul bahwa memilih jalan sebagai akademisi berarti mengikat diri pada Tridarma. Mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Namun, Tridarma bukanlah satu-satunya beban yang harus Ia pikul. Di luar itu, ada tugas tambahan yang menumpuk: jabatan struktural, administrasi, dan indikator kinerja yang harus dipenuhi. “Sering kali tugas tambahannya di luar dari Tridarma, tapi karena ada target dari departemen atau program studi, akhirnya kita tetap harus mengerjakannya,” ungkap Bona (27/08).
Kepanitiaan Ia jalani, administrasi Ia tangani, bahkan urusan teknis lapangan pun kerap menuntut kehadirannya. Semua demi akreditasi dan capaian universitas. Hidangan itu bukan sekadar pelengkap, melainkan santapan sehari-hari yang kadang terasa pahit, meski di sisi lain memperkaya pengajarannya. Pengalaman di luar kelas membuatnya lebih peka terhadap persoalan mahasiswa dan masyarakat, namun tetap menyisakan beban yang berat dan timpang.
Di sela embusan angin Malang yang kian sepi sejak mahasiswa perantau kembali ke kampung halaman, Bona masih terikat rapat, laporan, dan agenda yang tak kenal libur. “Yang harusnya kita bisa punya waktu lebih banyak mempersiapkan pengajaran di kelas jadi enggak optimal,” keluhnya (27/08).
Dosen memang tidak mengenal istilah lembur, tetapi kelas malam tetap berjalan. Bona menyebutnya overtime, bukan lembur. Secara fisik, ia pernah jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit, namun seminar proposal dan bimbingan skripsi tetap tak bisa berhenti. “Akhirnya, mungkin saya tahan tubuhnya ngedrop, sakit gitu ya, dan masuk rumah sakit gitu-gitu. Tapi ya, kerjaan harus tetap jalan, kadang juga harus tetap ada Seminar proposal juga harus tetap jalan gitu. Kalau enggak kasihan mahasiswanya ya,” ujarnya (27/08).
Secara mental pun, Ia mengaku tak jarang burn out. Untungnya, rekan-rekan di Psikologi menjadi penopang, memberikan dukungan yang Ia sebut sebagai perban pada luka yang terus terbuka. “Jadi ketika mungkin sedang ngerasa tuh bebannya banyak ya alhamdulillahnya kalau di sini lingkungannya masih cukup suportif ya. Jadi bisa sharing dengan satu dosen dengan dosen yang lain gitu ya,” ungkapnya (27/08).
Jika ganda bermakna dua, beban yang dipikul Bona sudah jauh melampauinya. Tugas berlapis menekan, sementara kekhawatiran terbesar justru terletak pada kelas: materi yang kadang tertinggal, metode yang tak sempat diperbarui, dan mahasiswa yang berisiko tak menerima pembelajaran optimal.
“Bebannya kalau ganda kan dua ya. Mungkin sudah bukan dua, tiga, empat gitu karena dalam suatu waktu mungkin kadang juga eh banyak sekali yang dikerjakan gitu. Ini ya ya lelah gitu tapi ya harus dijalani dan harus selesai. Kalau enggak ya soalnya pasti ditanya dan dikejar gitu ya. Jadi mau enggak mau ya harus tetap selesai gitu,” keluhnya (27/08)
Kemudian, Bona juga berharap ada pembagian tugas yang lebih merata, terutama bagi dosen yang belum menyelesaikan pendidikan doktoral dan masih harus fokus pada riset. “Harapannya, beban administrasi bisa dibagi lebih adil, supaya kami bisa tetap fokus ke Tridarma, khususnya pengajaran,” tutupnya (27/08).
Tridarma yang Tak Pernah Usai Ditanggung
Setiap perjanjian yang ditandatangani di meja petinggi akhirnya bermuara pada tangan dosen di bawahnya. Mereka yang harus menerima lembar demi lembar pekerjaan, menumpuk tanpa jeda. Tembok jingga di Universitas Brawijaya hanyalah satu saksi; di banyak universitas lain, langit-langit ruang kelas juga turut menjadi bisu atas beratnya tanggung jawab yang membuat bahu kian menunduk.
Beban ganda bukan sekadar istilah. Ia menjelma lapisan kewajiban yang membuat tenaga pengajar dipilih-pilih, dijadikan tumpuan, hingga ruang pribadi perlahan terkikis. Tahun demi tahun, ribuan mahasiswa datang dengan harapan, sementara dosen terus berusaha menghadapinya dengan tenaga yang tak pernah cukup. “Harapannya pembagiannya lebih merata, supaya dosen bisa lebih fokus ke Tridarmanya,” ucap Bona lirih (27/08).
Kebijakan mungkin bisa berganti, target bisa disusun ulang, namun di balik semua itu ada manusia yang tetap setia berdiri, menyambung kewajiban, menuliskan buku yang tak kunjung selesai, demi ilmu yang terus mengalir bagi generasi berikutnya.
(saz/lzh/cvl/nt/nka)




