sastra mahasiswa

Sejak lahir, kita diajar untuk berbicara. Semua vokal, konsonan, rupa-rupa suara yang berputar-putar di kepala. Lambat laun, seiring kita dewasa, dunia mendadak jadi bising sekali. Pesan-pesan punya bunyi, alarm menjerit, telepon menuntut, dan segala hal lain yang membuat hidup seakan-akan adalah beban dan waktu adalah hantu yang bersembunyi di pojok kamar, siap menghantuimu sewaktu-waktu. Tetiba saja kita rindu menjadi kecil lagi, atau jadi tua sekalian, menepi sebentar di garis spektrum usia. Kita rindu kesunyian, peristirahatan, ketenangan. Sesuatu yang mengingatkan kita mengapa segalanya jadi penting bagi diri: apa yang esensial, apa yang hanya penunjang. Mencari makna. Hari ini kita akan menepi sebentar, memungut reda dari apa yang tersisa. Yang penting, kita bisa menghargai lagi ketenangan itu, membiarkan alam bercerita tanpa harus menyela. Mendengarkan hal-hal yang tak pernah kita dengar, tapi mengingat- kan lagi mengapa hidup adalah anugerah yang selalu cukup.
Minggu, 25 April 2021
Di pertengahan film The Hobbit: An Unexpected Journey (2012), Bilbo Baggins yang diperankan oleh Martin Freeman sedang mengendap-endap menuju mulut gua tempat para kurcaci menginap. Petualangan yang telah ia lalui bersama para kurcaci telah membawanya pada kesimpulan bahwa ia tidak cocok hidup seperti mereka. Sudah se- pantasnya seorang hobbit hanya tinggal di liang dan mengisap pipa kayu di pagi yang cerah. Karena itu, Bilbo memutuskan keluar dari rombongan dan kembali ke Rivendell, tempat para peri, untuk hidup yang damai dan penuh sukacita. Tolkien mungkin bukan tanpa alasan memilih seorang hobbit sebagai tokoh utama. Buku The Hobbit ditulisnya bukan untuk menceritakan petualangan para kurcaci dari sudut pandang mereka, tapi dari hobbit. Bilbo—sebagaimana hobbit lainnya—penuh dengan keraguan dan ketakutan untuk meninggalkan liangnya yang nyaman. Karena itulah tokoh Bilbo terasa dekat. Ketakutan adalah sesuatu yang alamiah, apalagi jika kita tak terbiasa. Namun bukan berarti selamanya bersembunyi adalah jawaban. Melalui sastra, ketakutan dapat diejawantahkan; menjadikannya sesuatu yang dapat kita raba. Perlahan-lahan berusaha mengenalnya, lalu merangkulnya, dan pada titik tertentu, memberikan pandangan yang baru. Mungkin, jika bisa diringkas, kutipan novel Cala Ibi karya Nukila Amal ini dapat menjelaskan semuanya: “Tak usah takut, nyalakan saja lampu, ia bicara, segala sesuatu tampak lebih jelas dalam cahaya.”
Senin, 15 Maret 2021
2020, barangkali jadi tahun paling lelah di antara tahun-tahun sebelumnya. Matahari dan bulan bergulir serupa tapi tak pernah sama. Sejak kedatangan sebuah pandemi di hulu tahun, semua makhluk berbondong-bondong mencari jalan keselamatan. Pada perjalanannya, penat adalah realita yang menyeringai saat berkaca, secara fisik dan mental. Jangankan untuk dilakukan, memikirkan bahwa kita tak bisa lagi berpelukan bebas seperti hari kemarin saja sudah melelahkan. Jari-jari yang dahulu bebas menyentuh kasar lembut dunia terpaksa menahan gejolaknya. Paradoks, ketika tahun ini terasa bergulir cepat tapi sekaligus berjalan lambat. Tak lain adalah karena kepastian tak kunjung menjelang. Entah untuk berapa lama lagi tapi manusia dan semestanya mesti bertahan. Memaksa hidup untuk berjalan meski kenyataan tak jarang membuat harus tertatih. Rehat, itulah kata yang bisa kami haturkan di antara guliran penat. Jelang pergantian tahun, rasanya boleh sejenak kita ambil langkah istirahat. Melihat betapa jauhnya berjalan, sepanjang tahun ini, Kami, manusia-manusia yang penat kepada manusia penat lainnya, menghaturkan Buletin Prasasti bertema Rehat. Ambil langkah tak harus selalu berjalan, rehatlah!

Terbaru

Iklan

E-Paper

Popular Posts