Lompat ke konten

Thomas, Mama, dan Manhattan

Ilustrator - Muthia Fakhira
Oleh: Muhammad Akmal Fauzan*

Desember 2015

Matahari masih malu-malu muncul. Namun, sudah banyak gondola pembersih terpasang, menyediakan tempat untuk para pekerja membersihkan gedung-gedung megah itu. Sebetulnya, aku kagum dengan mereka sebab pagi-pagi begini sudah berfungsi, lihai bekerja di ketinggian, bergerak ke sana-sini seakan-akan hidup bisa diulang kembali jika jatuh. Hebat.

Sambil menggigil, aku menggendong tas yang hanya berisikan laptop, charger, dan botol minum. Setelah keluar dari apartemen, aku berjalan di trotoar. Niatku hari ini adalah ngopi ria di sebuah cafe dekat dengan Central Park. Orang bilang cafe ini buka pagi-pagi sekali dan americano mereka menyegarkan. Cocok betul untuk mengawali liburan semester.

Bodoh jika aku berpikir kota ini memiliki hari sepi. Mustahil. Pagi ataupun siang, sore ataupun Malam, Manthattan tetaplah Manhattan. Sekarang saja, taksi terlihat menaik-turunkan penumpang di depan apartemen-apartemen. Sementara itu, mobil mengantre panjang sekali di lampu merah. Di sisi lain, beberapa pedagang membuka tokonya, bersiap menyambut hari.

Ah, ini benar-benar kota sibuk, pusat segalanya.

Baru saja kulewati Empire State Building, yang terletak tak jauh dari apartemenku, Matt, dosen sekaligus praktisi merger and acquisition (MnA) terkemuka di dunia bisnis Amerika Serikat, meneleponku. Katanya, dia membutuhkanku di kampus. Baiklah. Mau tidak mau aku menurut. Columbia Law School adalah tujuanku sekarang. Aku langsung melambaikan tangan ke arah taksi, memberhentikannya, lantas naik ke kursi penumpang.

***

Agustus 2009

“Kalau kamu mau ke sana, Mama akan selalu usahakan, Thom. Mama bisa sendiri. Ga butuh Ayahmu. Kamu belajar saja. Ga usah mikirin uang. Soal biaya itu mudah.”

Sore ini, aku membantu Mama di dapur, mengupas bawang putih dan bawang merah, hal sepele yang anak 17 tahun bisa lakukan dalam dunia masak-memasak. Sedari tadi, Mama bercerita banyak sekali. Tentang Ayah, Nenek, Kakek, teman-temannya, hidupnya di Flores, serta kesukaannya terhadap buku. Melihatnya berkaca-kaca dan antusias, aku fokus menyimak.

Mama adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki. Maksud dari keluarga di sini merujuk kepada orang-orang yang berperan dalam hidupku. Tentu saja aku punya keluarga lain, tapi aku tidak menghitung mereka, termasuk Ayah.

Setelah kuliah, Ayah memboyong Mama dari Flores ke Jakarta. Mereka bertemu di Bandung saat kuliah. Karena menjadi teman sekelas, perasaan itu akhirnya muncul. Indah ujungnya, mereka menikah. Tapi, dua bulan yang lalu, Mama bercerai. Setelah 19 tahun hidup dengan Ayah, ia tak tahan lagi.

Ayah gemar main perempuan, pulang malam, mabuk-mabukan. Lupa kalau-kalau Mama selalu menunggu di rumah, khawatir setiap malamnya. Janji untuk berhenti melakukan semua hal itu setelah aku lahir diingkarinya. Pembohong.

Tentu saja kalau hanya menyoal uang, Mama akan bertahan. Ayah berasal dari keluarga berada, hidup enak sejak kecilnya. Tapi, Mama bukan perempuan matre bajingan. Uang bukan segalanya. Mama memilih bercerai. Demi aku. Demi hidupnya. Demi hatinya.

Akibat dari perceraian itu, kami hidup melarat sekarang. Secara ekonomi, keluarga kami ditopang oleh Ayah, seperti yang kubilang. Tanpa Ayah, Mama ngos-ngosan membayar ini-itu. Belum lagi, tahun depan Mama punya beban tambahan, aku masuk kuliah.

“Kamu tahu, Thom, Mama tidak punya siapa-siapa. Nenekmu meninggal dulu sekali ketika Mama SMP. Kakekmu memang laki-laki baik. Tapi, dia selalu keras kepada Mama, menuntut Mama ini-itu, menuntut Mama untuk tidak kuliah, menuntut Mama untuk patuh kepada adat. Keluarga Mama yang lain? Tentu ada. Sama seperti Kakekmu, mereka sangat patuh kepada adat, keras, dan tidak bisa dibantah. Belum lagi, mereka hobi ikut campur urusan satu sama lain.”

“Makanya, kelahiranmu adalah anugerah besar untuk Mama. Obat Mama.”

“Jadi, Thom, kamu ikuti saja dulu tes beasiswa itu. Mama sudah senang pemerintah mau mengirim banyak anak muda ke berbagai sekolah hukum top dunia lewat beasiswa. Walaupun tidak membiayai hidup sehari-hari dan hanya uang kuliah, ternyata ada andil baik untuk memperbaiki hukum dari para bedebah negara. Suatu kemajuan menurut Mama.”

***

Taksi berhenti di depan Hamilton Hall. Langkahku tergesa, jaketku belum sepenuhnya menutup tubuh. Angin Desember menusuk. Kulangkahkan kaki menaiki anak tangga, masuk ke lorong tempat ruang kantor Matt berada.

Pintu ruangannya sedikit terbuka. Dari celah itu, aku bisa melihat ia berdiri, menatap layar laptop dengan tangan disilangkan. Pria yang selalu berpakaian necis, dasi rapih, rambut disisir ke belakang, seolah-olah tidak pernah tidur.

“Thomas,” sapanya ketika melihatku masuk. “Thanks for coming. I need your brain.”

Aku tersenyum kecil. Bukan karena pujian, tapi karena Matt selalu punya cara mengajak kerja tanpa membuat seseorang merasa diperintah.

Ia memintaku duduk dan mulai menjelaskan tentang merger antara perusahaan bahan bakar terkemuka asal Malaysia dan perusahaan tambang lokal asal Negara Bagian Wyoming. Ia ingin aku menelaah struktur hukum lintas negara yang memungkinkan akuisisi ini berjalan tanpa melanggar Undang-Undang Antitrust. Katanya, ini bukan hanya proyek bisnis, tapi latihan strategis untukku. “You said you wanted to specialize in this kind of stuff, right?”

Aku mengangguk. Mencatat di kepala. Tapi pikiranku belum sepenuhnya menyatu, lelah, kurang tidur, belum sarapan. Lalu, tiba-tiba, ponselku bergetar. Satu kali. Dua kali. Kupandangi layar sejenak. Panggilan dari kode +62.

Kupotong pembicaraan Matt dengan suara pelan, “I’m sorry, can I take this call?”

Ia mengangguk

Aku berdiri, melangkah ke luar ruangan dan mengangkat telepon. Suara di seberang sana terdengar ragu-ragu.

“Thomas?”

“Iya.”

“Aku Vino, anak Mama Mira, tetangga dekat rumahmu. Maaf, Thom, aku harus memberitahumu. Mamamu meninggal.”

Hening.

Suara bising printer dari ruang sebelah. Suara sepatu menapak dari lorong panjang.

Semuanya seperti terbungkam. Ruangan ini terlalu terang untuk kabar segelap itu.

“Jam berapa?” tanyaku akhirnya.

“Tadi pagi. Thom. Tadi pagi. Ibuku memintaku masuk ke rumahmu karena Mamamu sudah tidak menyapu halaman selama tiga hari.”

Aku menelan ludah. “Mama dimakamkan kapan?” “Sebentar lagi.”

Aku menutup telepon tanpa berkata apa-apa lagi. Tangan kiriku gemetar, sementara tangan kananku mengepal.

Aku menunduk. Tidak menangis. Tapi rasanya seperti ada satu lubang tiba-tiba tercipta di dadaku. Menganga. Tidak ada yang bisa menutupnya.

Kembali ke ruangan Matt, aku mencoba bersikap biasa. Tapi tentu saja gagal.

“Is everything okay?” tanyanya. Aku tak menjawab. Aku duduk sejenak. “My mom just passed away.”

Matt menatapku lama. Ia berdiri perlahan. Kemudian berjalan ke arahku.

“I’m sorry to hear that, Thomas. I can arrange a flight for you. Today.”

Aku menggeleng. “Thank you. But I can’t accept that.”

“Thomas…”

“Please…I just need a few minutes.”

Aku berdiri, berjalan menuju jendela besar di ujung lorong. Dari sana, Manhattan terlihat jelas, bangunan menjulang, suara sirine samar, orang-orang yang tak pernah berhenti bergerak. Kota ini terlalu hidup. Tapi aku baru saja kehilangan satu-satunya alasan kenapa aku hidup.

Kuliahku belum selesai. Ah, sial.

Mama pasti tidak ingin aku pulang dalam keadaan begini. Bukan karena aku pengecut dan tidak tahu balas budi, tapi karena Mama selalu percaya aku bisa kuat. Ia ingin aku menyelesaikan apa yang kumulai. Terlebih, Mama pasti tidak ingin dikasihani.

Hari ini, di Manhattan, di kampus Columbia, di bawah langit yang abu-abu dan angin yang dingin, aku memutuskan bahwa aku tidak akan larut dalam duka. Aku tidak akan jatuh.

Aku akan lulus.

Untuk Mama.

(Visited 57 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Sosiologi angkatan 2023. Saat ini, sebagai anggota magang Divisi Marketing Komunikasi LPM Perspektif 2025.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?