Lompat ke konten

Perihal Inklusivitas, Ketika Jargon Canggih Membungkus ilusi Ruang Aman, dan Tokenisme

Ilustrasi: Suci Dwi Febriyanti
Oleh: Ni Komang Yuni Lestari*

Seberapa sering kalian menemukan kata “Inklusif” dewasa ini? Berbagai lembaga, tokoh-tokoh pejabat, para Social Justice Warrior, mengeluhkan kata sakti ini di setiap slogan acara, postingan sosial media, dan banner-banner acara mereka. Inklusifitas itu bukanlah konsep dinamika sosial yang gampang dijalankan.

Indah memang, namun tidak mudah. Konsep yang, sebetulnya, amatlah sulit untuk menjadi ideal dalam kondisi masyarakat yang majemuk.Namun, sulit bukan berarti tidak mungkin, kan? Hal-hal yang layak untuk menciptakan ruang aman untuk semua orang sudah seharusnya dikerjakan oleh orang-orang yang memiliki kesadaran untuk memperlakukan sesama mereka dengan lebih baik.

Kendati demikian, Inklusifitas pada praktiknya, sering kali terasa begitu “tokenistik”. Kata “Inklusif” sudah kepalang klise dan diglorifikasi dengan sedemikian rupa sehingga kekuatannya untuk menyampaikan pesan menjadi kian mainstream dan receh, dan tokenistik, seakan-akan siapa pun yang menggunakan kata ini adalah orang paling berbudi luhur sedunia.

Nyatanya, sering kali seruan inklusivitas hanya ada pada banner, poster, dan postingan sosial media. Tanpa sadar, embel-embel inklusivitas yang ditambahkan tanpa peninjauan kembali tentang siapa saja yang sudah included di dalamnya, hanya akan menambah trauma kolektif pada kelompok marjinal lain yang tidak terakomodir dalam sebuah acara atau peristiwa yang disebut-sebut “inklusif.”

Bahkan, yang terakomodir pun belum tentu merasa aman dan bahwa ruang inklusif itu tidak sepenuhnya inklusif. Secara sadar tidak sadar, hal ini masih sering terjadi, terulang kembali, lagi dan lagi dan hanya sedikit sekali orang yang merasakan bahwa keluhan samar dibalik seruan lantang itu, sedang menjalar dari ketidak nyamanan dan keterasingan dari satu dua orang, satu dua kelompok yang belum atau tidak terakomodir dalam entah apa pun itu yang menyematkan kata “inklusif” di poster dan postingan sosial media mereka.

Tokenisme, sebuah istilah yang merujuk pada tindakan untuk menampilkan gambaran inklusi dan keberagaman dengan amat dangkal, yang bertujuan hanya untuk citra dan simbolis. Tokenisme dilakukan, boleh jadi secara sadar dan tidak sadar, namun yang pasti tanpa benar-benar melibatkan dan memberikan kesempatan bagi individu atau kelompok marjinal untuk bersuara, berpendapat, dan berekspresi mengenai inklusivitas yang dimaksud dan disebut-sebut.

Kesalahan umum yang dilakukan oleh orang-orang, adalah menyematkan kata inklusif hanya karena mereka menyertakan salah satu, atau beberapa kelompok marjinal dalam sebuah acara atau peristiwa, seperti menyertakan salah satu kelompok disabilitas tertentu dan menyematkan label inklusif dengan begitu saja, lalu tak meninjau kembali inklusifitas macam apa yang mereka terapkan, dan atau sudahkah mereka benar-benar melibatkan kelompok tersebut dan memberikan mereka ruang yang sungguhan aman?

Acap kali, yang mereka lakukan adalah berasumsi, meyakini asumsi itu, lalu melakukannya tanpa pertimbangan kelompok marjinal yang mereka libatkan. Pada akhirnya, mengulang kembali perlakuan khusus, eksklusifitas yang menimbulkan ketersinggungan yang halus namun teritori sosialnya sangat terasa menghunus. Pemerintah, lembaga, peristiwa, menyertakan beberapa kelompok marjinal kedalam sebuah acara, melabelinya dengan kata “inklusif,” dan menganggap bahwa itu sudah menyelesaikan masalah.

Mereka tidak pernah mengkonfirmasi kebutuhan kelompok marjinal yang mereka sertakan, tidak pernah mempertanyakan dan apa lagi mengevaluasi apakah upaya yang mereka lakukan sudah tepat atau belum. Seakan-akan dengan penyertaan yang mereka lakukan dan label “Inklusif” yang mereka sertakan dengan serta merta menuntaskan masalah sosial yang sudah mengakar terlalu dalam.

Masalahnya tidak terletak dari kata “inklusivitas.” Bukan pula dari ketidak sanggupan untuk mengakomodir semua kelompok ke dalam suatu tempat atau peristiwa yang, inginnya inklusif. Ini hanyalah penempatan dan persepsi yang keliru atas penggunaan kata pada sebuah konsep yang sedang diupayakan. Terutama jika hal tersebut berkaitan dengan pembahasan, pelibatan, dan isu-isu kelompok marjinal dalam garis besar, seperti kelompok disabilitas atau pun kelompok identitas gender.

Inklusifitas itu sulit karena ada begitu banyak keresahan yang berbenturan disana, ada berbagai perbedaan yang saling-silang, ada macam kepentingan yang ingin dicapai oleh setiap kelompok. Sayangnya, di antara banyaknya hal-hal baik yang diupayakan dan ingin diwujudkan oleh para pejuang inklusifitas, ada jarak sosial dan ketidakmampuan yang terlalu kentara untuk diabaikan. Ini adalah hambatan yang nyata, namun seringkali diabaikan. Seakan-akan dengan satu slogan saja setiap orang bisa langsung, dan diharuskan, untuk bertindak dengan standar yang paling luhur padahal kebanyakan orang tidak tahu, tidak mengerti, dan belum siap dengan perbedaan yang disodorkan begitu saja kedepan mata mereka. Terlebih lagi, perilaku mereka sudah diharapkan untuk harus inklusif.

Dari sanalah muasal dari inklusivitas yang mekanistik ini. Hanya karena suatu konsep yang begitu indah diiklankan kepada setiap orang, sesuatu yang sepertinya disepakati untuk menjadi baik dan “wah,” maka sebagian kecil yang memahaminya dengan cara yang amat dangkal akan memperlakukan kata dan konsep ini dengan sama dangkalnya.

Suka tidak suka, terima tidak terima, jarak sosial dan ketidakmampuan ini adalah lubang-lubang kecil yang sering kali diabaikan karena setiap orang langsung menginginkan berada di setiap hal-hal baik dalam inklusivitas. Padahal, seharusnya inklusifitas itu dibangung dari hal-hal yang paling fundamental, seperti bagaimana kita harus menutup lubang-lubang hambatan itu sedari awal, membangun kesadaran bersama, Mengapa Konsep ini perlu diupayakan setiap orang dan bagaimana setiap orang bisa memulainya untuk lingkungan di sekitar mereka, dari hal terkecil sekali pun. Menghadapi perbedaan, untuk sebagian orang, adalah sesuatu yang sulit, menakutkan, dan bahkan menyusahkan.

Dunia normal yang kita kenal sudah berjalan dengan semestinya, dan bila sedikit saja ada yang mengubah ritme yang mereka tahu, orang-orang boleh jadi kebingungan dan bahkan merasa terancam.
Terlepas dari itu semua, sepertinya inklusivitas sudah terlalu jauh dan rumit untuk dibicarakan dalam fungsinya yang sesungguhnya akibat glorifikasi berlebihan. Hal yang paling awal yang bisa kita lakukan saat ini adalah menarik premis awal dari bagaimana inklusivitas itu lahir dari diskriminasi, dan kegagalan manusia dalam memperlakukan sesama mereka dengan layak. Kegagalan itu adalah kegagalan paling menyedihkan setelah semua kemajuan yang diraih umat manusia hingga detik ini.

(Visited 161 times, 1 visits today)
*) Mahasiswa dengan Disabilitas Netra di jurusan Sosiologi Universitas Brawijaya 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?