Film animasi “A Whisker Away” mengisahkan Miyo Sasaki, seorang gadis SMP yang memiliki kepribadian ceria serta nekat. Pada awal kisah ditunjukkan bagaimana Miyo jatuh cinta pada Hinode, teman sekelasnya yang pendiam, di kala festival kembang api ketika dirinya berubah menjadi kucing putih akibat dari topeng ajaib. Perkembangan tidak terduga dari hubungannya di malam itu membuat Miyo berinisiatif untuk mendekatinya dalam wujud Taro, wujudnya ketika berubah menjadi kucing. Karena sebagai kucing, ia bisa dekat dengan Hinode, tetapi sebagai manusia, Hinode justru menjauhinya. Namun, ketika Miyo terlalu sering menjadi kucing, ia menghadapi risiko kehilangan kemanusiaannya selamanya.
Film ini menghadirkan visual yang memanjakan mata, dengan animasi yang indah terutama dalam adegan fantasi dan dunia kucing. Detail ekspresi karakter dan latar belakang terasa sangat hidup. Dengan sentuhan alur yang kreatif, menggabungkan elemen fantasi dengan konflik remaja, seperti keinginan untuk dicintai dan konflik keluarga yang melandaskan bagaimana tokoh itu tumbuh. Sebagai seorang protagonis, Miyo dibungkus dengan energik, tapi juga rapuh. Sementara Hinode memiliki kedalaman emosi yang perlahan terungkap. Akan tetapi, beberapa bagian terkesan terburu-buru, terutama perkembangan hubungan Miyo dan Hinode. Aturan di dunia kucing dan topeng ajaib juga tidak dijelaskan secara spesifik, hingga kemungkinan akan membingungkan sebagian penonton.
Film ini menyampaikan pesan tentang menerima diri sendiri, pentingnya komunikasi dalam hubungan, dan bahaya lari dari masalah. Miyo belajar bahwa menjadi “bukan dirinya” justru merugikan, sementara Hinode belajar membuka hati. A Whisker Away adalah film animasi yang memikat dengan kisah unik dan visual memukau. Cocok untuk penggemar genre fantasi-romantis dan kisah coming-of-age. Meski ada beberapa kelemahan, film ini sukses menyentuh hati dengan pesan emosionalnya.




