Lompat ke konten

Rambut Gondrong Itu Ekspresi Bebas, Bukan Bukti Malas!

Ilustrasi: Haidar
Oleh: Dzakwan Iqbal Ramadhan*

“Gondrong doang gak nyopet, gondrong doang ga kriminal, minimal mandi!”

Lelucon-lelucon tongkrongan seperti ini kerap dilontarkan kepada pria berambut panjang, yang meskipun memiliki tampang yang dianggap “sangar,” sering kali berhati lembut bak ibu peri. Tak hanya itu, pria berambut gondrong kerap menjadi sasaran stigma masyarakat sebagai sosok yang jarang mandi. Guyonan seperti ini, meskipun dianggap sepele, apakah pernah terpikirkan bagaimana perasaan mereka yang terus mendengarnya?

Memilih jalan untuk menjadi pria berambut gondrong bukanlah langkah untuk melabelkan diri sebagai sosok “sangar,” apalagi hanya demi menjadi abang-abangan kampus yang gemar “berdialektika” di tengah malam. Rambut gondrong kini semestinya tak lagi dianggap tabu, mengingat kita tak lagi hidup di era Orde Baru, yang memandang rambut gondrong sebagai simbol pembangkangan. Kini kita hidup di era kebebasan berekspresi, di mana setiap individu berhak menunjukkan jati dirinya.

Melacak Stigma Buruk Rambut Gondrong di Era Orde Baru

Stigma negatif tentang pria berambut gondrong tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan hal tersebut telah terkonstruk sejak kepemerintahan Presiden Soeharto. Pangkopkamtib Jenderal Soemitro, dalam siaran televisi TVRI tanggal 1 Oktober 1973 mengungkapkan jika rambut gondrong sebagai bentuk onverschillig—ketidakpatuhan atau acuh tak acuh. Pernyataan ini, didukung oleh dominasi pemerintah dan media, terlegitimasi dan menjadi sebuah metanarasi yang tertanam hingga kini.

Hasilnya, razia terhadap pemuda berambut gondrong pun dilakukan. Gunting rambut, meski kecil dan tak melukai tubuh, menjadi senjata yang ditakuti, terutama oleh siswa sekolah. Larangan ini bertujuan membendung pengaruh budaya Barat yang merajalela kala itu. Sebuah artikel ilmiah berjudul Rambut Gondrong di Semarang pada Tahun 1967-1973 menggambarkan bagaimana musik rock dan band seperti Led Zeppelin dan Deep Purple begitu digandrungi anak muda Semarang pada tahun 1970-an.

Ironisnya, di tengah berbagai masalah ekonomi dan politik, pemimpin kala itu justru sibuk mengatur hal kecil seperti panjang rambut. Sederhana namun signifikan, narasi ini bertahan lama, mengakar pada generasi berikutnya, dan menghambat kebebasan berekspresi anak muda.

Keresahan Personal Seorang Gondrong

Perjalanan menumbuhkan rambut panjang ini, bukanlah suatu hal yang sederhana kawan! Banyak tantangan yang menyertai para gondrongers agar tahan untuk tidak mencukur rambutnya, sebab ketidaknyamanan dalam menjalani aktifitas sehari-hari.

Sebut saja ketika di siang hari yang terik. Jika tidak dibantu dengan teknologi yang bernama “kunciran rambut” mungkin para gondrongers akan tersiksa karena rasa gerah yang menghantui, serta bau matahari yang menyelimuti rambut.

Tidak berhenti di situ, gondrongers juga harus berusaha ekstra dalam membilas rambutnya. Pasalnya, rambut yang panjang tidak cukup dalam satu kali tuangan sampo, hal tersebut juga menjadi keluhan teman-teman gondrong di sekitar saya. Maka dari itu, stigma bahwa orang yang memiliki rambut gondrong jarang mandi harus dipatahkan setelah melihat struggle mereka dalam merawat rambut.

Melihat keluh kesah mereka sebagai seseorang yang berambut gondrong, tersirat makna bahwa, orang yang berambut gondrong memiliki kesabaran. Bagaimana tidak, mereka harus bersabar menunggu rambutnya tumbuh, serta merasakan ketidaknyamanan karena rambutnya yang terkadang menutupi pandangan dan terkadang ikut masuk ke mulut ketika sedang menyantap makanan. 

Melihat Gondrong dari Perspektif Baru

Rambut gondrong sering kali dianggap tak sesuai dengan standar pria ideal—yang digambarkan sebagai sosok rapi, disiplin, dan terorganisir. Namun, apa hubungannya panjang rambut dengan kedisiplinan seseorang? Seolah-olah rambut pendek menjadi satu-satunya ukuran moralitas dan etos kerja.

Kita perlu melihat kebelakang dan memperluas penglihatan dalam berbagai dimensi profesi dan level kehidupan, bahwa terdapat pria berambut gondrong di dalamnya, sebut saja musisi, seniman, hingga akademisi. Mereka menunjukkan bahwa ekspresi diri tidak harus tunduk pada aturan kaku masyarakat.

Di era yang sudah modern ini, kita tidak perlu lagi memandang rambut gondrong sebagai hal yang buruk dan perlu dihakimi, sebab seiring perkembangan teknologi, cara berpikir manusia seharusnya juga mengalami perkembangan bukan malah pengdegredasian berpikir.

Kemajuan zaman juga diharapkan membuka ruang bagi orang-orang yang ingin menjadi dirinya sendiri tanpa harus takut dengan penilaian orang lain. Rambut gondrong juga menjadi salah satu bentuk ekspresi dari banyak hal lain yang ada di dalam masyarakat.

Jika kita terus melestarikan budaya memberi stigma negatif, kita hanya melanggengkan penilaian dangkal, alih-alih melihat kualitas sejati seseorang. Pria gondrong pun bisa menjadi pekerja keras, pengayom keluarga, atau sahabat yang setia.

Membuka Lembaran Baru terhadap si Gondrong

Menghapus stigma terhadap pria gondrong berarti membuka cara pandang kita dalam menilai seseorang. Setiap individu berhak atas kebebasan berekspresi, termasuk dalam memilih panjang rambutnya. Tidak ada yang salah dengan menjadi gondrong, sama halnya bahwa tidak ada yang salah dengan memotong rambut sangat pendek atau bahkan mencukur habis rambut di kepala.

Pada akhirnya, stigma ini bukan semata soal rambut, melainkan kebiasaan masyarakat menilai sesuatu hanya dari luarnya. Mengapa kita tak mulai menghargai seseorang dari tindakan, pemikiran, atau kontribusinya? Mari kita hentikan kebiasaan melabeli, khususnya terhadap pria gondrong.

Jika rambut adalah mahkota, maka izinkanlah setiap orang memilih bagaimana cara terbaik untuk memakainya. Karena pada akhirnya, rambut gondrong bukan tentang tampilan luar, melainkan tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri.

(Visited 343 times, 1 visits today)
*) Penulis merupakan mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya tahun 2023.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts

Apa yang kamu cari?