Malang, PERSPEKTIF — Pemerintah Kota (Pemkot) Malang terhitung sejak akhir Agustus tengah mengerjakan proyek drainase di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta (Suhat), Kota Malang, yang mengorbankan sekitar 150 pohon. Proyek tersebut disebut sebagai langkah mendesak untuk mengatasi masalah banjir kronis. Melalui wawancara pada Kamis (16/10) Jadfan Sidqi Fidari, salah satu dosen Teknik Pengairan Fakultas Teknik (FT) Universitas Brawijaya (UB) menjelaskan bahwa proyek ini adalah bagian dari masterplan drainase kota yang telah direncanakan sejak 2022.
Melalui wawancara bersama Tim Lpm Perspektif, Jadfan menyebut proyek ini telah melalui proses kajian dan koordinasi panjang, termasuk mendapatkan izin dari pemerintah provinsi dan pusat, karena Jalan Suhat berstatus sebagai jalan provinsi.
Jadfan juga menegaskan bahwa urgensi penanganan banjir lebih diprioritaskan daripada mempertahankan pohon di lokasi saat ini.
“Kalau pohon otomatis bisa kita relokasi, tapi banjir dampaknya bisa korban jiwa kalau makin dibiarkan, itu yang lebih urgent,” ujarnya dalam wawancara. Ia menambahkan bahwa pohon-pohon tersebut akan direlokasi atau ditanam kembali setelah proyek selesai, meskipun membutuhkan waktu.
Awalnya, proyek drainase ini direncanakan mengambil area median atau bagian tengah jalan. Namun, rencana itu diubah ke sisi kiri jalan.
“Ternyata kalau bagian itu (tengah, red) dipindahkan, ternyata banyak pipa yang lebih besar yang posisinya ada di tengah-tengah menyilang. Kalau itu diambil, kerugiannya atau dampaknya lebih besar,” jelas Jadfan.
Berdasarkan penjelasan Jadfan, 150 pohon yang ditebang dan direlokasi ditangani oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), bukan oleh pelaksana proyek drainase.
“Ada kurang lebih 150 pohon yang harus direlokasi. Nah itu teman-teman DLH yang melakukan. Kalau ini sudah beres, pohonnya akan direlokasi seperti semula,” ungkap Jadfan.
Jadfan juga menambahkan, proyek ini harapannya selesai pada tahun 2025 dan dapat beroperasi pada akhir tahun untuk mengantisipasi puncak musim hujan.
Di sisi lain, seorang mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) (yang namanya tidak ingin disebutkan, red) mengeluhkan dampak dari proyek tersebut. Ia yang merupakan komuter dari Pasuruan, merasakan suhu di kawasan Suhat menjadi lebih panas setelah pohon-pohon ditebang.
Ia juga menyoroti dampak lalu lintas. Meskipun ia mengaku biasa berangkat lebih pagi untuk menghindari macet, proyek ini menyebabkan rekayasa lalu lintas yang menyulitkan, seperti penutupan titik putar balik (U-turn).
“Biasanya bisa muter balik di depan jadinya kita harus ke selatan dulu, agak effort,” jelasnya (17/10).
Terkait sosialisasi, ia dan teman-temannya mengaku tidak mendapatkan sosialisasi resmi, dan bahkan baru mengetahui proyek tersebut melalui sosial media.
Meskipun terdapat perbedaan keterangan terkait sosialisasi, harapan masyarakat kini tertuju pada penyelesaian proyek. Besar harapan mereka agar pohon-pohon yang ditebang akan direlokasi kembali, sehingga manfaat pembangunan bisa dirasakan tanpa mengorbankan lingkungan.
(alr/aw/zn/jul/saz)




