Lompat ke konten

Mahasiswa, Kekuasaan, dan Misteri Keberadaan Oknum dalam Kerusakan Sistem

Ilustrasi: Awva Dzikrina
Oleh: Ni Komang Yuni Lestari*

Manusia memang sulit dipercaya perihal kekuasaan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Lord Acton, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Kekuasaan berkecenderungan untuk menyuap, dan kekuasaan absolut menyuap secara mutlak. Menjadikan manusia sama saja dimanapun mereka berada.  Hanya saja, yang di sebelah sana dengan kuasa besar, dan yang di sebelah sini dengan kuasa kecil. Foucault mengatakan bahwa kekuasaan bekerja secara halus, tidak selalu datang dari atas, melainkan merambat pada norma, prosedur, dan kebiasaan yang menyusup dan menjadi mekanisme sosial. Barangkali memang penyalahgunaan kekuasaan bukan lagi sesuatu yang dimiliki individu, tetapi juga dijalankan sistem tempatnya bekerja.

Skandal penggelapan joki ospek dengan penyelesaian yang bertele-tele. Pemalsuan invoice dan penggelapan dana PDH EM UB.  Lihat, kan? Korupsi kecil-kecilan yang terjadi dalam lingkup sekecil universitas beserta kelakuan mahasiswa di dalam lingkaran tersebut. Sekali seseorang diberi sedikit kekuasaan, mereka seakan bisa langsung mengenali celah untuk mendapatkan keuntungan tidak resmi, lengkap dengan cara-cara untuk berkelit dari tanggung jawab .

Merupakan suatu anomali yang begitu familiar melihat bagaimana praktik korupsi kecil-kecilan itu dilakukan dan terjadi di organisasi mahasiswa. Nyata benar bahwa bertahun-tahun pendidikan moral di bangku universitas tidak sia-sia untuk mereka. Bahkan status mahasiswa pun tidak mampu mengubah mereka menjadi orang yang lebih berintegritas dan bertanggung jawab. Tidak perlulah sekiranya dijabarkan siapa itu mahasiswa dan bagaimana seharusnya mereka bersikap. Itu merupakan satu kesia-siaan yang hanya menambah panjangnya tulisan ini.

Seperti yang sudah-sudah dan yang tampaknya akan terulang lagi,  sebuah organisasi, lembaga, dan kelompok, dengan entengnya mengelak dengan cara lama menjauhkan tanggung jawab langsung dari mereka dengan serangkaian pernyataan seperti ….

 “Itu ulah oknum,” 

Seolah mereka sama sekali tidak pernah bekerja sama sebelumnya, seakan-akan oknum jatuh begitu saja dari langit ke dalam organisasi mahasiswa dan menciptakan masalah di sana. Oknum memang cara yang paling mudah dan cepat untuk menyelamatkan muka.

Oknum, selalu menjadi misteri di tempat dimana dia disebut. Siapakah oknum ini? Bagaimana dia bisa masuk ke dalam tubuh organisasi mahasiswa? Mengapa nama dan identitas oknum ini tidak pernah disebut dengan terang-terangan? Apa yang sulit dari menunjuk wajah seseorang yang sudah mencoreng nama organisasi?. Oknum tidak sekonyong-konyong disodorkan oleh struktural organisasi sebagai oknum untuk dipersalahkan bila sebuah masalah muncul. Oknum adalah apa yang tersisa dan yang dibuang dari runtuhnya harga diri, kebanggaan yang telah memangkas, dan rasa malu yang tak dapat ditawar namun masih dicoba untuk disembunyikan.

Oknum adalah entitas sistemik yang diciptakan untuk menanggung setiap pertanggungjawaban moral dan citra yang rusak oleh orang-orang yang menolak untuk mengakui bahwa di tubuh mereka masalah itu terjadi dan sistem didalam tubuh itu yang memungkinkan masalah terjadi. Semua itu terakumulasi dalam satu kata dan disembunyikan dengan label “Oknum,” lalu berharap itu sudah cukup untuk menjawab seluruh keganjilan yang ada, tak peduli bahwa orang-orang yang mendengar kata tersebut sudah kepalang jenuh dan muak.

Belakangan, oknum sepertinya memang disiapkan dan dibangun sebagai sesuatu yang lumrah—bukan sekadar human error. Hanya agar sebuah kesalahan memiliki jawaban yang dapat disampaikan pada khalayak, menjadikan oknum semacam jawaban pamungkas siap pakai.

Tujuannya sederhana: agar setiap kesalahan memiliki jawaban yang bisa disodorkan kepada publik. Jadilah “oknum” semacam jawaban pamungkas siap pakai. Tak peduli jawaban itu terdengar menyerupai bunyi statis yang salah frekuensi, yang penting jawaban itu ada untuk menyelesaikan alur mendasar masalah kebobrokan sistem.

Abstraksi dalam fenomena oknum musti senantiasa dijaga, sebab kesalahan sistemik lebih mudah dikabulkan lewat personalisasi kesalahan. Mengungkapkan siapa itu oknum hanya akan mengubah bagaimana cara kebanyakan organisasi berkelit dari kesalahan mereka. Seperti sudah menjadi kesepakatan tak tertulis di organisasi manapun bahwa jika masalah terjadi, maka seluruh tanggung jawab disodorkan dalam bentuk oknum. 

Sebagai sebuah simbol kegagalan moral kolektif yang tak hanya sengaja personifikasi agar rasa malu bisa dialihkan, oknum niscaya sudah menjalankan perannya dengan baik walau dengan citra yang buruk. Oknum bukan lagi soal kesalahan atau pun menjadi tanggung jawab moral dari individu. Ia dibangun, dibentuk, dirawat, disepakati, dan menjadi bagian dari mekanisme sistem yang terus dikembangkan mengingat bagaimana kata ini diproduksi masal di berbagai tempat. 

Mulai dari lembaga negara sampai organisasi mahasiswa, semuanya memiliki pola yang sama, dan mahasiswa sebagai orang-orang yang belajar di bangku kuliah perihal bagaimana kombinasi manusia dan kuasa membentuk kebobrokan sistem, justru bersikap sangat menyedihkan dengan mengulangi lagu lama kaset kusut, seakan diplomatis namun memang sama sekali tidak dalam upaya untuk berbenah.

(Visited 187 times, 1 visits today)
*) Penulis adalah mahasiswa dengan disabilitas netra di jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya tahun angkatan 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?