Tatapan lemah dari ibu Ibnu masih menjadi sorot utamaku. Mencoba mengikuti emosi manusia-manusia ini cukup melelahkan. Wajah datar dan mata sedikit kusayukan membuat tepukan bahu jatuh padaku. Perlahan diri ini menjauh dari kerumunan dan berjalan menuju jalan raya untuk menemukan taksi.
Suasana panas macet tak pernah luput dari iris mata. Pertanyaanku adalah, melelahkan ya? Entah seberapa banyak emosi yang harus dipaksakan. Pemberhentian terpatri pada sebuah kafe ibukota dan memesan sesuatu yang manis dan mencolok. Sudut mata ini mendapati buku yang menarik di rak cafe. Berbahasa inggris di tengah kota nusantara?
Buku yang hendak kuambil itu dipilih oleh pemuda lainnya. Emosi yang dilontarkan orang itu terlalu banyak. Panik, tertawa canggung dan kata maaf yang terus dilontarkan.
“Sorry, sir. Did you want to read this?” Keinginan untuk melakukan interaksi aku urungkan. Kubiarkan dia memiliki buku itu. “Just take it.” Langkah kubawa kembali ke mejaku dengan segelas es kopi susu di petang panas.
Sempat terlintas di benak bahwa sehari setelah kematian targetku sebelumnya maka akan ada jeda setidaknya tiga hari sebelum aku benar-benar menemukan insan lainnya. Sebaliknya, insan itu memilih duduk tepat di hadapanku. Dia terlihat bersemangat dengan buku yang hendak kuambil sebelumnya dan segelas minuman hijau yang kurasa adalah matcha.
“I’m not sure if you were with someone or not but mind if I sit here? Apparently we have the same interest in this book, eh?” Pemuda yang sopan tetapi nada bicaranya tak sekaku Bilal dan beberapa manusia lainnya.
“Ah, yeah. You shall.” Jawabanku mengundang emosi yang statis darinya, senyuman. Percakapan yang panjang kuterima, sorot matanya ke sana kemari penuh perhatian dengan gelak tawa yang kurasa tidak terlalu diperlukan. Dari apa yang aku ketahui, namanya mudah kulafalkan. Rafael dengan umur yang hanya berbeda tujuh tahun lebih muda dariku.
“You know I’m not a native english speaker but you seem to understand me very well, Sir Belial.” Dia perhatian? Pikirku. “Mhm, it’s quite impressive actually. Are you a student?” Pertanyaanku dijawab dengan anggukan. Dia menjelaskan bagaimana dirinya merupakan seorang mahasiswa dari universitas swasta kota ini dan berbagai macam kegiatan yang mengundang ekspresi marah hingga helaan napas.
Sorot mataku hanya terpaku pada wajah itu dengan dalam berusaha menebak apa yang akan datang selanjutnya. Buku yang sempat dia pegang ditutup kembali. “I have another sequel over my apartment if you don’t mind seeing?” Undangan orang asing untuk menuju zona amannya? Ekspresiku hanya bisa menghasilkan tawa kecil. Wajahnya sedikit terkejut dengan perhatianku kepada telinganya sedikit memerah. Analisisku berkata–dia merasa malu.
“EHM– I HAVE NO WEIRD INTENTION. Please don’t laugh at me .…” Wajahnya tertutupi oleh tangan lentik untuk seorang lelaki yang juga memiliki cincin beads berwarna hijau–biru dan gelang beads dengan warna yang sama. Tampak tak asing pikirku. Kurasa tak ada salahnya masuk ke hidup orang asing untuk sementara. Katakanlah dia menarik perhatianku dengan sejumlah emosi yang berganti kian cepat.
***
Waktu kian berlalu, pintu besi terbuka dengan udara dingin menyeruak menembus pelipis Belial. Si rambut coklat, Rafael mempersilakan yang lebih tua untuk masuk dan melepas alat kakinya.
“It’s kinda messy, feel free to sit on the couch. I’ll take the book.” Langkah pelan dibawakan Rafael menuju kamarnya. Perhatian berubah dari pintu kamar berwarna merah menjadi seisi ruangan. Ruangan yang terlalu rapi, terstruktur, bahkan bisa dibilang tidak berkarakter. Seperti jarang sekali seseorang tinggal ke tempat ini untuk hidup. Apalagi dari pakaian nyentrik dan aksesoris yang dipakai oleh Rafael. Cukup berbanding terbalik.
Setidaknya sepuluh menit berlalu, pintu merah kembali dibuka dan Rafael keluar dengan celana pendek juga baju kaos warna hitam senada. Kesan Belial berbanding terbalik dengan pakaian cerah yang dibawakan Rafael sebelumnya. Tanpa kacamata dan wajah yang lebih maskulin. Buku di tangan kanannya diletakkan di meja ruang tamu. “Have you finished the trilogy?” Pertanyaan dengan nada suara yang lebih datar dibanding sebelumnya mengundang pertanyaan di benak Belial.
“I have. You seem to be deeply interested in this book. Any reasons?” Dari pertanyaan Belial, sang lebih muda menarik napas yang dalam dan memperbaiki posisi duduknya semakin rapat dengan pemuda lebih tua. Garis mulut si pirang sedikit terangkat dan sorot matanya tertuju pada Rafael. “You know that this book brings the most unpredictable murder case. Hercule Poirot is not a pure genius like Sherlock Holmes and such. But he managed to figure the case with the most rational and relevant communication method. So basically I admire him.”
Anggukan kecil diberikan Belial pada lawan bicaranya. Matanya menyipit mencoba menebak-nebak sosok di hadapannya ini sedang memikirkan apa. Perhatian Belial terhenti dengan rasa tak nyaman melihat sebilah bulu mata jatuh di pipi Rafael. Tanpa berfikir panjang dia berusaha mengambil bulu itu.
Napas Rafael terhenti sesaat sampai detik Belial memperlihatkan benda asing itu di jemari maskulinnya. “Your eyelashes fall.” Pernyataan singkat mampu membuat Rafael terpikat. “Are you James Moriarty?” Rafael bertanya sembari memiringkan sedikit kepalanya dan menatap Belial.
“Which version?” Wajah Belial mendekat kala pertanyaan balik dia berikan. Napas yang sempat tercekat itu menjadi lebih stabil. “BBC series. Jim Moriarty version.” Mata Rafael tak hanya terhenti di iris berwarna coklat terang di hadapannya tapi juga bibir yang bernafas tepat di hadapannya.
“Sexually, yes. Mentally? Jack the Ripper.” Permainan kode antar pemuda nusantara dan pemuda eropa ini memiliki pergerakan aneh. Seakan-akan mereka bisa membaca pikiran satu sama lain akan intensi yang dimilikinya.
“What about you? John Watson or Sherlock Holmes?” permainan kata dimulai. Mereka melontarkan pertanyaan yang bahkan furnitur ruangan tak bisa pahami.
“Mhm, easy. Whatever Ms. Hudson says about both of them were right.” Statement final Rafael selanjutnya mengundang Belial menjadi nekat. Baju kaos yang digunakan Rafael ditarik secara agresif oleh Belial sehingga jarak diantara mereka terkikis kosong.
Kedua indra perasa mereka bersatu dengan penuh ketidakpedulian. Tanpa rasa bersalah tanpa ada rasa khawatir. Belial tak pernah peduli dengan siapa dia akan berhubungan seksual. Perhatiannya kini terfokus dengan bagaimana kemampuan Rafael mampu menebak siapa sosoknya sebenarnya. “You don’t mind?” ucap Belial kepada pemuda di hadapannya. Kekehan manis hanya menjadi jawabannya dan tetap melanjutkan aktivitas mereka.
Seperti dikejar maraton, napas menderu di antara mereka. Tangan masing-masing bertaut di antara bahu dan leher kedua pemuda. Entah hasrat apa yang menyelubungi kedua pemuda itu di cuaca yang hangat di tanah nusantara tidak menghentikan langkah mereka untuk menuju kamar mencari-cari sebuah pencapaian.
Tubuh berisi Belial direbahkan pada ranjang dari kamar pintu merah. Walaupun mereka sedang bercinta dengan indra perasa Rafael yang menyapu habis leher yang lebih tua, mata Belial masih mencoba menelusuri ruangan, berusaha mencari tau kenapa apartemen seorang mahasiswa ini terlihat seperti tak memiliki kehidupan. “Very plain room for a colorful person like you, Rafael.” Ungkapan singkat sempat membuat sang lebih muda tertegun sesaat dengan tatapan dingin dan tak senang.
Sentuhan demi sentuhan berubah membawakan alur menjadi lebih tinggi, dengan kecupan berubah menjadi ritma yang mengundang lenguhan atas sentuhan Rafael kepada Belial. Baju yang entah sudah ke mana dan bawahan yang sudah terekspos sempurna, mereka berdua seperti dikejar setan atas puncak hawa nafsu.
Lengan lentik oleh Rafael perlahan menelusuri bagian tubuh bawah sang lebih tua. Rambut ikal berwarna coklat itu menatap ke bawah dan sedikit tersentak tatkala liangnya dimasuki oleh si rambut hitam nusantara. Geraman antara kedua sosok buas menjadi acapella yang mengisi seisi ruangan pada malam hari. Kian berlanjut dengan lantang dan tanpa perasaan walaupun seisi momen yang mereka lakukan kala itu membuat Belial penuh pertanyaan.
***
Kerjapan mata berusaha menelaah situasi dan ruangan. Gelap dan sangat rapi. Nakas di samping tempat tidur terdapat baju Belial yang dia kenakan kemarin terlipat rapi dan seperti sudah di cuci kering dengan sempurna. Dirinya dibawa bangun dan menganalisa seluruh situasi. Sepi. Tak ada insan lainnya di ruangan. Kembali di merebahkan dirinya dan mengecek pakaiannya. Terdapat surat berwarna merah dan pesan.
It was nice having you last night.
We shall meet at any other time.
Not by each other’s shafts but throat’s.
—R
Pesan singkat itu ditutup dan helaan napas menjadi sumber kebingungan dirinya. Sebuah panggilan tak terangkat dari seseorang dengan nama yang hampir mirip dengannya. Bilal. Total lima panggilan dan pesan tertulis di gawainya.
Ibunya Ibnu meninggal.
Dia gantung diri.
Di halaman belakang rumah.
Aneh, pikiran Belial berusaha menganalisa. Terdapat pesan gambar tentang kondisi korban yang seharusnya tidak asal disebarkan tapi dia mendapat 3 video dan 2 foto kejadian. Terlalu bersih. Terlalu rapi. Dan tali yang digunakan terlalu aneh. Sebuah tali yang dikepang dengan warna biru dan hijau. Seperti gelang yang pernah dia lihat.
Diri Belial beranjak dan bersiap pergi saat keluar dari pintu merah dan tatapannya melihat ruang kosong bahkan furnitur dari apartemen itu kosong. Sofa dan meja menghilang. Seperti angin membawa mereka pergi. Dia hanya tertinggal kosong di pintu merah seperti orang bodoh yang tak tahu menahu.
Sepertinya kasus ini bukan dirinya yang menargetkan seseorang. Belial, dia sedang menjadi target permainan nyawa seseorang. Senyum miring dan tawa aneh keluar dari dirinya saat menyadari hal itu.
“Fucking bastard.”
Di sisi lain ada siulan gembira dari sebuah ruangan megah seperti ruang seorang petinggi perusahaan. Di lantai tertinggi dan penuh dengan jendela kaca menghadap pada kemacetan pagi hari.
“Mas Raya, Belial sudah menginjak keluar ruangan.” Seorang pria paruh baya dengan postur tegas yang terlihat seperti asisten berbicara sopan pada pemuda yang sedang duduk menghadap jendela. “Tolong perhatikan dari jauh saja, seperti biasa laporkan kepada saya.” Perintah sederhana dari pemuda dengan lambut hitam legam. Sudut bibirnya yang sedikit lecet terangkat gembira dengan pulpen yang dimainkan di tangan kirinya.
Raya Abisatya Wiranto. Seorang pemuda yang kebetulan sekali menjadi pewaris sekaligus bermain peran sebagai joker di waktu luangnya. Perhatiannya kali ini tertuju kepada seorang pembunuh berantai bernama Belial. Entah obsesi apa yang menghantuinya sehingga dia membuat teka-teki sesuai dengan nuraninya.




