MALANG, PERSPEKTIF – Malam di mes Pelalawan, Riau, datang dengan kelembapan yang merayap dari lantai semen tua, membawa serta aroma tanah basah dan kesunyian hutan industri. Bagi Tian (bukan nama sebenarnya, -red), mahasiswa Universitas Brawijaya, malam-malam itu terasa panjang. Di dalam kamar sempit yang ia bagi bersama seorang anak magang lain, di sebuah rumah yang juga dihuni keluarga karyawan lengkap dengan anak-anaknya, privasi adalah ilusi.
Ini adalah kisah kesaksian Tian, yang didokumentasikan melalui wawancara mendalam pada 28 Agustus 2025. Ia menjalani program magang di sebuah perusahaan industri kertas dan pulp di Riau dari Februari hingga Juni 2025. Sebuah periode yang seharusnya menjadi gerbang pengalaman profesional, namun justru membukakan matanya pada realita yang tak pernah ia duga, sebuah dunia di mana janji di atas kertas bisa menguap di lapangan, keselamatan terasa seperti keberuntungan, dan kehidupan manusia di sekelilingnya terikat dalam siklus yang sulit dipatahkan.
Kertas Kontrak dan Sepatu Safety hanya Fiktif Belaka
Semuanya berawal dari sebuah harapan besar. Magang di pabrik kertas sekaliber perusahaan raksasa adalah impian. Namun, jalan masuknya tidak semulus yang dibayangkan. Tian mengaku tidak ada kerja sama resmi antara perusahaannya dengan Universitas Brawijaya, informasi magang cenderung tertutup dan seringkali membutuhkan koneksi “orang dalam”.
Setelah berhasil masuk, secarik kertas kontrak disodorkan. Di dalamnya, tertulis jelas bahwa perusahaan tidak memberikan kompensasi finansial atau fasilitas makan. Tian memakluminya. Namun, ada satu klausul kecil yang memberinya sedikit kelegaan: janji bahwa perusahaan akan meminjamkan alat pelindung diri esensial, yaitu helm dan sepatu safety.
Kelegaan itu hanya seumur jagung. Pada sesi safety induction, seorang manajer mementahkan janji itu dengan enteng. “Disampaikan kembali oleh pihak managernya bahwa perusahaan tidak meminjamkan sepatu dan helm safety, jadi harus beli sendiri,” tutur Tian (28/8). Kalimat itu menjadi pertanda pertama. “Jadi pada saat tertulis ada, namun faktualnya tidak ada,” ucapnya. Sebuah pelajaran pahit tentang relativitas janji di dunia korporasi.
Di bawah bimbingan mentor lapangan, dan pengawasan jarak jauh dosen pembimbing universitas, hari-hari Tian diisi dengan ketidakpastian. Briefing dimulai pukul 6 pagi, diikuti sarapan, lalu berangkat ke lapangan hingga pukul 5 sore. Namun, ia tak pernah merasa memegang tanggung jawab yang sesungguhnya. Terkadang ia diminta berkeliling areal untuk survei, terkadang hanya diminta mengisi kekosongan kantor. “Misalnya kantor kosong, aku disuruh ke sana aja biar ga kosong,” kenangnya.
Perasaan terasing itu sejatinya dimulai dari fasilitas mes yang ditawarkan perusahaan. Bangunan tua seperti era 90-an tanpa renovasi, dengan dinding lembab, penuh laba-laba, dan lantai kotor, menjadi impresi pertamanya. Setelah mencoba bertahan selama tiga malam di kondisi yang ia anggap tidak layak itu, Tian menyerah. Sebagai mahasiswa asal Pekanbaru, ia mengambil keputusan nekat: pulang-pergi setiap hari. Keputusan itu menumbalkan waktu dan tenaganya untuk menempuh jarak 40 kilometer pulang-pergi, atau sekitar satu jam di perjalanan setiap harinya. Rute yang harus ia lalui bukanlah jalan aspal yang mulus, melainkan jalanan tanah di tengah sunyinya perkebunan akasia, tanpa sepeser-pun uang bensin dari perusahaan. Perjalanan sepi itu bahkan pernah memberinya sebuah kejutan yang tak akan terlupakan, ketika suatu hari ia menemukan jejak harimau yang masih basah pada jalur yang ia lewati.
Mosaik Pilu di Hutan Akasia: Kisah Hubungan Semusim dan Generasi yang Hilang
Di tengah pergulatannya sendiri, Tian menyadari bahwa penderitaannya hanyalah sepotong kecil dari sebuah mosaik kehidupan yang jauh lebih kompleks dan keras. Pada bulan Maret, sebuah desas-desus mengerikan beredar, yang kemudian dikonfirmasi langsung oleh mentornya. Akibat serangan harimau, seorang pekerja laki-laki berusia 50 tahun yang bertugas dalam perawatan atau weeding meninggal dunia. Korban mengalami luka cakaran di kepala bagian belakang, leher, serta paha atas kanan.
Malam itu, para petinggi perusahaan sibuk mendatangi lokasi kejadian. Namun, keesokan paginya, suasana kembali normal. Insiden itu seolah dianggap sebagai risiko pekerjaan yang tak terhindarkan. “Menurut mereka, karena di HTI (Hutan, tanaman, industri, –red), interaksi dengan hewan-hewan buas itu dikatakan hal wajar,” jelas Tian. Yang ada hanyalah penekanan ulang SOP keamanan di “zona merah” saat briefing pagi.
Kematian tragis itu tanpa sengaja menyingkap realita sosial para pekerja kontraktor. Korban, menurut cerita yang menjadi rahasia umum, tinggal bersama seorang perempuan yang merupakan “istri kedelapan” nya. Mereka tidak memiliki surat nikah. Tian mengamati, ini adalah pola yang jamak terjadi. Para pekerja kontraktor hidup nomaden, berpindah dari satu proyek ke proyek lain. Hubungan-hubungan sementara terjalin dan bubar seiring berakhirnya proyek.
Yang lebih memilukan adalah nasib anak-anak mereka. Tian sering melihat mereka bermain di sekitar kamp tanpa alas kaki, tanpa tujuan. Mereka tidak bersekolah, fasilitas pendidikan terdekat yaitu sebuah SD di komplek perusahaan hanya diperuntukkan bagi anak-anak karyawan tetap. Masa depan anak-anak kontraktor ini seolah sudah tergaris mengikuti jejak orang tua mereka menjadi buruh di hutan akasia.
Terjerembab dalam Kanal Keruh
Kepedihan Tian tak berakhir di situ, pertengahan bulan Mei 2025 menjadi hari paling sial bagi Tian. Saat itu ia sedang berada di areal penanaman. Untuk menyeberangi parit-parit yang membelah lahan gambut, para pekerja biasa menggunakan sebatang kayu sebagai jembatan darurat. Saat Tian melangkah naik, kayu itu tiba-tiba berputar. Keseimbangannya hilang. Dalam sekejap, ia terjerembap ke dalam air kanal yang keruh dan lututnya pun terbentur kayu.
Beberapa karyawan melihat kejadian itu, namun mentornya tidak ada di lokasi. Menganggapnya hanya insiden kecil, Tian melanjutkan pekerjaan. Namun, seminggu berlalu rasa sakit di kaki kanannya tak kunjung reda, malah semakin menjadi-jadi. Ia pun mendatangi klinik perusahaan. Beberapa kali kunjungan, obat yang diberikan tak membawa perubahan. Saat ia meminta fasilitas rontgen, permintaan itu ditolak. Alasannya, BPJS miliknya tidak terdaftar di faskes (fasilitas kesehatan, –red) perusahaan.
Menolak pasrah, Tian mengambil inisiatif. Ia pergi ke rumah sakit di luar kawasan perusahaan, membayar dari kantongnya sendiri untuk rontgen dan konsultasi dokter spesialis. Diagnosis awal menunjukkan kemungkinan robekan pada meniskus lututnya. Saat ia melaporkan kronologi dan kondisi cederanya kepada sang mentor dengan harapan mendapat bantuan, respons yang diterima begitu dingin. “Respons dia hanya memberi izin untuk aku ke kota untuk MRI (Magnetic Resonance Imaging, –red),” ungkap Tian. Tidak ada tawaran bantuan, apalagi penggantian biaya pengobatan yang mencapai ratusan ribu rupiah. Tian menanggung rasa sakit dan biayanya seorang diri.
Epilog: Sebuah Refleksi di Ujung Perjalanan
Empat bulan di Pelalawan terasa seperti selamanya. Fisik Tian terkuras oleh perjalanan harian yang melelahkan, sementara mentalnya tertekan oleh beban kerja dan rasa terasing. Namun, di antara semua pengalaman pahit itu, hal yang paling membekas adalah percakapan-percakapan jujur dengan para karyawan tetap, orang-orang yang telah bertahun-tahun mengabdi di sana.
“Mereka juga sebenarnya nggak suka kerja di bagian itu (Departemen Operasional atau Plantation, -red), dan tidak menyarankan bagi kami untuk kerja di situ,” kenang Tian.
“Alasan mereka sederhana, jam kerja-nya nggak ngotak, tidak sepadan dengan hasil yang didapat,” ungkap Tian
Sebuah ironi yang menyakitkan, ketika para senior di lapangan justru menasihati juniornya untuk mencari masa depan yang lebih baik di tempat lain.
Ketika ditanya apa yang seharusnya diubah, refleksi Tian terbagi dua. Untuk almamaternya, ia berharap ada perbaikan fundamental. “Dari prodi, perencanaan (magang, –red) itu harus jelas, rinci, dan terstruktur,” ujarnya. “Jangan sampai membebani mahasiswa, jangan sampai juga membingungkan perusahaan.”
Namun, untuk perusahaan, harapannya terdengar lebih pesimistis, diwarnai oleh realita yang ia saksikan. Ia bertanya-tanya apakah kondisi ini memang sudah menjadi “kodrat” industri perkebunan. Sebuah pertanyaan yang seolah diamini oleh para manajernya sendiri. Dalam obrolan santai, mereka menyebut bahwa apa yang ia alami juga terjadi di perusahaan lain di sektor yang sama. “Bahkan ada yang bilang sebenarnya manajemen di perusahaan ini lebih baik,” tutur Tian, mengulang apa yang ia dengar. “Di sana (perusahaan ternama yang lebih besar, -red), katanyamitu lebih parah. Malah katanya lebih baik di sini.”
Sebuah pernyataan paradoks yang alih-alih menghibur, justru melukiskan gambaran yang lebih suram ketika sebuah sistem industri yang mungkin telah menormalisasi kondisi kerja yang berat sebagai standar. Pengalaman Tian pun berakhir bukan hanya sebagai sebuah kesaksian personal, tetapi juga sebagai sebuah pertanyaan terbuka tentang tanggung jawab institusi baik kampus maupun korporasi dalam membentuk generasi profesional masa depan. Tian pun berharap pengalamannya menjadi yang terakhir dan tidak ada lagi adik tingkatnya yang magang di perusahaan tersebut.
(rnz)




