Don’t Look Up bukan sekadar film bertema bencana global; ia adalah satire sosial yang tajam dan menyakitkan. Dibuat oleh Adam McKay, film ini menyoroti betapa absurd dan disfungsionalnya cara dunia modern terutama media, pemerintah, dan korporasi besar, yang merespons krisis eksistensial yang mengancam keberlangsungan hidup manusia. Meski menggunakan ancaman komet sebagai metafora, film ini adalah kritik terhadap kegagalan dalam merespons krisis iklim, pandemi, dan kebohongan yang disebarluaskan oleh media.
Narasi film berpusat pada dua ilmuwan, Dr. Randall Mindy (Leonardo DiCaprio) dan mahasiswinya Kate Dibiasky (Jennifer Lawrence), yang menemukan bahwa sebuah komet besar akan menabrak bumi dalam waktu enam bulan. Misi mereka sederhana, yaitu memperingatkan dunia dan mendorong tindakan kolektif. Namun kenyataannya, mereka dihadapkan pada dinding tebal ketidakpedulian, eksploitasi politik, dan ketertarikan media terhadap sensasi dibanding substansi. Presiden Orlean (Meryl Streep), karakter yang mencampurkan elemen populisme, narsisme, dan oportunisme, menggambarkan betapa ringkih dan manipulatifnya pemimpin dalam menghadapi krisis, gambaran yang tidak asing dalam politik. Film ini tidak berupaya menyembunyikan sindiran. Justru, McKay dengan sengaja membungkus kritiknya dalam bentuk yang ekstrem, bahkan kadang terasa hiperbolis, untuk menggambarkan betapa keras kepala dan bebalnya peradaban kita dalam menghadapi ancaman nyata. Penyajian semacam ini memang memancing pro dan kontra. Bagi sebagian penonton, film ini menjadi alarm keras yang membangunkan kesadaran sosial, namun bagi yang lain, ia terasa menggurui dan kurang halus.
Dalam konteks Indonesia, Don’t Look Up memiliki resonansi yang signifikan. Kita bisa melihat refleksi dari film ini dalam berbagai krisis nasional, yaitu dari lambatnya respon terhadap bencana alam seperti banjir dan kebakaran hutan, minimnya keseriusan dalam menangani krisis iklim, hingga bagaimana pernyataan ilmiah kerap kali dikesampingkan demi kepentingan politik jangka pendek. Kita juga bisa melihat peran media dalam menyederhanakan bahkan menyepelekan masalah serius, serta bagaimana opini publik bisa dengan mudah dibelokkan oleh narasi-narasi populis yang didesain oleh elite politik atau influencer digital. Di era pasca-kebenaran (post-truth), Don’t Look Up menyorot bagaimana informasi bisa dimanipulasi, disebarkan secara selektif, dan bahkan dikomodifikasi. Hal ini sangat dekat dengan realitas media sosial di Indonesia, di mana berita palsu, konspirasi, dan disinformasi bisa tersebar dengan cepat dan membentuk opini publik, sering kali mengabaikan data dan kebenaran ilmiah.
Namun, film ini bukan tanpa kritik. Beberapa pengamat menyebut bahwa Don’t Look Up terlalu terang-terangan dalam menyampaikan pesan politiknya sehingga kehilangan kedalaman emosional. Terkadang, karakter terlalu hiperbolik dan alur cerita terasa seperti kompilasi sketsa ketimbang perkembangan naratif yang utuh. Meski begitu, kekurangan ini seakan sengaja sebagai bagian dari strategi menyentil dan mengguncang kesadaran penonton.
Don’t Look Up adalah film yang lebih penting daripada menyenangkan. Ia bukan tontonan santai, tapi sebuah cermin yang memantulkan absurditas peradaban kita dalam merespons ancaman global. Ia mengajak kita mempertanyakan mengapa kita gagal bertindak meskipun bukti sudah ada di depan mata? Apakah kita sudah terlalu terjebak dalam ego, kebodohan massal, dan kenyamanan semu hingga tidak mampu lagi mendengar kebenaran yang tidak menyenangkan? Dalam dunia yang dipenuhi noise dan distraksi, Don’t Look Up adalah teriakan keras yang sayangnya mungkin akan tetap tidak didengar. Tapi justru karena itulah, film ini layak ditonton, direnungkan, dan dibicarakan. Terutama di negeri seperti Indonesia, di mana tantangan lingkungan, sosial, dan politik menuntut kesadaran kolektif yang lebih serius dan mendalam.




