Lompat ke konten

Menilik Warisan Rezim Otoriter dalam Autobiography

Sumber: imdb.com
Oleh: Ryenk Retno Jayanti *

Makbul Mubarak mungkin terhitung sebagai sutradara baru yang berkecimpung dalam penyutradaraan film panjang, namun pengalaman bertahun-tahunnya menggarap film pendek rupanya tidak dapat dipandang sebelah mata. Autobiography tidak perlu menyematkan kata horror dalam genrenya untuk menciptakan suasana mencekam dan penuh ketegangan di sepanjang filmnya. Autobiography adalah ketegangan itu sendiri. Secara garis besar film ini menyoroti Purnawinata (Arswendy Bening Swara), seorang pensiunan TNI yang kembali ke kampung halamannya dengan tujuan untuk mencalonkan diri sebagai seorang bupati. Kembalinya Purnawinata ke kampung lamanya ini disambut oleh Rakib (Kevin Ardilova) yang bekerja sebagai penjaga rumah tersebut menggantikan ayahnya. Jadi, keluarga Rakib ini telah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Purnawinata.
Mungkin kalian bertanya-tanya mengenai hal apakah yang membuat film ini menjadi menarik ketika sinopsis utamanya, pun, hanya menerangkan tentang kembalinya sosok pensiunan TNI ke kampung halamannya. Dari sana titik menarik itu muncul. Rupanya, dengan kembalinya Purnawinata untuk mencalonkan diri sebagai bupati, ia turut melibatkan Rakib yang sudah ia anggap seolah anaknya sendiri sebagai sosok ‘ajudan’ yang membantu dan melaksanakan semua perintah Purnawinata. Nah, namun rasa kebanggaan sebagai sosok yang paling dipercaya Purnawinata tiba-tiba luntur dalam diri Rakib ketika sebuah kejadian membuatnya mempertanyakan kemanusiaan dan tindakannya selama ini. Oke, aku anggap kalian sudah memakan umpannya. Perjalanan penuh ketegangan dan moral dalam film ini dimulai dari sana.

Arswendy Bening Swara layak diapresiasi atas aktingnya yang brilian dalam menampilkan sosok Purnawinata, seorang pensiunan TNI yang tegas, angkuh, dan bengis. Uniknya, pemilihan Rakib sebagai tokoh utama yang mendampingi sosok Purnawinata ini tergolong cukup unik. Diceritakan bahwa ayahanda Rakib tengah mendekam di penjara karena suatu hal. Kejadian itu menjadi latar belakang utama mengapa Rakib yang tergolong masih muda, di usia sekitar 20 tahun bisa menjadi penjaga rumah Purnawinata. Ia menggantikan tugas ayahnya. Dari sini dapat dilihat bahwa Makbul dengan sengaja menciptakan alur dan penokohan yang seperti itu untuk memberikan gambaran jelas mengenai kesenjangan antara dua karakter utama dalam film ini. Relasi kuasa itu digambarkan dengan jelas melalui banyak dialog yang menunjukkan bahwa perkataan Purnawinata adalah mutlak. Apa yang ia perintahkan dan apa yang ia inginkan adalah hal absolut yang harus Rakib sebagai ajudannya penuhi. Sebenarnya, Purnawinata jarang sekali menggunakan kalimat penuh nada ancaman ketika ia berbicara. Namun, nada bicara yang stagnan, cenderung stabil, tak beriak itu sudah cukup menggambarkan bagaimana sosok Purnawinata.

Purnawinata tak perlu berteriak atau membentak untuk membuat Rakib mengiyakan segala hal yang ia ucapkan. Arswendy dengan sangat brilliant memainkan ekspresi wajah dan tatapan sebagai pengiring intonasi bicaranya. Purnawinata kerap kali menatap lawan bicaranya dengan intens, ia berbicara dengan tidak tergesa-gesa, seolah-olah setiap kata yang keluar dari mulutnya harus didengarkan dengan saksama. Seolah-olah kesalahan kecil yang terjadi karena tidak mendengarkan kalimatnya dengan baik merupakan hal yang tak dapat ia toleransi. Penggambaran tokohnya yang seperti itu membuat Purnawinata seolah menjelma sosok yang tidak dapat dibantah. Penggambaran ketimpangan relasi kuasa ini didukung dengan teknik pengambilan gambar medium shot serta close-up yang berkali-kali dilakukan pada adegan yang melibatkan Purnawinata dan Rakib di dalamnya. Pengambilan gambar dengan kedua teknik itu memungkinkan penonton dapat lebih mudah memahami emosi dalam diri tokoh yang ada karena kamera lebih menyoroti pada ekspresi wajah serta gesture tubuh tokoh.

Uniknya, Purnawinata perlahan memanipulasi Rakib dengan membuatnya merasa seperti keluarga. Dengan memberi perhatian, hadiah, dan mengajaknya beraktivitas bersama, Purnawinata membangun persepsi bahwa hubungan mereka lebih dari sekadar majikan dan ajudan. Rakib yang rindu figur ayah mulai terbuka dan lebih patuh, percaya bahwa ia dimanusiakan. Padahal, ini adalah strategi Purnawinata untuk mengikat Rakib lebih dalam dan memastikan ketaatannya. Karakter Purnawinata merepresentasikan rezim otoriter. Ia anti-kritik, angkuh terhadap aspirasi rakyat kecil (seperti ditunjukkan dalam adegan dengan anak petani kopi bernama Agus), dan bengis terhadap siapa pun yang menentangnya.

Film besutan Makbul Mubarak ini seolah menjadi miniatur kecil dari masa Orde Baru yang pernah dialami oleh Indonesia di mana rakyat dibungkam, dilarang menyampaikan kritik, kritik yang lolos pun dibalas dengan hal yang lebih kejam. Di sisi lain, film ini juga menyoroti bagaimana praktik nepotisme dan politik uang sebenarnya hadir dan lahir dari sisi terkecil kehidupan manusia. Ia menjalar dari lingkungan desa hingga ke perkotaan di mana pusat pemerintahan berada. Tidak heran apabila pejabat-pejabat tinggi melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sebab, hal itu rupanya juga telah turun temurun dilakukan di desa-desa kecil dan pelosok. Banyak sekali adegan-adegan dalam film ini yang berusaha menggambarkan bagaimana kesenjangan dan sifat otoriter hadir dalam hidup masyarakat, membelenggu mereka dari kebebasan berpendapat dan hidup dengan lebih baik.
Makbul Mubarak lewat film ini berhasil menampik kalimat yang menyatakan bahwa sebuah film baru bisa dikatakan menegangkan, mendebarkan, dan menghantui apabila sosok hantu atau iblis hadir di dalamnya. Autobiography tidak memerlukan dua sosok itu untuk menghadirkan suasana mencekam dan mendebarkan di sepanjang durasi filmnya. Realita sosial yang berusaha ditampilkan lewat film ini saja sudah cukup menghadirkan sensasi tersebut.
Sang sutradara seolah mengatakan bahwa kehidupan dan sifat manusia jauh lebih kejam dan mencekam dari hal-hal mistis di luar sana. Sebab, film ini merupakan miniatur kehidupan manusia di mana potongan-potongan adegannya benar-benar terjadi di sekeliling kita. Ulasan film ini akan diakhiri dengan salah satu cuplikan dialognya yang sangat membekas di ingatan

“Kib, kalau kamu mau nembak, tembak dari depan. Jangan dari belakang seperti pengecut.”

(Visited 23 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi 2023 FISIP UB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?