Malang, PERSPEKTIF – Tanah pemakaman di Taman Makam Pahlawan (TMP) Untung Suropati pagi hari itu tak lagi berbau anyir darah seperti di pertengahan 1940 lalu. Bahkan, sejauh mata memandang akan ditemui pohon-pohon Kamboja berbagai warna yang tengah bermekaran. Tak jarang juga mereka berguguran di tanah, jatuh tepat di atas nisan-nisan para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang bersemayam di sana. Seolah memberikan penghormatan tanpa wujud pada gumpalan tanah yang membalut jasad mereka.
Terik sinar mentari yang menyinari setiap deretan blok area pemakaman, menghasilkan kilauan pada nisan-nisan yang ada di sana. Tak sedikit di atas jejeran nisan tersebut ditemui bunga-bunga segar yang ditinggalkan, sebagai penanda hadirnya sanak keluarga dekat yang tak pernah lupa memanjatkan do’a dan menyalurkan rasa rindu pada sosok-sosok yang sudah puluhan tahun lamanya terkubur di bawah tanah pemakaman tersebut.
Namun, tak hanya nisan penuh bunga-bunga segar yang dapat dilihat sepanjang mata memandang, tapi juga nisan-nisan tak dikenal yang hingga detik ini tak pernah diketahui identitas di balik sosok pahlawan yang dikuburkan di sana. Entah siapa namanya atau berapa usianya saat ia gugur. Bahkan, mungkin ada sanak keluarga yang tak pernah tahu sosok-sosok tersebut telah gugur, bertahun-tahun lamanya menanti kepulangan mereka. Bahwa mungkin selama berpuluh-puluh tahun lamanya, tak pernah ada barang satu kelopak bunga saja yang ditaburkan di atas tanahnya. Kesepian dan bertahan dalam kesendirian selama berpuluh-puluh tahun berselang setelah kemerdekaan diraih oleh bangsa ini.
Dari Rumah Tuhan Menjadi Perlambangan Kefanaan Manusia
Kompleks pemakaman TMP Untung Suropati seolah telah ditakdirkan menjadi sebidang tanah yang mengemban tugas suci dari semesta sebagai tempat persemayaman terakhir jiwa-jiwa para pahlawan bangsa yang begitu berjasa dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bagaimana tidak? Tanah seluas kurang lebih 4,2 hektar tersebut rupanya memiliki sejarah panjang yang dapat dilacak dari masa penjajahan Kolonial Jepang pada tahun 1942. Cikal bakal lahirnya TMP Untung Suropati tak dapat dipisahkan dari pembangunan rumah ibadah yang dilakukan oleh Tentara Jepang begitu mereka mengambil alih Hindia Belanda.
“Orang Jepang itu membangun tempat ibadah (berupa, red) Jinja. Jinja itu Kuil Shinto. Orang Jepang, kan, beragama Shinto,” pantik Irawan Prajitno di awal perbincangan saat ditemui di rumahnya yang berada di kawasan Araya (19/09). Irawan merupakan salah satu pegiat perkumpulan jelajah bersejarah bangunan-bangunan bersejarah di Kota Malang.

Potret bangunan Kuil Shinto di area TMP Untung Suropati sekitar tahun 1942-1943 (arsip Irawan Prajitno) (19/09/2025) (PERSPEKTIF/Ryenk)
Sebuah foto lawas yang menampakkan kokohnya bangunan Kuil Shinto yang sebelumnya menempati paving tanah TMP Untung Suropati itu diletakkan Irawan di atas meja. Naasnya, itu merupakan satu-satunya foto bersejarah tempat tersebut yang tersisa sekarang.
Sentimen dan rasa kebanggaan diri Tentara Jepang yang tinggi tak mampu membendung rasa malu mereka ketika kekalahan didapatkan bangsanya pada 1945 lalu. Tak ayal, penghancuran dan pembakaran bangunan-bangunan serta bukti peninggalan mereka terjadi secara besar-besaran pada tahun itu. Kobaran sang jago merah melahap habis pondasi kuil tersebut, menyisakan mitos yang tak pernah benar-benar terjawab tentang kehadiran tempat pemujaan kepada Tuhan itu.
“Kalau dari Jalan Bogor, ada pintu gerbang TMP yang ada arcanya itu naik dua kali. Masuk sekali, ada tanah lapangan itu, baru naik. Ya ini, undakan dan konturnya yang masih bertahan hari ini,” jelas Irawan sembari menunjukkan titik-titik penting pada satu-satunya jejak gambar peninggalan Kuil Shinto yang ia miliki tersebut.
Bekas bangunan Kuil Shinto itu dahulunya menghadap tepat ke arah Jalan Bogor. Pada masa kejayaannya, Tentara Jepang mendatangkan langsung pohon yang oleh orang-orang dahulu kala lebih dikenal sebagai cemara angin dari Jepang untuk memperindah tempat pemujaan kepada Tuhan tersebut. Setiap kali angin berembus, bunyi siulan angin akan terdengar dari deretan pepohonan itu, menambah kesan damai yang ada. Pohon-pohon itulah merupakan satu-satunya hal yang tersisa dari kemegahan Kuil Shinto yang sempat mendiami cikal bakal tanah pemakaman tersebut.
Kini, bangunan yang dulunya merupakan rumah Tuhan itu telah berubah menjadi perlambangan dari kefanaan manusia. Dari lantunan do’a penuh pemujaan pada Sang Pencipta menjadi isakan tangis tak terbendung yang mewakili kehilangan akan raga seorang manusia.
Sejarah yang Terkubur Bersama Zaman
“Kami sempat bertemu dengan seseorang yang mengalami masa ini (pembangunan kuil tersebut, red) dan beliau baru meninggal tiga tahun yang lalu, namanya Pak Halil. Beliau menceritakan bahwa Jinja itu tempatnya ya di situ (sekarang TMP Untung Suropati, red),” ujar Irawan. Ia tampak antusias menjelaskan secara runtut mengenai sejarah pembangunan kuil yang tempat keberadaannya kini telah berganti menjadi TMP tersebut.
Informasi tersebut ibarat sebuah harta karun, sebab setelah puluhan tahun lamanya beredar informasi simpang siur mengenai bekas bangunan yang menghuni cikal bakal tanah TMP Untung Suropati, kebenaran mengenai rumor tersebut akhirnya terbuktikan dengan jelas. Hal ini dibenarkan oleh Kur, juru kunci TMP Untung Suropati yang menyatakan bahwa sejarah awal tempat tersebut tak pernah benar-benar terarsip, pun juga dengan tahun resmi berdirinya yang tak kunjung ditemui titik terangnya.
“Saya sampai sekarang enggak tahu tahun berapa didirikan, awal mulanya bagaimana. Kalau menurut cerita dari warga-warga, dulu di sini sawah. Entah tahun berapa, karena ada yang meninggal tahun 1946-1948, jadi tahun segitu sudah ada makam,” ujar Kur saat ditemui pada wawancara di area TMP Untung Suropati (01/09).
Keterangan dari Kur turut dibenarkan oleh Irawan. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa pada masa Kolonial Belanda, tempat tersebut memang tak lebihnya sebuah sawah. Baru pada masa peralihan Kolonial Jepang, sawah di sepanjang jalan tersebut dialihfungsikan menjadi Kuil Shinto. Keterangan ini turut diperjelas dengan hadirnya peta Sekutu yang menggambarkan titik-titik penting di Kota Malang pada masa itu.
Peta Sekutu sekitar tahun 1945 (arsip Irawan Prajitno) (19/09/2025) (PERSPEKTIF/Ryenk)
Di masa itu, ada dua bangunan penting yang digunakan oleh Tentara Jepang. Pada Peta Sekutu yang diperlihatkan Irawan, dua bangunan tersebut masing-masing tercatat pada nomor 15 dan 16. Pada nomor 15 tercatat sebagai Japanese Broadcasting Station atau stasiun penyiaran Jepang yang dulunya merupakan stasiun penyiaran milik Belanda. Sementara itu, pada nomor 16 tercatat berdirinya Japanese House of Worship yang selama ini dikaitkan erat sebagai bangunan Kuil Shinto tersebut.
Hal yang cukup janggal dan menjadi perdebatan beberapa ahli hingga membuat simpang siurnya kebenaran mengenai keberadaan bekas Kuil Shinto pada zaman itu adalah letak kedua bangunan tersebut yang cukup berjauhan dalam Peta Sekutu. Padahal, apabila melihat peta saat ini, letak Japanese Broadcasting Station yang sekarang merupakan Sekolah Sang Timur seharusnya terletak tidak terlalu berjauhan dari TMP Untung Suropati.
“Kuilnya sebenarnya posisinya kalau yang benar ya (di peta, red) lebih dekat (dengan Sekolah Sang Timur, red). Area ini belum ada apa-apa zaman itu, sawah, makanya gambarnya tidak pas. Tapi, dalam peta ini disebut memang ada dua gedung yang digunakan oleh tentara Jepang dan menguatkan data bahwa kuil itu di situ,” jelas Irawan dengan nada menggebu-gebu, tampak bersemangat menjelaskan sejarah masa kolonial kawasan tersebut.
Sejarah awal area tersebut lah yang nantinya akan menjadi latar belakang utama dijadikannya bekas tanah tempat Kuil Shinto pada masa Kolonial Jepang itu berdiri menjadi TMP satu-satunya di kota yang dijuluki sebagai Kota Bunga ini. Area yang pada tahun-tahun awal kemerdekaan Republik Indonesia menjadi lautan merah darah pekat, di mana jasad-jasad para pejuang kemerdekaan berserakan di jalanan layaknya dedaunan yang berguguran di musim gugur.
Bukan Sekadar Nama, Melainkan Simbol Perlawanan
Usut punya usut, pemilihan ‘Untung Suropati’ sebagai nama TMP tersebut tak hanya sebagai simbol penghargaan dan penghormatan pada sosok Untung Suropati, salah satu Pahlawan Nasional yang berjasa dalam melawan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) pada awal 1700-an silam. Nama tersebut juga dipilih sebagai upaya mengenang perlawanan pada pertempuran-pertempuran besar yang turut terjadi di Malang pada tahun 1940-an.
Papan nama TMP Untung Suropati (10/09/2025) (PERSPEKTIF/Ryenk)
“Kenapa kok dinamai TMP Untung Suropati? Itu diambil dari divisi yang ada di Malang, divisi VII namanya Divisi Untung Suropati,” ungkap Dominggus Ishak, pustakawan Perpustakaan Museum Brawijaya Malang saat ditemui di tempat kerjanya tersebut pada Senin (22/09).
Dominggus atau yang lebih akrab disapa sebagai Pak Dom sudah puluhan tahun mengabdi sebagai pustakawan di Perpustakaan Museum Brawijaya Malang. Ketika ditemui untuk wawancara, sosoknya tengah bercengkrama dengan beberapa personil Tentara Nasional Indonesia (TNI) di dekat gerbang masuk museum tersebut. Dom menjelaskan bahwa pemilihan nama tersebut turut didasarkan pada pertempuran-pertempuran besar yang terjadi di Malang pada masa itu. Sebut saja Agresi Militer Belanda (AMB) I pada 1947 silam di mana Divisi VII/Untung Suropati turut terjun dalam operasi militer tersebut.
“Pada saat itu, tahun 1947 ada AMB I. Lah, (mereka, red) yang gugur dimakamkan di situ, mbak,” ujar Dominggus mengkonfirmasi dugaan mengenai tahun kehadiran nisan pertama di area TMP Untung Suropati. Tak hanya AMB I, Dominggus juga menyebutkan terjadinya salah satu pertempuran besar di Kota Malang pada tahun tersebut yang sama-sama menjadi cikal bakal digunakannya area bekas Kuil Shinto tersebut menjadi tanah pemakaman yang kelak di masa depan akan masyarakat Kota Malang kenal sebagai TMP Untung Suropati.
Malang dalam Rekam Jejak Memori Tahun 1946-1948

Peta pendudukan musuh dan kantong-kantong gerilya di Kota Malang pada Agresi Militer Belanda I tahun 1947 (arsip Museum Brawijaya) (22/09/2025) (PERSPEKTIF/Ryenk)
Kekalahan Jepang pada Perang Dunia II membuat negeri matahari terbit itu mau tak mau harus merelakan dan meninggalkan bekas tanah yang telah mereka peras sumber daya alam dan manusianya selama tiga tahun itu. Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pun berkumandang, dari Sabang sampai Merauke, terdengar dari pulau ke pulau. Ibarat terompet panjang tanda kemenangan. Namun, riuh gegap gempita perasaan menang dan merdeka itu rupanya tak bertahan lama.
Masuknya kembali Belanda dengan menumpang pada Sekutu, yaitu Nederlandsch-Indische Civiele Administratie (NICA) rupanya memberikan guncangan dan ancaman besar pada kemerdekaan Indonesia. Banyak pertempuran meletus setelahnya. Bunyi tembakan, pesawat yang terbang di angkasa membawa amunisi, serta tank-tank yang turun ke jalanan tak dapat lagi terelakkan. Ketika pada 30 Oktober 1945 Brigadir Aubertin Walter Sothern Mallaby tewas dalam kebakaran yang menimpa mobilnya, ultimatum bagi masyarakat Indonesia terutama yang berada di Surabaya untuk meletakkan senjata dan mengangkat bendera putih tanda kekalahan pun menggema.
Namun, berkobarnya pertempuran 10 November di Surabaya menjadi penanda utama semangat kemerdekaan yang tak pernah padam barang sedetik pun. Dari sanalah, banyak laskar-laskar terhimpun. Sebut saja Hizbullah hingga sebuah laskar yang terdiri dari pelajar-pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang kelak akan lebih dikenal masyarakat luas sebagai Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).
“Dalam peristiwa itu, Surabaya berhasil diduduki. Lambat laun Belanda berhasil masuk ke Malang pada tahun 1947. Kemudian (mereka, red) mendesak kita sampai akhirnya pemerintahan itu diungsikan ke Malang Selatan, terbentang dari Turen sampai ke Sumberpucung,” jelas Irawan (19/09). Ia menunjukkan peta Kota Malang setelah kedatangan Belanda pada sekitar tahun 1945 sebagai penunjuk area.
Penjelasan salah satu konflik yang meletus di Malang antara pejuang dan Belanda (arsip Museum Brawijaya) (22/09/2025) (PERSPEKTIF/Ryenk)
Irawan menjelaskan bahwa selama rentang bulan Juli 1947, Malang menyaksikan begitu banyak pertempuran. Apabila Bandung memiliki peristiwa Bandung Lautan Api, maka Malang menyebut peristiwa dibakarnya gedung-gedung strategis di Kota Malang seperti Balai Kota hingga Hotel Pelangi untuk upaya menghalau Belanda menduduki Malang sebagai peristiwa Malang Bumi Hangus. Peristiwa tersebut terjadi pada rentang tanggal 15-30 Juli 1947. Puncak pertempuran hebat yang terjadi di Malang berada pada tanggal 31 Juli 1947, pertempuran yang kelak lebih dikenal sebagai Pertempuran di Jalan Salak yang terjadi antara Belanda melawan TRIP.
“Pada 31 Juli 1947 pagi hari di Jalan Pahlawan TRIP (dulu Jalan Salak, red), mereka (TRIP, red) berpikir bahwa Belanda akan datang dari arah utara. Mereka tidak menyangka Belanda datangnya dari Jalan Buring, sampingnya gereja (Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, red). Nah, terjadilah pertempuran yang tidak seimbang sehingga akhirnya dari 38 personil TRIP, gugur 35 orang,” tutur Irawan dengan pandangan mengabur. Suaranya sedikit bergetar kala menceritakan kisah tersebut pada jurnalis LPM Perspektif yang berada di kediamannya. Ia juga menyebutkan bahwa Pertempuran di Jalan Salak tersebut sangat membekas dalam ingatannya.
Menurut penjelasan Irawan, TRIP bukanlah sekadar tentara. Mereka sebenarnya adalah sebuah kelompok yang terdiri dari pelajar-pelajar yang turut ingin berkontribusi dalam mempertahankan kemerdekaan negeri yang mereka anggap sebagai tanah air itu. Meskipun terdiri dari pelajar-pelajar di kisaran bangku SMP dan SMA, namun rupanya TRIP sempat diresmikan dan diakui sebagai suatu divisi dari Tentara Nasional Indonesia pada saat itu.
“Tentara pelajar itu diakui sebagai suatu divisi di kemudian hari namanya masih Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan kemudian hari menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI). Nah, ketika menjadi TRI, anak-anak Tentara Pelajar (TP) ini kemudian tentu saja juga mengganti namanya menjadi TRIP,” terang Irawan.
Serentetan peristiwa yang terjadi di Malang pada rentang tahun 1947 ini menunjukkan adanya pola keberulangan, sekaligus suatu penanda dan petunjuk mengenai cikal bakal keberadaan nisan tak dikenal yang tersebar di banyak deret blok TMP Untung Suropati. Sebuah kisah mengenai para pahlawan yang tak pernah benar-benar abadi dalam nama, namun terpatri dalam kilas balik kelam sejarah Kota Malang.
“Maka dari itu, ya masuk akal orang-orang yang gugur pada tahun 1947 itulah yang dimakamkan awal di situ,” lanjut Irawan, tatapan matanya seolah menerawang kembali ke masa lalu, berusaha menceritakan babak baru terkait sejarah dan misteri di balik kehadiran nisan-nisan tak dikenal di petak tanah pemakaman yang dilabeli negara sebagai ‘Taman Makam Pahlawan’ tersebut.
Mereka yang Tak Dikenal Namun Abadi dalam Sanubari
Salah satu nisan tak dikenal di kompleks pemakaman TMP Untung Suropati (23/08/2025) (PERSPEKTIF/Ryenk)
Makam selalu diasosiasikan dengan kematian dan kematian tidak pernah menjadi bagian dari hidup manusia yang mereka nanti-nantikan. Apabila terdapat satu kata yang mampu menggambarkan manusia, maka itu adalah fana. Bahkan, bagi mereka yang begitu gagah nan perkasa layaknya pahlawan, kefanaan telah terukir menjadi nama tengah mereka.
Tugu peringatan yang menjulang tinggi di halaman utama TMP Untung Suropati dapat dilihat dari kejauhan begitu kaki melangkah melewati gerbang utama makam tersebut. Setiap tahunnya, berbagai satuan di bawah TNI silih berganti berdatangan untuk melakukan upacara, memberikan penghormatan, dan menaburkan bunga-bunga segar di hampir setiap deretan blok makam di sana. Namun, penghormatan seperti apa yang harus diberikan kepada nisan-nisan tak dikenal identitasnya yang juga berada di TMP itu?
Tak ditemukan dalam catatan yang berada di kantor penjaga pemakaman, tak juga dijumpai pada deretan rak buku di perpustakaan Museum Brawijaya. Tak pernah ada catatan yang menyebutkan identitas asli sosok-sosok yang bersemayam di bawah batu nisan tanpa identitas tersebut. Banyak orang berlalu-lalang melakukan ziarah di kompleks pemakaman tersebut, namun tak pernah benar-benar ada sosok yang mengenal identitas nisan-nisan itu. Mungkin, bahkan tak pernah ada yang mengingat sosok-sosok tersebut.
Irawan Prajitno menyebutkan bahwa banyaknya pertempuran yang meletus di Malang pada masa-masa awal di rentang tahun 1946-1948 kemungkinan besar menyumbangkan banyak jasad-jasad pejuang Indonesia tanpa identitas di TMP Untung Suropati. Tahun-tahun di mana AMB I hingga pertempuran TRIP mengudara sesuai dengan tahun yang tertulis pada nisan-nisan tak dikenal di pemakaman tersebut. Irawan menjelaskan adanya kaitan antara Pertempuran di Jalan Salak yang menguatkan asumsinya itu.
“(Pada peristiwa TRIP, red) 35 orang meninggal tergeletak di sana. Ketika peristiwa tembak-tembakan terjadi, orang sekitar dengar tapi enggak berani (keluar, red). Mereka baru mengurusi jenazah itu keesokan harinya dengan pikiran ya sudah dimakamkan saja di situ,” tutur Irawan. Penjelasan tersebut juga merupakan alasan di balik dibuatnya pemakaman massal tepat di bawah tanah area yang sekarang menjadi Monumen Pahlawan TRIP tersebut.
Lebih jelasnya, Irawan menuturkan bahwa jarak yang cukup dekat antara lokasi kejadian Pertempuran di Jalan Salak dengan TMP Untung Suropati memungkinkan adanya penyisiran besar-besaran yang dilakukan oleh Tentara Belanda pada waktu itu. Hal ini sesuai dengan arah pergerakan Tentara Belanda yang pada saat itu memang masih cukup berfokus di area yang kini kita kenal sebagai Malang Kota. Bukan hal yang mustahil apabila pertempuran-pertempuran besar banyak yang dilakukan di area tersebut.
Area belakang kompleks pemakaman TMP Untung Suropati (10/09/2025) (PERSPEKTIF/Ryenk)
“Jika terjadi pertempuran lalu ada yang meninggal, enggak mungkin orang Belanda repot-repot memakamkan, pasti (dimakamkan, red) oleh orang-orang lokal. Jika ada yang meninggal di situ, mereka pasti berusaha cepat-cepat memakamkan. Sehingga, tidak mungkin berpikir untuk mencari tahu (identitasnya, red) atau mencari tempat (pemakaman, red) yang spesial,” sambung Irawan.
Menurut Irawan, penjelasan tersebut sejalan kaitannya dengan awal mula terdapatnya banyak nisan tanpa nama, tak dikenal yang ada di TMP Untung Suropati. Selain karena letaknya yang strategis di tengah kota dan tak jauh dari pusat-pusat meletusnya pertempuran pada tahun-tahun itu, Irawan juga menjelaskan bahwa kontur tanah area tersebut yang sebelumnya telah dihuni oleh bangunan Kuil Shinto membuatnya mencolok di kalangan masyarakat. Area yang telah terbentuk itu sudah tentu lebih layak untuk digunakan sebagai pemakaman dibandingkan area-area lain yang pada tahun itu masih berupa persawahan.
Hal tersebut turut dijelaskan lebih lanjut oleh Dominggus. Ia menuturkan bahwa di samping banyaknya pertempuran di sepanjang tahun itu yang menghasilkan banyak korban jiwa. Alasan lain di balik keberadaan nisan tak dikenal di TMP Untung Suropati adalah karena belum memadainya atribut yang digunakan oleh para pejuang di masa itu.
“Untuk makam yang tidak dikenal, itu karena waktu berjuang (dahulu, red) enggak seperti tentara efektif sekarang yang ada (badge, red) namanya begitu. Namanya para pejuang itu ada rakyat serta ada tentara dan waktu tertembak, dia itu siapa namanya, gak kenal. Akhirnya dimakamkan dan nisannya disebut Tak Dikenal, tapi dia berjuang makanya dimakamkan di TMP,” beber Dominggus (22/09).
Ia menggarisbawahi bahwasanya yang turut terlibat pertempuran di masa itu bukan hanya dari kalangan tentara saja, namun juga rakyat sipil. Wajar apabila di kemudian hari identitas mereka tak pernah benar-benar diketahui. Perjuangan pada masa itu tak pernah dapat dikotak-kotakkan sesuai posisi dan jabatan, sebab perasaan sebangsa setanah air dan keinginan bebas sepenuhnya dari belenggu penjajahan ibaratnya telah menjadi api semangat yang berkobar dalam sanubari hampir setiap masyarakat Indonesia.
Makam Letnan Kolonel Hamid Roesdi, salah satu pejuang asli Malang (10/09/2025) (PERSPEKTIF/Ryenk)
Memang, banyak tokoh-tokoh pahlawan nasional yang bersemayam di TMP Untung Suropati. Sebut saja Hamid Rusdi, salah satu tokoh pejuang asli Malang yang juga pernah menjabat sebagai Komandan Batalyon (Danyon) Infanteri 512. Witarmin, salah satu tokoh penumpas pemberontakan Gerakan 30 September 1965 di Blitar yang juga merupakan kapten Pembela Tanah Air (PETA) tahun 1942 juga turut disemayamkan di sana. Namun, hadirnya nisan tak dikenal di banyak TMP tak hanya di Untung Suropati menandakan bahwa pahlawan tak pernah benar-benar dapat didefinisikan oleh sekadar gelar militer saja. Terkadang, tak semua pahlawan sempat diabadikan dan dikenang dalam sejarah bangsanya sendiri.
“Belum tentu orang yang dimakamkan di TMP itu (dari satuan, red) militer. Orang yang berhak dimakamkan di TMP itu siapa? Orang yang punya Bintang Gerilya pasti, kemudian yang punya Bintang Veteran, seperti itu. Nah, belum tentu itu tentara,” ujar Irawan (19/09). Ia juga banyak menjelaskan mengenai peran masyarakat sipil yang tak juga gentar turut turun dalam banyak pertempuran di masa-masa awal kemerdekaan itu.
Nisan-nisan mereka boleh saja tak bernama, tak pernah benar-benar dicatat dan dikenang dalam buku sejarah. Namun, sumbangsih mereka dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia tak pernah cukup hanya untuk sekadar dituliskan dalam lembaran kertas-kertas itu. Nama dan jasa mereka mungkin tak banyak didengar oleh orang, namun akan abadi dalam sanubari.
“Sekarang kita tidak melawan musuh yang nyata. Oleh karena itu, kita harus mencerdaskan diri, supaya kita paham bahwa ada yang mau menjajah dengan cara-cara yang tidak konvensional. (Mereka, red) enggak bawa tentara ke sini, tapi dengan pemikiran yang macam-macam.”
Nasehat tersebut keluar dari bibir Irawan saat ditanyai mengenai pesan apa yang ingin ia sampaikan pada para generasi muda dalam meneladani perjuangan para pahlawan pendahulu kita. Ia juga turut mengutip perkataan Rektor Universitas Negeri Malang (UM) yang memberikan pesan agar kita selalu melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang. Terpaku pada satu sisi saja akan membuat kita, manusia, akan terjerumus pada sisi yang salah.
Identitas di balik nisan-nisan tak dikenal pada TMP Untung Suropati mungkin sampai akhir tak akan pernah benar-benar diketahui, namun sebagai generasi muda, kita bisa turut serta memastikan bahwa sumbangsih mereka pada negara ini dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Dengan terus menulis, menceritakan, dan meneruskan kisah-kisah perjuangan mereka pada generasi yang lebih muda.
Dua nisan tak dikenal yang berada di bagian tengah kompleks pemakaman TMP Untung Suropati (23/08/2025) (PERSPEKTIF/Ryenk)
“Jadi, no name (nisan tak dikenal, red) itu merupakan jati diri mereka, ada nilai filsafatnya yaitu biarkan Allah, Tuhan yang kenal dengan mereka. Kita kenal karena perjuangannya, jasa-jasanya pada negara. Jadi, kenapa dimakamkan di situ? Kembali lagi, untuk menghormati jasa-jasanya,” pungkas Dominggus (22/09).
Di penghujung kisah, bukan lagi tentang siapa dan kapan para pejuang itu meninggal serta dimakamkan di sana. Melainkan, tentang bagaimana sebuah perjuangan tak harus dimaknai berdasarkan identitas dan latar belakang mereka yang melakukannya. Perjuangan seharusnya dimaknai dari semangat dan ketulusan hati mereka yang tak pernah menyerah atas cita-cita untuk lepas dari sangkar penjajahan, untuk hidup dengan merdeka di atas tanah mereka sendiri, Republik Indonesia.
(red, rnz)












Bahasan yang apik dan runtut,,
Butuh tulisan semacam ini untuk mengetahui lebih jauh tentang bangunan bersejarah di Malang khusus nya dan Nusantara pada umumnya.