Lompat ke konten

Pertarungan Tanjiro di dalam Tubuh Kastil yang Hidup: Resensi Demon Slayer – The Movie: Infinity Castle

Gambar: Boxoffice Pro
Oleh: Ahmad Fazlur Rahman*

Gekijō-ban Kimetsu no Yaiba: Mugen Jō-hen (劇場版「鬼滅の刃」無限城編) atau Demon Slayer – The Movie: Infinity Castle adalah seri sinematik layar lebar khusus yang diproduksi sebagai kelanjutan dari animasi empat musim sebelumnya. Seri layar lebar ini masih didasarkan dari seri manga Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba oleh Koyoharu Gotouge. Film ini disutradarai oleh Haruo Sotozaki. Produksi seri ini dilakukan oleh Ufotable. Bersirkulasi pada Tanjiro Kamado sebagai tokoh protagonis utama, para Hashira—sebutan untuk peringkat tertinggi dari korps pembunuh iblis—, serta rekan-rekan lainnya, seri layar lebar ini berlatar di Kastil Tanpa Batas, sebuah tempat khusus yang dibuat oleh Muzan Kibutsuji—pemimpin para iblis—sebagai tempat persembunyian para iblis. 

Kisah Sebelumnya

Setelah Kagaya Ubuyashiki—pemimpin dari korps pembunuh iblis—meledakkan diri, keluarga, dan rumahnya sebagai rencana membunuh Muzan berhasil,  Muzan ikut meledak dan terbakar bersama dengan ledakan dahsyat tersebut. Namun, Muzan adalah seorang iblis yang memiliki regenerasi super. Tamayo—seorang iblis bawahan Muzan yang “berkhianat”—datang dan meninjunya tepat di tengah tubuhnya, memasukkan serum racikan khusus dengan tujuan memperlambat regenerasi Muzan. Kemudian, para Hashira, Tanjiro, dan rekan-rekan yang menyaksikan ledakan rumah Ubuyashiki dari kejauhan segera menemui Muzan. Saat itulah, Muzan langsung menggunakan kemampuan bawahannya untuk menyeret paksa Tanjiro dan rekan-rekannya ke dalam Kastil Tanpa Batas. 

Hashira Melawan Iblis Bulan Atas

Seri layar lebar ini berfokus pada kisah pertarungan para Hashira melawan para Iblis Bulan Atas, sebuah gelar untuk enam iblis yang memiliki kemampuan lebih dahsyat dibandingkan iblis lainnya. Para Hashira yang terdiri atas Gyomei, Sanemi, Giyu, Muichiro, Mitsuri, Obanai, dan Shinobu terpisah ketika mereka terseret ke dalam Kastil Tanpa Batas. Mereka bertarung bersama untuk menebas para iblis seraya mencari jalan menemukan Muzan dan membunuhnya. Namun, Kastil Tanpa Batas penuh dengan jebakan, ruang yang terus bergerak, dan pintu yang dapat menghantarkan para pembunuh iblis ke sarang iblis lapar. 

Visual yang Menarik Mata dan Suara yang Dahsyat

Film produksi Ufotable ini memang terkenal dengan rona gelap–tetapi–berwarna sebagaimana seri animasi empat musim sebelumnya. Kontras antara latar yang dominan muram dan Teknik Pernapasan—kemampuan pedang para pembunuh iblis—yang secara visual cerah dan berwarna-warni menghadirkan tontonan menggugah. Visual film ini menjadi kunci kesuksesannya, mengundang banyak orang untuk merasakan apiknya rona film yang ditawarkan. Selain rona dan warna, efek spesial seperti ilustrasi petir, serangga, air, asap, dan darah yang diracik sedemikian rupa menghadirkan poin plus bagi visual sinematik yang tak tergantikan. Audio yang dihadirkan juga patut diberikan jempol. Demon Slayer The Movie sukses memasangkan efek visual dengan efek audio yang tidak hanya tepat, tetapi juga berkualitas selama penayangannya. Ilustrasi petir pada pertarungan Zenitsu, misalnya, bukan hanya suara guntur semata yang hadir, melainkan audio berlapis yang secara cermat mendukung penggambaran kekuatan sambaran petir yang meningkat seiring berjalannya adegan.

Alur yang Melamban

Pada masa-masa awal masuk ke penayangan, Demon Slayer The Movie menyajikan kisah yang cepat, dramatis, dan penuh aksi. Tanjiro dan rekan-rekan menebas tubuh dan kepala iblis untuk mencapai persembunyian utama Muzan. Namun, makin berjalannya film, alur yang disajikan melambat dan berfokus pada titik tertentu dari adegan. Kilas balik dari para karakter yang terlibat juga terus dihadirkan, entah itu penting maupun tidak penting, semuanya hadir untuk mengisi film. Alur yang lamban ini penting dalam mengenali dan menyelami kehidupan karakter, khususnya para iblis yang dahulu juga merupakan manusia biasa. Kilas balik juga dapat berfungsi untuk memahami kebencian mendalam dari para pembunuh iblis terhadap para iblis yang dengan rakusnya memangsa manusia untuk mendapatkan kekuatan. Namun, beberapa kilas balik malah terkesan kurang diperlukan karena dirasa hanya “mencoba mengisi” durasi dari seri tanpa benar-benar menyumbang apa pun ke dalam skenario. Tengah film hingga menuju akhir terkesan lama dan cukup melelahkan, khususnya ketika film sudah tersisa sepertiga durasi lagi. 

Spektakulernya Aksi Pertempuran

Sejalan dengan fokus utama pertempuran Tanjiro dan kawan-kawan melawan iblis, pertempuran terjadi di berbagai tempat dalam Kastil Tanpa Batas. Kebencian para Hashira dan pembunuh iblis terhadap kaum iblis secara memukau menghadirkan tontonan asik dari aksi heroik mereka. Beberapa adegan diracik untuk memanjakan mata lewat kelincahan pembunuh iblis melawan beringasnya para makhluk tanpa ampun tersebut. Namun, beberapa skenario juga dapat terasa seperti seakan-akan disajikan terburu-buru dan “seselesainya” karena sejumlah adegan pertarungan hanya ditunjukkan lewat potongan-potongan seperti adegan komik dengan beberapa gambar saja, bukan adegan film yang berjalan halus dan mengalir mulus. Namun, hal ini mungkin juga dapat dilakukan untuk menghindari sifat monoton dari skenario pertempuran.

Kualitas Visual Serupa Animasi Sebelumnya

Di luar sana, banyak animasi atau kartun yang mendapatkan kesempatan untuk ditayangkan di layar lebar pada akhirnya menghadirkan kualitas tontonan ajaib lewat visual yang lebih “meningkat” dibandingkan versi animasinya. Namun, alih-alih begitu, Demon Slayer The Movie malah seakan-akan memiliki ramuan yang sama persis dengan seri animasi empat musim sebelumnya. Hal ini bisa menjadi sebuah kelemahan sekaligus juga kelebihan dikarenakan seri animasi Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba memang sudah terkenal dengan penyajian visual yang top-of-the-top sejak awal perilisannya di berbagai platform animasi seperti Crunchyroll. Jika memang Ufotable sebagai rumah produksi dengan sengaja membuat kualitas visual seri khusus layar lebar ini serupa dengan sebelumnya, mungkin tujuannya adalah untuk menunjukkan kecakapan para animator yang konsisten berkarya secara luar biasa. Namun, hal ini tetap patut disayangkan karena penonton berhak untuk mengharapkan kualitas visual yang berbeda dan unik dari sebelumnya.

Akhir Film yang Menggantung

Memang, sedari trailer dan pemberitahuan resmi oleh pihak penggarap film sudah mewanti-wanti akan hadirnya trilogi dari seri khusus layar lebar Demon Slayer ini. Maka dari itu, sejak awal penonton patut untuk tidak mengharapkan seri layar lebar pertama ini untuk memberikan akhir dan kesimpulan dari film yang jelas. Penggantungan kisah sudah pasti adanya, dan Ufotable berhasil membuat penonton penasaran dengan kelanjutan cerita Tanjiro dan kawan-kawan yang sudah berjuang mati-matian melawan iblis. 

Penutup

Secara keseluruhan, Demon Slayer The Movie berhasil menggaet banyak penonton akibat visual megah, audio dahsyat, dan aksi yang spektakuler. Namun, film ini juga tidak lepas dari sejumlah kekurangan yang dapat dijadikan sebagai pengembangan bagi film-film selanjutnya, khususnya bagi sisa dari trilogi seri layar lebar ke depannya. Demon Slayer The Movie adalah tontonan layar lebar yang cocok untuk disaksikan oleh para pecinta aksi heroik magis bertema gelap. Selain itu, film ini juga cocok untuk ditonton sebagai bahan hiburan bagi orang-orang yang ingin mengenal lebih dekat terhadap karakter-karakter sorotan pada seri ini.

(Visited 32 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Psikologi 2022, saat ini ia merupakan Pimpinan Divisi Sastra LPM Perspektif 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?