Realitas ekonomi yang kian menghimpit memaksa banyak keluarga untuk bertahan dengan segala cara. Tak jarang, beban itu jatuh ke pundak generasi muda, fenomena yang akrab disebut “Generasi Sandwich”. Film 1 Kakak 7 Ponakan disutradarai oleh Yandy Laurens yang dikenal sebelumnya sebagai sutradara dari film “Keluarga Cemara” dan “Jatuh Cinta Seperti di Film-film” memberikan sentuhan yang hangat dalam menceritakan realitas generasi sandwich.
Film 1 Kakak 7 Ponakan merupakan adaptasi dari sinetron yang berjudul sama karya Arswendo Atmowiloto yang tayang pada tahun 1996. Film ini diperkenalkan pada Jogja-NETPAC Asian Film Festival ke-19 pada 7 Desember 2024, dan dirilis di bioskop Indonesia pada 23 Januari 2025 lalu, pada tanggal 10 Juli 2025 film ini akhirnya tayang di platform Netflix.
Moko dan 7 Ponakannya
Film 1 Kakak 7 Ponakan berpusat pada Moko (Chicco Kurniawan), seorang mahasiswa yang tengah gigih merajut mimpinya di jurusan arsitektur. Ia berbagi atap dengan keluarga sang kakak, dan hidup di antara tawa empat ponakannya. Namun, takdir berkata lain. Sebuah peristiwa tragis merenggut nyawa kakak dan kakak iparnya, meninggalkan 3 anak mereka yakni Woko (Fatih Unru), Nina (Freya JKT48) dan Ima serta 1 keponakan mereka Ano (Ahmad Nadhif). Tanggung jawab Moko tidak berhenti di situ. Beban hidupnya semakin berat dengan kehadiran tiga orang baru di rumahnya: Gadis (Kawai Labiba), anak seorang guru les piano yang dititipkan kepadanya, serta kakak dan kakak iparnya Osa (Niken Anjani) dan Eka (Ringgo Agus Rahman), yang baru saja datang dari luar kota.
Dalam sekejap, pundak Moko kini menanggung beban sebagai kepala keluarga bagi ketujuh ponakannya. Film ini membawa kita mengikuti perjalanan emosional Moko dalam menavigasi babak baru hidupnya, dihadapkan pada persimpangan terbesar: melepaskan cita-citanya sebagai arsitek profesional demi menghidupi keluarga, atau terus berjuang meraih mimpi di tengah tanggung jawab yang luar biasa berat.
Realitas Generasi Sandwich yang seringkali dikesampingkan
Generasi Sandwich merupakan istilah yang menggambarkan kondisi dimana seseorang harus menanggung beban finansial dan tanggung jawab perawatan untuk dua generasi sekaligus, yaitu orang tua mereka dan anak-anak mereka. Istilah ini seringkali dikaitkan dengan tekanan finansial dan emosional yang dialami oleh individu tersebut seperti yang diibaratkan seperti sandwich, di mana orang tua dan anak-anak adalah roti, dan individu tersebut adalah isinya yang terhimpit.
Meskipun kisah Moko tidak sepenuhnya cocok dengan definisi dari Generasi Sandwich yang ada di film ini tetap menyentuh inti masalah yang sama. Ia merepresentasikan generasi muda yang terpaksa menanggung beban keluarga di usia belia, mengorbankan masa depan pribadi demi tanggung jawab yang datang tiba-tiba. Fakta bahwa “1 Kakak 7 Ponakan” merupakan adaptasi dari kisah populer di era 90-an menunjukkan bahwa fenomena ini bukanlah hal baru. Isu ini terus relevan, seolah mengindikasikan bahwa realitas ekonomi bagi sebagian kalangan tidak banyak berubah dari dekade ke dekade.
Saviour Complex dalam penokohan Moko
Dilansir dari Alodokter, “Savior complex” adalah dorongan kuat dalam diri seseorang untuk selalu menyelamatkan atau menolong orang lain secara berlebihan. Individu dengan kecenderungan ini sering kali mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan diri sendiri untuk memperbaiki masalah orang lain, bahkan ketika pertolongan mereka tidak diminta atau dibutuhkan.
Karakter Moko menunjukkan kecenderungan kuat untuk selalu mengalah dan menjadi tumpuan bagi keponakan-keponakannya. Akibatnya, ia sulit menolak permintaan orang lain dan sering kali mengabaikan kondisinya sendiri. Ironisnya, Moko justru sering kali menolak uluran tangan dari Maurine maupun keponakannya, sehingga beban yang dipikul seorang diri terus bertambah. Rangkaian perilaku inilah yang menegaskan bahwa Moko memiliki savior complex yang cukup kuat pada dirinya.
Kisah Moko adalah cerminan realitas yang begitu dekat dengan kehidupan banyak orang, terutama di tengah tantangan ekonomi yang serba tidak pasti. Film ini hadir sebagai pengingat lembut namun kuat bahwa memprioritaskan kesejahteraan diri bukanlah sebuah keegoisan, melainkan sebuah keharusan. Pelajaran ini seringkali terlupakan, khususnya oleh “generasi sandwich” yang terbiasa memikul banyak tanggung jawab. Pada akhirnya, film ini mengajarkan bahwa keberanian untuk meminta dan menerima bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal untuk meraih kehidupan yang lebih ringan dan bermakna.




